Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 36 Ayah itu Pahlawan!


__ADS_3

Di dalam gambar Anna, selain mamanya, dia sendiri, dan nenek tua, tidak ada orang lain lagi. Setelah melihat beberapa gambar dan memujinya sejenak sehingga Anna tertawa dengan senang, Adiwangsa bertanya, "Di mana papa Anna?"


Saat menanyakan ini, Adiwangsa merasa sangat tidak nyaman. Karakter seorang ayah dan suami adalah tanggung jawab dan kehormatan pria untuk seumur hidup.


Meskipun Mustofa Suprapto selalu ada, tapi dia tidak pernah menyayangi dirinya seperti seorang ayah. Jadi, saat gambar Anna tidak ada ayah, Adiwangsa merasa kehidupan mereka sama persis dan merasa marah dengan pria yang tidak pernah muncul itu.


Tentu saja, mungkin saja ada juga rahasia yang tidak diketahui, jadi Adiwangsa ingin bertanya.


Senyuman Anna membeku. Dia mengerucutkan bibirnya dan tidak mengatakan apa pun. Dia mengeluarkan gambar-gambarnya dan meletakkannya di depan Adiwangsa.


Spiderman, superman, giant...


Ini semua pahlawan yang menyelamatkan dunia. Lalu, Anna berkata dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia sangat tegar dan berkata kepada Adiwangsa tanpa menangis: "Merekalah Ayahku."


Adiwangsa merasa sakit hati. Anna yang kecil sangat pengertian.


"Ayah itu pahlawan?"


"Ya."


Anna berangguk dengan keras, seperti sedang melakukan upacara yang sangat suci: "Ayahku adalah pahlawan!"


"Kata Ibu?"


Anna berangguk lagi: "Mama bilang ayah pergi melawan orang jahat, jadi tidak ada waktu untuk pulang dan melihatku, tapi dia pasti akan pulang."


Adiwangsa membelai kepala Anna dengan penuh kasih sayang, lalu berkata dengan lembut: "Ya, paman juga percaya, ayah Anna pasti adalah pahlawan yang menyelamatkan dunia. Dia pergi untuk membantu lebih banyak orang yang butuh bantuan. Tunggu Anna sudah dewasa, dia pasti akan kembali untuk melihat Anna."


Anna tersenyum dengan bahagia dan mata yang berkaca-kaca. Tak lama kemudian, Anna menguap karena ngantuk. Dia baru saja kehujanan dan menangis dengan keras, jadi sangat lelah. Tanpa disadari, dia pun tertidur di pelukan Adiwangsa.

__ADS_1


Dengan hati yang bahagia, Adiwangsa menggendong Anna dan meletakkannya di tempat tidur, lalu menutupinya dengan selimut. Setelah itu, dia baru keluar dari pintu dengan pelan-pelan.


Di luar pintu yang rusak, Jeje sudah di depan dengan tegap. Dia memberitahu Adiwangsa bahwa dia telah menyeka tubuh nenek tua dan menggantikan pakaiannya. Sebenarnya, ini bisa dibilang adalah kehormatan yang nenek tua ini tidak akan pernah rasakan seumur hidup. Namun hanya karena Anna sangat bertanggung jawab dan tidak berani lalai atas pekerjaannya, jadi dia memenuhi semua perintah.


"Kerja bagus."


Jeje tersenyum dengan senang: "Baguslah kalau Tuan Adiwangsa puas."


Adiwangsa berangguk. Dia sangat jelas wanita ini tidak akan membantu dirinya di sini jika bukan karena Terry Mohammad. Namun, karena dia sudah datang dan benar-benar melakukan banyak hal untuknya. Meskipun Adiwangsa tidak mengatakannya, tapi dia sudah mengingatnya di dalam hati.


