Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 29


__ADS_3

"Hahaha!"


Waris tertawa seperti baru saja mendengar lelucon terlucu, lalu tatapannya menjadi sangat dingin: "Kamu sedang mengajariku? Sampah! Kamu yang 6 tahun lalu pergi dengan sangat malang, begitu pulang dengan pakaian tentara, langsung mau berlagak di depanku?“


Adiwangsa tersenyum: "Jadi, sehebat apa kamu sekarang?"


"Keluarga Suprapto yang dulunya begitu agung, bagaimana kondisinya saat ini? Sedangkan aku!"


Waris menepuk dadanya dengan sangat bangga, "Hanya aku satu kata, Tuan Muda Keluarga Suprapto yang sampah seperti kau, dan Ayah kau yang tak berguna ini, tidak akan bisa hidup di Kota Pantol lagi!"


"Kedengarannya sangat menakutkan."


Adiwangsa menanggapinya, tapi ekspresinya sama sekali tidak terlihat takut. Lalu, bertanya: "Jika kamu dibanding dengan Triple Fazura, lebih hebat siapa?"


"Triple..."


Waris yang awalnya masih bangga hampir saja tersendak oleh ludahnya sendiri dan melihat Adiwangsa dengan tatapan terkejut.


Triple Gate ini tiba-tiba menghilang dan rumornya telah menyinggung tokoh besar misterius. Mungkinkah ini berhubungan dengan Adiwangsa?


Waris segera bergeleng dan menyingkirkan pemikiran bodoh ini.


Yang benar saja,


Di antara semua orang yang berstatus di Kota Pantol, siapa tidak tahu Tuan Muda Keluarga Suprapto ini hanyalah sampah tak berguna? Bahkan Ayahnya sendiri memandang rendah putranya dan membiarkan putranya ditindas di luar. Sampah seperti ini, jangankan memberinya 6 tahun, beri dia 60 tahun pun, belum tentu bisa menjadi tokoh sebesar itu, 'kan?


Waris memfokuskan pandangannya ke bahu Adiwangsa.


Mengenakan seragam tentara tentu saja memiliki tanda pangkat.

__ADS_1


Waris sendiri juga memiliki saudara yang menjadi tentara dan pernah menjelaskan lencana pangkat para tentara padanya. Begitu melihat bahu Adiwangsa, Waris segera tertawa.


Tidak ada tanda pangkat!


Orang yang bahkan tidak pantas memiliki tanda pangkat pasti hanyalah tentara kecil yang tidak berstatus. Orang seperti ini seringnya gugur di medan perang Perbatasan Selatan tanpa meninggalkan nama atau pun jasa.


Waris merasa bahkan jika dirinya gila, juga tidak akan mengaitkan kematian Triple Fazura dan kelenyapan Triple Gate dengan orang yang di depan mata.


"Triple Fazura sudah mati, aku akui aku memang tidak sebanding dengannya."


Waris berkata sambil tersenyum: "Namun, kamu juga tidak sebanding denganku."


Lalu, dia melihat lagi ke arah Mustofa: "Mustofa, berlutut dan mohonlah padaku. Kalau tidak, aku akan patahkan kaki anakmu!"


Awalnya Mustofa masih melihat ke samping sambil menahan air matanya dan sama sekali tidak berani melihat ke arah Adiwangsa. Namun, begitu mendengar ini, dia segera menoleh ke Adiwangsa dan berteriak: "Lari!"


Wajah yang sudah tua dan tampak lelah dipenuhi oleh air mata. Kepala Keluarga Suprapto yang dulunya begitu dihormati, kini malah seperti anjing liar yang tak berdaya. Adiwangsa benar-benar sakit hati. Bagaimanapun, dia tetaplah ayahnya sendiri. Apalagi dia datang ke sini dan rela dihina-hina hanya demi bisa bangkit kembali, lalu membalas dendam pada Permata Zaky.


"Percaya diri sekali, Tuan Muda."


Waris melambaikan tangannya. Lalu, belasan pria kekar tim pembongkaran pun berjalan mendekat.


"Kamu cepat lari!"


Mustofa sangat cemas, namun kini dia sedang ditahan dua orang dan tidak bisa bergerak sama sekali.


Dia memberontak dengan sekuat tenaga. Adiwangsa pun melihat Mustofa yang memberontak dengan tatapan serius, "Kamu ini sungguh khawatir denganku, atau meremehkanku dari lubuk hati yang sedalam-dalamnya? Ini sudah berlalu 6 tahun, kamu kira aku masih orang lemah yang seperti dulunya? Kamu kira aku masih sampah kurus itu? Masih anak berengsek yang bisa kamu bentak untuk berlutut di halaman dan tidak boleh makan?"


Mustofa tercengang.

__ADS_1


Ya, bagi dia, Adiwangsa masih anak sampah yang selalu membuatnya ditertawakan orang. Namun, itu tetaplah anaknya! Dirinya boleh menghukumnya berlutut, menghukummnya tidak makan malam, membiarkan orang lain menindasnya dengan sesuka hati, tapi begitu berhubungan dengan keamanan dan keselamatannya, dia tetap tidak rela.


Dia sudah berutang terlalu banyak kepada Adiwangsa!


"Kamu cepat pergi, ya?" Mustofa memohon kepada Adiwangsa.


Waris tertawa dengan gembira. Rasa mengendalikan semuanya sungguh memuaskan! Menginjak-injak Ayah dan Anak keluarga Suprapto benar-benar menyenangkan! Hanya dengan ini, dirinya baru bisa mengucapkan selamat tinggal kepada dirinya yang dulunya sangat menyedihkan!


"Adiwangsa, kalau kamu berani lari, aku akan mematahkan kaki Mustofa. Kamu pilih saja."


Waris duduk di kursinya dengan sombong dan menantikan keputusan Adiwangsa. Sedangkan, bawahan yang lengannya telah dipatahkan oleh Adiwangsa akibat hantaman batu bata dan pingsan tergeletak di lantai, Waris bahkan tidak meliriknya sama sekali.


Adiwangsa sudah kehilangan niat untuk berbicara, lalu pandangannya pun kembali tenang. Jangankan orang sedikit begini, saat memimpin 100 orang untuk melawan serangan 3000 orang pasukan musuh pun, dirinya tidak takut sama sekali.


Brak!


Saat Adiwangsa hendak bertindak, pintunya didobrak lagi dari luar. Ini langsung menarik perhatian semua orang. Lalu, mereka pun melihat 6 orang yang memakai jas hitam berjalan masuk sambil memegang payung hitam. Ada seseorang yang menggunakan payung putih di paling belakang. Yang memegang payung itu adalah seorang wanita yang memakan rok pendek berwarna merah. Bentuk tubuhnya sangat memikat, tampangnya juga sangat cakap, terutama matanya yang tajam, benar-benar sangat menggoda.


"Tuan Adiwangsa."


Wanita cantik itu melihat ke arah Adiwangsa dan membungkuk kepadanya untuk memberi hormat.


"Tuan Adiwangsa."


Keenam pria yang berpakaian jas hitam pun memberi hormat pada saat yang sama.


Adiwangsa mengangkat alisnya: "Siapa?"


Wanita itu tersenyum dengan malu: "Senior Terry yang meminta saya kemari. Apakah ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Adiwangsa berangguk, lalu menunjukkan jarinya dengan santai, "Patahkan kaki mereka."


__ADS_2