
Di bawah terik matahari, aura keganasan melonjak.
Tujuh ratusan orang ini, semuanya adalah anggota inti Triple Gate. Selain itu, ada lebih banyak lagi anggota periferal, semua orang-orang tidak penting dan tidak pantas muncul di sini.
Triple Fazura tidak memasuki Hotel Grand Masa secara langsung, namun dia malah menyalakan cerutu dan berkata dengan dingin. “Suruh Adiwangsa Suprapto itu serahkan anakku sekarang! Aku bisa membiarkannya mati dengan lebih nyaman.”
“Baik.”
Pria kekar dengan sarung tangan di sebelahnya melangkah maju.
Brak!
Namun, pada saat ini juga, seseorang terjun dari jendela lantai 5 hotel dan jatuh ke tanah dengan keadaan berlumuran darah.
Semua orang yang melihat ini terkejut.
Selain masih ada bentuk tubuh yang utuh, orang ini tiada bedanya dengan sepotong daging busuk.
“Tidak!”
Triple Fazura menatap sosok yang tergeletak di tanah dan berteriak dengan gila.
Dari pakaiannya, Triple bisa mengenali itu adalah putrinya, Eka Fazura!
Kepalanya seperti baru saja dihantam oleh sebuah palu besar. Matanya menjadi gelap. Kemarahan yang ingin menghancurkan dunia melonjak dari hati. Mata Triple menjadi merah total.
“Kini kau sudah merasakan kemarahanku, ‘kan?”
Suara acuh tak acuh terdengar.
Di depan Triple Fazura, muncul dua sosok. Seorang pria dan seorang wanita yang mengenakan seragam militer dengan postur tegak seperti pilar langit!
“Adiwangsa! Suprapto!”
Triple melototi Adiwangsa dan berteriak dengan keras: “Beraninya kau!”
Detik berikutnya, orang Triple Gate bergegas masuk untuk mengepung Adiwangsa dan Rias Anggun.
Dalam kegelapan, Gubernur Kota Pantol, Dustin Armando, terkejut dan hendak memberi perintah, tapi Bambang Perwira malah menahan bahunya.
“Tidak perlu kita. Komandan Adiwangsa akan membalas dendam pribadinya sendiri.”
Dustin menelan seteguk ludah dan mengangguk.
“Sejak anakmu menyentuh adikku, semua ini sudah ditakdirkan.”
Adiwangsa dan Rias yang telah dikepung sekelompok preman masih tampak tenang.
Dulu di medan perang Perbatasan Selatan, mereka juga pernah dikepung puluhan ribu pasukan negara musuh. Jika dibanding Triple Gate sekarang, ini semua hanyalah semut kecil!
“Aku tidak peduli!”
Triple memekik: “Di Kota Pantol ini tiada seorang pun yang berani menyentuh anakku! Kau, juga tidak pantas! Katakan orang di belakangmu! Aku bisa biarkan kau mati lebih nyaman! Kalau tidak, kau akan dicincang untuk diberi makan anjing!”
Adiwangsa tersenyum, tapi senyumannya tampak sedikit sedih.
“Dulu, aku kira di belakangku ada jutaan pasukan, miliaran penduduk, dan seluruh Negara Naga! Namun, kini belakangku sudah tiada siapa pun, hanya aku seorang.”
“Tidak!”
Rias tiba-tiba berlutut dengan satu kaki ke arah Adiwangsa. “Rias akan mengikuti Anda selamanya!”
__ADS_1
Adiwangsa bergeleng. “Aku bukan Komandan Perbatasan Selatan lagi, tapi kamu, harus tetap menjadi salah satu anggota 12 Jenderal Pasukan Kematian. Perbatasan Selatan butuh kamu.”
Rias tampak sedih. “Komandan Adiwangsa!”
Broom!
Tiba-tiba, terdengar suara gelegar yang keras.
Pandangan semua orang tertuju ke sebuah mobil tank tempur.
