Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 10


__ADS_3

"Apa yang aku lakukan ikhlas untuk mereka, dan tentu saja hanya mereka yang dapat merasakan itu semua. Orang seperti Bapak tidak akan pernah bisa merasakan ketulusan seseorang," jawab Sha tak kalah pedas.


Abi menyorot tajam pada wanita yang duduk disampingnya. Tak ingin lagi menanggapi ia segera melajukan mobilnya. Tak bisa ditampik bahwa wanita itu benar-benar pandai mematahkan lawan bicaranya.


Setibanya di kantor Sha segera turun dari mobil atasannya, tanpa mengurangi rasa hormat dan sopan. Ia tetap mengucapkan terima kasih.


"Terimakasih, Pak," ucap Sha sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Ya," jawab Pria itu singkat.


Setelah Sha turun, Abi segera memacu kendaraannya menuju kediamannya untuk menjemput sang istri yang katanya sudah sedari tadi menunggu.


"Sayang!" panggil Abi saat masuk kamar.


"Oke, bye. Iya, ini suami aku sudah datang, aku pergi dulu ya, Win," ucap Diana yang sedang menelepon dengan seseorang.


"Siapa yang telpon?" tanya Abi penuh selidik.


"Ah, i-itu Winda teman aku. Kamu dari mana saja sih, Mas? Kok jam segini baru datang," ucap wanita itu seperti mengalihkan pembicaraan.


"Tadi ada perlu. Yasudah, ayo berangkat sekarang."


"Kita benaran periksa ke Dokter Sonya kan?" tanya Diana memastikan. Sonya adalah Dokter Obgyn yang dulu menangani dirinya.


"Iya, ayo." Abi segera berjalan mendahului Diana.


Diperjalanan pasangan itu saling diam. Entah kenapa Abi sedikit curiga melihat gelagat istrinya yang akhir-akhir ini bersikap aneh dari yang biasanya. Sebenarnya siapa Winda itu, setahu dirinya tak ada teman diana yang bernama Winda.


Mobil yang dikendarai Abi sudah memasuki perkarangan parkir RS, namun RS yang berbeda dari yang biasanya mereka singgahi.


"Mas, kok kita ke RS ini? Bukannya Dr Sonya praktek di RS XX?" tanya Diana curiga.


"Kali ini kita tukar Dokter, aku sudah menemukan Dokter Obgyn terbaik. Dan RS ini adalah milik teman Papa. Perusahaan kita juga kerja sama dengan RS ini," jelas Abi pada Diana.


Wanita itu sedikit gelagapan saat mendengar penjelasan suaminya. Ada rasa was-was dalam hati, rasanya kesal sekali dengan Abi yang dari semula membohongi dirinya. Bodohnya dirinya yang tak memastikan kembali.

__ADS_1


"Ayo turun. Kok bengong?" tanya Abi yang telah membukakan pintu, namun wanita itu masih duduk diam terpaku.


"Ah, ya." Dengan berat hati Diana mengikuti suaminya masuk menuju ruangan Dr Obgyn.


Setibanya di ruang tunggu, tak berselang lama nama mereka telah di serukan oleh seorang perawat pendamping untuk di persilahkan masuk menghadap pada Dokter.


"Hai, Abian!" ujar Dokter baya yang terlihat masih gagah di usianya yang tak lagi muda. Sepertinya Dokter itu sudah mengenal baik dengan Abi.


"Om Yandra, apakah aku terlambat?" tanya Abi menyalami Dokter yang berteman baik dengan kedua orangtuanya itu.


"Ah, tentu saja tidak. Masih banyak pasien dibelakang kamu. Ayo, silahkan duduk."


"Terimakasih, Om." Abi dan Diana duduk bersamaan di kursi yang berhadapan dengan Dokter Yandra.


"Ada apa nih, kok tumben sekali kamu datang kesini?" tanya Dr Yandra tersenyum menatap anak dari sahabatnya.


"Ya, tentu saja masalah medis, Om. Nggak mungkin juga kita membicarakan bisnis disini, hehe..."


"Hahaha... Kamu bisa aja, ayo katakan, apa keluhannya?"


"Kita harus memeriksa tingkat kesuburan kedua belah pihak, yaitu kamu dan istri."


"Baiklah, kalau begitu kapan kita bisa memulai serangkaian pemeriksaan itu, Om?" tanya Abi tak sabar.


