Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 32 Selamatkan!


__ADS_3

Aliansi Bisnis Toron?


Adiwangsa Suprapto tahu Aliansi Bisnis Toron adalah organisasi bisnis besar yang mengendalikan sumber ekonomi di banyak wilayah, merupakan kumpulan para pengusaha besar yang sangat berkuasa. Perang di Perbatasan Selatan selama 10 tahun juga telah banyak menerima bantuan sumber daya dari Aliansi Bisnis Toron. Semua anggota Aliansi Bisnis Toron adalah tokoh-tokoh hebat yang berkuasa. Roni Claudio, orang terkaya di barat daya juga salah satu anggotanya.


Adiwangsa tidak menyangka Aliansi Skythorn yang berkuasa di dunia pembunuh juga menjulurkan tangannya ke Aliansi Bisnis Toron. Namun, kemudian dia pun paham, di mana ada keuntungan, di mana pula konflik berada.


"Kamu tahu identitasku?", tanya Adiwangsa.


Jeje Joyce menjawab denga sopan: "Jika Anda ingin saya tahu, maka saya akan tahu. Jika Anda tidak ingin, maka saya tidak tahu."


Wanita ini juga orang yang pintar. Jawaban yang sama sekali tidak bisa disalahkan, namun tetap terdengar sangat nyaman. Apalagi, ini diucapkan oleh seorang wanita yang begitu cantik. Benar-benar sangat menggoda!


Namun, Adiwangsa sama sekali tidak mempedulikannya. Tidak ada yang perlu dia sembunyikan, baik masa lalunya yang sebagai Tuan Muda sampah keluarga Suprapto atau sebagai Komandan di Perbatasan Selatan.


Namun, Adiwangsa tetap diam saja. Jeje pun tidak menanyakannya lagi.


Mobil berjalan secara perlahan dalam suasana yang tenang.


Tiba-tiba, Adiwangsa berteriak: "Berhenti!"


Ciiiittt...


Mobil mewah yang kecepatannya tidak terlalu tinggi, segera berhenti. Mobil ketiga yang di belakang juga berhenti dalam waktu 2 detik. Mobil pertama yang di depan juga berhenti dalam waktu 3 detik setelah melihat ke kaca spion ternyata mobil di belakang sudah tidak mengikutinya.


"Tuan Adiwangsa?", tanya Jeje dengan heran.


Adiwangsa tampak serius, lalu segera membuka pintu mobil dan turun.

__ADS_1


Jeje terkejut dan mengira Adiwangsa marah dengannya. Dia segera mengambil payung dan turun dari pintu satu lagi, lalu bergegas ke sisi Adiwangsa. Pada saat yang sama, kedua pria berjas hitam yang di mobil pertama dan keempat pria berjas hitam yang di mobil ketiga pun segera menyusul.


Dalam seketika, Adiwangsa berhenti.


"Tuan Adiwangsa, saya..."


Saat hendak mengatakan sesuatu, Jeje malah berhenti. Matanya melihat ke depan. Lalu, dia melihat seseorang yang memegang payung di bawah hujan deras sedang memaki-maki tanpa henti. Ada lagi, empat orang yang lain sedang mengepungi seorang nenek tua dan memukulnya.


Adiwangsa dapat melihat dengan jelas, itu adalah nenek tua. Pakaiannya sudah basah kuyup karena hujan. Tubuhnya meringkuk karena dipukuli empat pria muda. Selain itu, nenek tua juga masih memeluk seorang gadis kecil yang sepertinya berusia 5-6 tahun. Tangisan gadis kecil itu sangat keras. Bahkan suara hujan deras yang besar pun tidak bisa menutupinya!


Adiwangsa kenal nenek tua dan gadis kecil itu. Dia pernah bertemu dengan mereka di depan pintu Rumah Sakit No. 1 Kota Pantol. Nenek tua hampir saja meninggal dan gadis kecil itu bernama Anna.


Tatapan Adiwangsa tampak sangat dingin. Bahkan saat Mustofa dihina pun, dia tidak semarah ini.


