
"Apa... yang bisa kubantuin lagi?"
Dalam hati Bambang Perwira sangat menderita. Adiwangsa Suprapto telah mengorbankan terlalu banyak kepada Negara Naga. Hanya untuk perang dengan negara musuh hingga mereka menyerah saja, sudah menyelamatkan begitu banyak nyawa orang. Namun, pilar pelindung negara yang sebaik ini, malah tidak berakhir dengan pantas.
“Satu-satunya yang bisa kamu bantu hanyalah."
Adiwangsa berkata dengan tenang: "Mulai saat ini, kamu dan aku, jangan saling menghubungi lagi. Jika tidak, jabatan kamu sebagai Inspektur Lembaga Pengawasan Naga Emas akan terancam, dan ini juga akan semakin mendorongku ke tepi jurang. Aku, Adiwangsa Suprapto, tidak pernah bersalah kepada Negara Naga. Selama sisa hidup, aku juga akan tinggal di Kota Pantol dengan patuh sambil melindungi keluarga yang di sisiku. Ini utangku kepada adikku."
Saat mengatakan kalimat ini, Adiwangsa seperti mengingat wajah seorang gadis yang menangis lagi. Gadis yang menutupi diri dengan selimut dan melihatnya dengan tatapan tanpa daya. Ini sungguh membuat Adiwangsa merasa sakit hati lagi.
"Jaga diri."
Setelah mengeluarkan kedua kata ini dengan berat hati, Bambang pun memutuskan telepon. Dia tentu saja mengerti penyataan Adiwangsa itu sangat benar.
Di dalam kamar pasien, Adiwangsa menutup teleponnya, lalu melihat lagi video yang hanya belasan detik.
Lagu pertempuran bergema memenuhi seluruh Perbatasan Selatan. Pasang surut selama 6 tahun, tahun-tahun penting bersama tembakan meriam, telah berakhir. Adiwangsa seperti telah melihat lagi medan perang yang bertempur di bawah tanduk serangan, musik yang dimainkan dengan darah dan api, dan wajah yang jujur dan hangat dengan senyuman.
Selamat tinggal, teman-teman seperjuangan.
Selamat tinggal, perbatasan selatan.
Niawangsa tidak tahu kapan baru akan sadar kembali. Seluruh kamar pasien sangat sunyi dan Adiwangsa pun ditarik ke dalam kenangannya. Air mata mengalir dari sudut matanya sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat, suara bel di pintu menariknya kembali ke dunia nyata.
Perawat datang untuk mengganti obat Niawangsa. Saat Adiwangsa hendak pergi, dia melirik ke tempat tidur pasien di sebelah yang sudah kosong. Itu tempat tidur yang sebelumnya dibaring oleh Mustofa Suprapto. Setelah linglung sejenak, Adiwangsa pun menghela napas dan berjalan ke luar kamar pasien. Di koridor, dia melirik sekitar dengan santai.
Koridor rumah sakit sangat ramai dan orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh.
Seorang pemuda yang sepertinya sedang bermain game di ponselnya, namun sebenarnya terus melirik dirinya dari sudut matanya. Dari kapalan di telapak tangannya, Adiwangsa bisa tahu dia ini seorang tentara, harusnya adalah anggota pasukan pelindung Kota Pantol, mungkin adalah orang yang diutus oleh Dustin Armando untuk melindunginya secara diam-diam, sekalian mengawasinya juga.
__ADS_1
Adiwangsa mengerti Dustin yang duduk di posisi itu pasti harus mempertimbangkan banyak hal. Jadi, jika dipikir-pikir, dia juga termasuk Gubernur yang baik, bukan sampah tak berguna.
Di sisi lain, ada lagi seorang wanita tua yang sedang mengepel. Dia jelas terlihat sangat tidak profesional. Tatapannya juga sedikit menghindar, tidak tahu juga ini mata-mata utusan siapa.
Adiwangsa tiba-tiba menjadi khawatir dengan Mustofa. Lalu, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi suatu nomor.
Tak lama kemudian, telepon terhubung dan terdengar suara seseorang yang penuh semangat dan sangat segan, "Komandan Adiwangsa, apakah ini Anda?"