Saat berikutnya, pintu mobil tank terbuka, satu per satu orang yang berseragam militer melangkah keluar, total 12 orang.
Pandangan Adiwangsa sedikit kecewa.
Plak!
Kedua belas orang itu menatap ke arah Adiwangsa dengan antusias dan rumit, lalu semuanya berlutut dengan satu kaki.
“Penasihat terhebat Perbatasan Selatan, hormat kepada Komandan Adiwangsa!”
“Dua Belas Jenderal Pasukan Kematian Perbatasan Selatan, Ari Ghazi, hormat kepada Komandan Adiwangsa!”
“Dua Belas Jenderal Pasukan Kematian Perbatasan Selatan, Haikal Mad, hormat kepada Komandan Adiwangsa!”
“Dua Belas Jenderal Pasukan Kematian... Derek Eliot, hormat kepada Komandan Adiwangsa!”
“Erik Ilham, hormat kepada Komandan Adiwangsa!”
“...”
Tatapan Adiwangsa tampak tegas. “Siapa yang menyuruh kalian datang?”
Adiwangsa menunjuk ke arah Perbatasan Selatan dengan jarinya dan berteriak. “Pulang!”
“Komandan Adiwangsa! Saya yang memberitahu informasi ini ke Perbatasan Selatan.” Rias berkata.
Adiwangsa berkata dengan ekspresi sangat tegas. “Setelah kembali ke perbatasan, terima hukuman militer!”
“Saya bersedia dihukum!”
“Hahahaha... hahahaha...”
Triple tertawa terbahak-bahak dan melihat Adiwangsa dengan tatapan seolah-olah sedang melihat sampah.
“Sampah, beraninya kau berakting di depanku? Komandan Perbatasan Selatan?! Kalau kau ini Komandan Perbatasan Selatan, maka aku ini presiden negara!”
“Lancang!”
Bambang Perwira melangkah maju dan menatap Triple Fazura seperti menatap mayat. “Beraninya kau menghina Bapak Presiden! Kau memang pantas mati!”
Triple memandang Bambang dengan ganas. “Kau siapa lagi? Orang penting?”
“Ketua Inspektur Lembaga Pengawasan Naga Emas, Bambang Perwira.”
“Hahahaha...”
Triple tertawa lebih keras lagi. Dia bahkan bertepuk tangan.
“Asyik! Sungguh asyik! Kalian para sampah sudah begini pun masih berani berakting di depanku? Kalian kira aku, Triple Fazura, akan ketakutan?”
Begitu selesai berkata, Triple mengangkat tangan kanannya dan berteriak: “Triple Gate!”
__ADS_1
“Ya!”
Tujuh ratusan orang Triple Gate merespons secara serempak.
“Hari ini, jangankan kalian yang palsu, kalaupun Komandan Perbatasan Selatan yang sebenarnya datang! Orang yang berani membunuh anakku juga harus mati! Semuanya... bunuh!”
“Bunuh! Bunuh! Bunuh!”
Dalam seketika, aura keganasan meroket.
Niat membunuh Ari Ghazi melonjak. Dia segera berkata: “Mohon beri perintah, Komandan Adiwangsa!”
Adiwangsa melambaikan tangan dengan pandangan haus darah. “Jangan sisakan satu pun!”
Triple berteriak: “Kalian sungguh profesional untuk akting! Triple Gate, bunuh mereka semua dan sisakan Adiwangsa! Aku mau memotong dagingnya dan menghancurkan tulangnya sedikit demi sedikit!”
“Bunuh!”
Saat orang Triple Gate mengangkat senjata di tangannya, Dua Belas Jenderal Perbatasan Selatan bergerak! Mereka yang hanya dengan tangan kosong tampak ganas dan tidak berbelas kasih! Mereka adalah orang-orang kejam yang naik selangkah demi selangkah ke posisi sekarang. Bagaimana mungkin preman jalanan bisa mengerti kehebatan mereka?