Empat pria muda yang kuat mengeroyok seorang nenek tua dan seorang gadis kecil di tengah hujan lebat!  Teganya mereka?!!


Jeje juga melihatnya. Tanpa harus melihat wajah Adiwangsa, Jeje sudah bisa merasakan kemarahannya. Lalu, dia segera berkata: "Selamatkan mereka!"


"Ahhhhhh..."


Jeritan kesakitan yang menusuk bergema di tengah hujan lebat. Selain orang yang memegang payung masih berdiri dengan diam, keempat pria kuat yang mengeroyok nenek tua telah terjatuh ke tanah.


"Nenek! Nenek! Huhuhu... Nenek!"


Adiwangsa berjongkok di sisi nenek tua. Suara tangisan Anna semakin keras dan menyayat hati. Nenek tua sudah kehilangan kesadaran, tapi dia tetap melindungi Anna dengan sepenuh tenaga dan tidak membiarkannya disakiti!


"Paman!"

__ADS_1


Anna yang sedang menangis tetap bisa mengenali Adiwangsa. Air yang di wajahnya sudah tidak bisa dibedakan entah itu air mata atau air hujan. Lalu, dia menangis dengan keras: "Paman, selamatkan nenek!"


"Anna anak manis. Paman pasti akan menyelamatkan nenek."


Adiwangsa memeriksa denyut nadinya, lalu ekspresinya menjadi sangat serius. Dia segera mengeluarkan jarum peraknya tanpa ragu-ragu. Sedangkan Jeje yang memegang payung untuknya, wajahnya tampak terkejut.


Dengan kekuatan Aliansi Bisnis Toron, dokter yang mereka miliki tentu saja sangat banyak, baik itu dokter barat atau dokter tradisional Tiongkok.


Jeje ini juga orang yang berwawasan dan pernah bertemu banyak dokter genius. Bahkan dokter genius Malik Qais yang dianugerahi Lencana Naga Emas juga pernah dia temui, meskipun hanya dari kejauhan. Jadi, dia tahu Adiwangsa ingin menyelamatkan orang dengan pengobatan tradisional, yaitu akunpuntur. Lalu, dia mengingat kembali data Aliansi Bisnis Toron di dalam pikirannya dengan sangat penasaran.


Tuan Muda Sampah yang bahkan dibenci ayahnya sendiri, selain memiliki aura yang mencengangkan dan mendominasi, ternyata juga memiliki keterampilan medis!


"Apa yang kalian lakukan?"


Orang yang terjatuh ke tanah masih menjerit dengan menyedihkan. Sedangkan pria muda yang memegang payung, juga sudah dikepung oleh keenam pria berjas hitam. Dia berteriak dengan sombong: "Bos Waris itu pamanku! Kalian berani menyinggungku? Percaya atau tidak aku akan membuat kalian tidak bisa bertahan hidup lagi di Kota Pantol?"


Jeje menjelingkan matanya.


Idiot yang tidak pantas dirinya tanggapi.


Karena itulah, Jeje hanya diam dan terus memegangkan payung untuk Adiwangsa, nenek tua, dan Anna tanpa memedulikan roknya yang sudah basah dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang anggun.


Keenam pria berjas hitam juga diam saja dan tidak bergerak sama sekali.


"Jawab woi! Tuli, ya! Waris itu pamanku!"


Anak muda masih berteriak dengan sombong, tetapi lambat laun suaranya menjadi lebih kecil. Dia ini memang dungu, tapi masih bisa merasakan kengerian tatapan keenam orang itu. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi Waris. Namun, sebelum dia berhasil menghubungi Waris, tiba-tiba ada sebuah pisau yang terletak di lehernya.

__ADS_1


Dia terkejut sampai ponselnya terjatuh. Wajahnya juga menangis dengan ketakutan dan tidak berani bergerak. Kedua kakinya pun melemas.


Dia benar-benar panik! Lalu, berkata dengan pelan: "Wa... waris ini pamanku... benaran..."


__ADS_2