Dr Yandra menerangkan apa saja yang di butuhkan, dan kapan waktunya. Namun sebelum pemeriksaan itu di mulai, maka Diana harus melakukan USG terlebih dahulu.


"Mari kita USG dulu untuk melihat rahimnya, apakah ada masalah hingga terhambatnya pembuahan," jelas Dokter senior itu.


Diana tampak berat untuk beranjak dari tempat duduknya. Herannya wanita itu tak terlihat bersemangat untuk memulai usaha mereka, hanya Abi yang berminat.


Dr Yandra memeriksa dengan telaten, dan mengamati dengan benar. Tiga puluh tahun bergelut sebagai seorang Dokter kandungan, tentu saja sangat mudah mengetahui setiap keluhan dan masalah para pasiennya. Dan termasuk apa yang dialami pada pasangan muda ini.


"Apakah sebelumnya kalian memang merencanakan untuk menunda kehamilan?" tanya Dr Yandra pada Abi dan Diana, sembari duduk kembali di kursinya dan di ikuti oleh pasangan itu.


"Tidak, Om, kami tidak pernah menunda, bahkan saat pertama menikah," jawab Abi memang benar.

__ADS_1


"Benarkah begitu?" tanya Dr Yandra menatap tidak percaya.


"Ya, benar. Emang kenapa ya, Om?" tanya Abi penasaran.


"Tapi dari hasil pemeriksaan, ada gangguan ovulasi, sehingga terganggunya keseimbangan hormon, itu semua akibat lamanya menggunakan pil kontrasepsi," jelas Dr Yandra pada Abi.


"Om Yandra yakin?" tanya Abi tidak percaya.


"Apakah kamu meragukannya segala ucapan Om?" tanya Pria itu tersenyum lucu melihat raut wajah anak satu-satunya dari sahabatnya.


"Bu-bukan begitu maksud aku, Om," jawab Abi sedikit gugup. Apa ini? Pil kontrasepsi? Apakah selama ini Diana mengkonsumsinya? Banyak pertanyaan dalam otak Pria itu.


"Katakan Diana!" sentak Abi langsung pada sasarannya.


"Apa, Mas? Kamu menuduh aku melakukan hal itu?" Diana segera menyangkal segala tuduhan Abi.


"Jadi menurut kamu apa yang dikatakan Dokter Yandra adalah tidak benar?" tanya Abi mulai meninggikan nada bicaranya.


"Ya, bisa jadi, Mas! Maka dari itu aku meminta agar kita melakukan pemeriksaan ini pada dokter Sonya saja!" sentak Diana tak mau kalah.


"Sonya mana yang kamu maksud? Apakah Dokter Sonya Arora? Hng! Dia itu pernah praktek di RS saya ini, tapi saya pecat karena dia adalah seorang Dokter tak amanah. Apakah selama ini kamu sengaja membohongi Abi dengan cara bekerja sama dengan Dokter itu?" sambung Dr Yandra mematahkan ucapan Diana.


Diana tak mampu berkata-kata mendengar ucapan Dokter senior itu. Tak bisa menyangkal segala tuduhan Dokter itu memang benar adanya. Sebenarnya Dr Yandra tak ingin ikut campur dalam urusan mereka, namun hatinya tersinggung oleh ucapan wanita itu karena mengatakan hasil pemeriksaannya salah.


Abi menyorot tajam pada wanita itu. Hatinya benar-benar kacau. Ingin sekali melakukan sesuatu, namun ia sadar bukan pada tempatnya.


"Om, aku minta maaf atas segala kekacauan ini. Aku sangat tahu bahwa Om Yandra adalah seorang Dokter yang tak seharusnya diragukan. Kalau begitu kami permisi dulu, Om. Terimakasih atas segala petunjuk dan keterangan yang Dokter berikan. Dengan ini aku dapat mengetahui yang sebenarnya," ucap Abi memohon maaf pada Dr senior itu.


"Ya, Oom paham. Segeralah selesaikan masalah kalian. Semoga kalian mendapatkan jalan keluarnya."


Abi segera menyeret tangan wanita itu dengan langkah lebar. Tak peduli cicit Diana yang minta dilepaskan karena merasa pergelangan tangannya ngilu.


"Mas, lepas!" Sentaknya


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2