Hujan sudah berhenti dan langit sudah menjadi agak gelap. Melihat tiga mobil mewah yang parkir tidak terlalu jauh darinya, dia pun segera melangkah maju dan mengarah ke sana. Di dalam mobil pertama, Mustofa tidak tahu sudah tertidur sejak kapan. Tubuhnya telah diselimuti sebuah jas hitam dan tidur lelap dengan posisi meringkuk. Ini mungkin adalah tidurnya yang paling pulas sejak keluarganya dihancurkan.


Adiwangsa mundur beberapa langkah, lalu berbalik dan pergi tanpa mengganggunya.


"Tuan Adiwangsa, hari sudah gelap. Maukah kita pergi?" Jeje bertanya dengan sopan.


Setelah berpikir sejenak, Adiwangsa berkata: "Nenek belum sadar, Anna juga sudah tertidur. Kita tunggu mama Anna pulang dulu, baru pergi."


"Kamu bisa masak?", tanya Adiwangsa dengan penasaran.


Jeje berangguk sambil tersenyum.


Cahaya terakhir pun telah ditelan habis oleh kegelapan. Di bawah selubung malam, 300 meter dari sini adalah Jalan Hatta yang remang-remang. Sedangkan di area yang akan dibongkar, hanya terdapat beberapa senter yang bergetar. 300 meter ini benar-benar memisahkan kedua dunia yang benar-benar berbeda.


Kemakmuran di ujung itu telah menutupi kesunyian di ujung ini. Selain orang-orang yang ada di dalamnya, seluruh kota sudah melupakan keberadaannya.


Aroma makanan melayang ke hidung Adiwangsa, bercampur dengan bau rokok.


Adiwangsa sangat penasaran, wanita seperti Jeje bisa-bisanya mahir memasak. Ini benar-benar langka. Di sisinya, Mustofa sedan merokok. Cahaya yang keluar dari ambang pintu rusak menunjukkan setengah wajahnya yang memar dan bengkak.

__ADS_1


"Adi, bagaimana kehidupanmu selama 6 tahun ini?"


Kedua ayah dan anak sudah berjongkok di situ selama setengah jam lebih, dan akhirnya Mustofa membuka suara. Namun, Adiwangsa tidak menjawabnya.


"Wanita ini tidak biasa dan sangat menghormatimu. Kamu..."


"Hanya orang yang temanku utus ke sini untuk bantu. Kalau aku ingin menyelamatkanmu sendirian, terlalu sulit." Adiwangsa menyelanya.


Mustofa berangguk: "Utang uang gampang dilunaskan, utang budi susah dibalas."


Adiwangsa menjadi sebal: "Aku telah menyelamatkannya, jadi dia mengutus orang untuk datang membantuku. Lunas."


"Baguslah.", ucap Mustofa sambil menghela nafas lega, lalu tidak mengatakan apa pun lagi. Dia tahu Adiwangsa tidak ingin berbicara dengannya.


"Tuan Adiwangsa, Tuan, ayo makan."


Jeje berjalan mendekat dan berkata dengan sopan. Mustofa melihat ke arah Adiwangsa dengan tatapan penuh harapan. Yang dia harapkan bukanlah makanan itu, tapi Adiwangsa.


Adiwangsa tidak melihatnya dan hanya berjalan ke dalam rumah, "Ayo makan bareng."


Mustofa tersenyum dengan sangat bahagia, tapi begitu senyum, lukanya jadi ketarik sehingga dia menarik napas yang panjang dengan sakit.


"Tuan."


Jeje menyerahkan sebuah kantong dan isinya ternyata adalah obat-obat untuk luka memar dan bengkak.


"Terima kasih."


Mustofa melihat Jeje dengan pandangan sangat berterima kasih. Dia merasa wanita ini benar-benar sangat cantik. Selain itu, dia juga sangat lembut dan berbudi luhur. Ini membuatnya sangat ingin menyatukannya dengan Adiwangsa, tapi dia segera bergeleng.

__ADS_1


Jangankan Adiwangsa punya pacar, kalau tidak punya pun, Adiwangsa tidak pantas untuk wanita ini. Setelah membalas budi, Adiwangsa tidak lagi memenuhi syarat untuk saling memandang dengannya.


__ADS_2