Semua teknik bertarung mereka adalah teknik membunuh! Mereka hanya mengandalkan tubuh tanpa ada gaya tambahan yang tidak diperlukan. Satu pukulan, satu tendangan yang cepat, akurat, dan kejam pasti mematikan!
Bagi orang biasa, Triple Gate itu kumpulan harimau. Namun, di depan 12 Jenderal Pasukan Kematian, Triple Gate hanyalah domba lemah!
Serigala yang memasuki kawanan domba, bagai durian yang menimpa mentimun!
Sama seperti Adiwangsa, Bambang hanya menyaksikan orang-orang Triple Gate jatuh ke tanah dan mati dengan tenang. Dia sudah berada di Perbatasan Selatan sangat lama dan tahu jelas dengan trik 12 jenderal perbatasan selatan.
Sedangkan, para prajurit pertahanan kota yang di area darurat militer dan Gubernur Kota Pantol, Dustin Armando, yang di kegelapan, mereka semua tercengang dan gemetaran.
Awalnya ini akan menjadi kejadian pembunuhan yang tragis, namun malah dimainkan oleh orang-orang ini menjadi tindakan seni yang seru. Dua belas jenderal perbatasan selatan! Membantai 700-an orang seperti hanya membalikkan tangannya!
Triple yang awalnya tampak kejam dan berpikir akan membunuh aktor-aktor idiot ini dalam sekejap, menunggu Adiwangsa menangis dan memohon pengampunannya sambil bersujud. Sedangkan dirinya, dia akan mencincangnya, memotong kepalanya dan menggantungnya di luar gedung tinggi. Dia ingin memberitahu semua orang setragis apa akibat memprovokasi Triple Fazura!
Hanya saja, kini ekspresinya yang kejam berubah menjadi panik!
Bagaimana bisa?!!
Orang-orang yang mengikutinya ini adalah petarung tangguh yang menang sekali demi sekali hingga menjadi anggota inti Triple Gate. Namun, di depan 12 orang ini, mereka semua malah seperti anak ayam yang sangat mudah dibunuh! Setiap detik selalu ada anggota Triple Gate yang tenggorokannya diremuk! Sungguh mengerikan!
Triple mulai panik. Dia melihat ke arah Adiwangsa yang berdiri diam tanpa ekspresi di wajahnya. Dia mengulurkan tangannya ke dalam dadanya dan mengeluarkan senjata!
Triple bergegas melangkah maju, mengarahkan pistol ke arah Adiwangsa dan berteriak: “Hentikan!”
Dalam sekejap, pertarungan sengit berhenti. Orang-orang Triple Gate sangat ketakutan dan buru-buru melangkah mundur dengan kaki yang sudah melemas. Sedangkan 12 jenderal perbatasan selatan, aura membunuh mereka semakin menguat dan tampak seperti singa liar.
Rias berteriak: “Lancang!”
“Hahaha... haha...”
Triple tertawa sombong dan berteriak dengan keras. “Memangnya kenapa kalau kalian sangat hebat bertarung? Bisakah kalian lebih cepat dari peluru? Menyerahlah dengan patuh! Aku akan membiarkan kalian mati dengan mayat utuh!”
“Triple Fazura!”
Dustin buru-buru berlari keluar. Wajahnya penuh dengan keringat dingin.
Triple melihat ke arah Dustin dan matanya tiba-tiba melebar. “Pak Dustin, kenapa bisa ada di sini?”
“Lancang! Beraninya kamu mengarahkan pistol ke arah Komandan Perbatasan Selatan? Cepat turunkan!” Dustin berteriak dengan penuh emosi.
Tangan Triple yang memegang pistol bergetar. Matanya melebar dan melihat ke arah Adiwangsa yang masih sangat tenang, lalu berkata: “Kamu... sungguh... Komandan Perbatasan Selatan?”
__ADS_1