Adiwangsa menjawab dengan tenang: "Aku bukan Komandan Adiwangsa lagi."
"Aku..."
Yang di ujung telepon adalah Senior Terry Mohammad dari Aliansi Skythorn.
"Komandan Adiwangsa, ini terlalu tidak adil!", teriak Terry Mohammad.
Adiwangsa tersenyum.
Setiap orang yang mengetahui pengorbanannya terhadap Perbatasan Selatan pasti akan merasa tidak adil untuk dirinya yang kehilangan segalanya.
Lalu, kenapa?
Bagi Adiwangsa, kini yang terpenting itu adiknya. Dia bahkan dari awal sudah berencana untuk mengundurkan diri dan kembali ke rumah setelah perang di Perbatasan Selatan berakhir dan negara musuh menyerah.
Meskipun prosesnya berbeda, namun hasilnya tetap sama. Satu-satunya yang membuat Adiwangsa marah hanyalah penderitaan yang dialami adiknya dan adiknya sampai saat ini masih belum siuman.
"Bantu aku satu hal." Adiwangsa berkata.
"Komandan Adiwangsa... Tuan Adiwangsa, katakan saja." Terry segera mengubah panggilannya.
Adiwangsa bukan Komandan Perbatasan Selatan lagi, tapi di dalam hati orang-orang yang pernah bertempur bersamanya di Perbatasan Selatan dan yang pernah menerima budi baiknya, Adiwangsa tetaplah Komandan Perbatasan Selatan yang bisa menyelamatkan manusia dengan mudah dan membantai habis musuh dengan gesit!
__ADS_1
"Bantu aku lacak keberadaan ayahku, Mustofa Suprapto, selain itu..."
Tatapan Adiwangsa tampak dingin: "Selidiki alasan kematian ibuku. Nama ibuku Vian Pradipta."
"Tenang saja, tak lama kemudian akan ada hasil."
Nada suara Terry terdengar hormat, tapi juga sedikit rasa bangga.
"Aliansi Skythorn" adalah organisasi pembunuh terbesar di dunia, merupakan pilihan nomor satu para petinggi dunia mafia, tapi mereka memiliki dasar prinsip.
Pada saat yang sama, mereka juga memiliki sistem intelijen yang tidak kalah dengan sistem intelijen Perbatasan Selatan. Perbedaannya adalah, sistem intelijen Aliansi Skythorn mencakup seluruh dunia, sedangkan sistem intelijen Perbatasan Selatan tidak dapat menyentuh negara dan hanya menyebar ke seluruh dunia yang melibatkan urusan militer.
Setelah menutup telepon, Terry segera meluncurkan perintah sebagai senior Aliansi.
Sistem intelijen seluruh wilayah barat daya langsung menyampingkan semua pekerjaan pengumpulan informasi lainnya untuk sementara, dan berusaha sepenuh tenaga untuk melacak keberadaan Mustofa dan semua informasi yang relevan tentang seorang wanita bernama Vian Pradipta.
Hanya 10 menit.
Sebelum perawat selesai mengganti obat Niawangsa, ponsel Adiwangsa telah berdering lagi.
Terry memegang data yang di tangannya dengan ekspresi tampak pucat.
"Tuan Adiwangsa..."
"Katakan."
"Anda harusnya sudah kenal dengan Permata Zaky dan Delvin Zaky, ibu dan anak itu. Kecelakaan ibu anda, itu ulah Permata Zaky. Adik anda juga karena telah menyelidiki hal ini dan menemukan sedikit petunjuk, baru diserang oleh Permata Zaky dengan bantuan putrinya Triple Fazura, si Eka Fazura... selain itu, kejadian yang terjadi pada Anda di 6 tahun lalu juga mahakarya Permata Zaky. Ayah anda..."
Krak! Krak! Krak!
Adiwangsa mendengarnya dengan wajah tampak tenang, tetapi pegangan kursi besi yang digenggam oleh tangan kanannya malah mengeluarkan suara hancur dan tidak tahan tekanannya.
__ADS_1