Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 25


__ADS_3

Selesai makan malam, Sha pamit pulang pada ayah dan ibu mertuanya. Namun Abi bersikukuh untuk mengantarkan istri keduanya itu.


"Saya bisa pulang diantar sopir, Pak, jadi Bapak tidak perlu repot-repot mengantarkan saya. Keadaan Bapak masih belum baik," tolak Sha tak ingin terjadi sesuatu pada Pria itu.


"Tidak apa-apa, Sha. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu dan calon anakku baik-baik saja. Aku hanya menemani kamu saja."


Sha tak bisa lagi menolak. Abi ikut mengantarkannya pulang. Pasangan itu duduk di kabin belakang dengan di kendarai oleh driver.


Diperjalanan pulang pasangan itu hanya diam, tak tahu harus berbuat apa, keduanya tampak canggung dan kaku. Abi yang sebenarnya memikirkan Diana, sedari tadi tak ada kabar apapun. Kemana wanita itu?


"Pak, sudah sampai. Saya turun dulu, terimakasih sudah mengantarkan saya pulang," ujar Sha, namun Pria itu tak menanggapi, ia masih larut dalam lamunan.


"Pak!" panggil wanita itu sedikit kuat hingga membuat Abi segera sadar dari lamunannya.


"Ah, ya. Oh, sudah sampai ya," ujarnya sedikit bingung.


"Saya pamit dulu," ujar gadis itu ingin membuka pintu mobil.


"Ah, Sha!" panggil Abi menghentikan pergerakan tangan wanita itu.


"Ya?"


"Apakah aku boleh pegang perut kamu sebentar saja?" tanya Abi sedikit ragu.


Sha terdiam tak beraksi apapun. Jantungnya kembali berdegup kencang. Rasanya benci sekali dengan perasaan ini yang terkadang selalu salah mengartikan.


"Apakah kamu keberatan? Aku hanya ingin bicara sebentar saja dengan anakku," ucap Abi kembali.


"Ah, ya, silahkan." Sha mengizinkan ayah dari anaknya itu untuk bercakap-cakap dengan bayinya. Ia kembali memposisikan duduk seperti semula.


Abi memutar tubuhnya menghadap pada wanita itu. Perlahan tangannya terulur mengusap perut datar sang istri. tubuhnya sedikit merunduk untuk sejajar dengan perutnya.


"Hai, anak Papa lagi apa? Apakah kamu senang hari ini? Besok-besok kalau Papa dan Mama punya waktu luang, kita jalan-jalan ya, biar kamu dan Mama selalu bahagia. Pokoknya papa akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Sekarang anak Papa istirahat ya, sampai ketemu besok, Sayang," ujar Abi mengakhiri percakapannya dan tak lupa meninggalkan jejak sayang di perut datar itu.


Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu, ia nyaris berhenti bernafas saat bibir Pria itu menyentuh perut datarnya, meskipun tak langsung bersentuhan masih ada pakaian yang menghalangi, namun tetap saja membuat hatinya ketar ketir.

__ADS_1


Abi memposisikan duduknya seperti semula. Namun tatapannya masih pada sang istri yang tampak diam seribu bahasa.


"Maaf sudah membuat kamu tak nyaman," ucap Abi dengan pelan.


"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu saya pamit, Pak." Sha ingin segera beranjak dari hadapan Pria itu.


"Iya, selamat istirahat. Jangan banyak pikiran, jika kamu butuh sesuatu beri kabar aku," pesannya.


Sha hanya menjawab dengan anggukan, entah kenapa lidahnya terasa kelu untuk menjawab ucapan dari Pria itu. Selalu berusaha untuk tak terbawa perasaan atas segala perlakuan dan sikap baiknya, namun hati kecilnya tak bisa di dustai bahwa dirinya sudah mulai nyaman dengan kehadirannya.


***


Tak terasa waktu berjalan. Kini kandungan Sharena sudah memasuki bulan ke empat. Perut yang biasanya datar kini sudah mulai tampak berisi dan padat.


"Sha, kok ibu lihat sekarang kamu tambah gendut ya?" tanya Ibu di sela sarapan pagi mereka.


"Uhuk! Uhuk!"


Sha tersedak makanan saat ibu menanyakan prihal tubuhnya yang tampak mulai berubah. Tetiba selera makannya sirna. Itu artinya ia harus menghindar dari ibu dan adiknya.


"Ah, iya, Bu, mungkin karena aku sekarang suka ngemil maka dari itu berat badanku semakin bertambah," jawabnya mencoba tenang dari segala kegundahan hati.


"Hehe ... Iya, Bu." Sha hanya menanggapi dengan kekehan kecil.


Selesai sarapan ia segera beranjak menuju kantor, tempat dimana ia menghabiskan hari-hari. Abi sudah bisa menerima kehadirannya, terlihat perlukannya yang selalu perhatian. Sha tahu semua yang dilakukan Pria itu hanya semata untuk bayi yang ada dalam rahimnya.


Pagi ini Pria itu tak seperti biasanya yang selalu tersenyum manis saat menyapa sekertaris sekaligus istrinya itu. Namun kali ini wajahnya tampak murung dan kusut bagaikan jeruk purut.


Abi masuk ruangan tanpa ucapan apapun, ia duduk di di kursi kebesarannya dengan meremas rambut. Tampak sekali wajahnya kacau. Sha hanya menatap dari kejauhan.


Ada rasa yang berbeda saat Pria itu mendadak menjadi pendiam, tak ada lagi pertanyaan apakah dirinya sudah sarapan? Apakah bayinya rewel? Ah, rasanya tidak enak banget dicueki.


Sha berdiri mendekati Abi yang masih tenang di kurisnya. Ia menghela nafas dalam sebelum menyapa lelaki yang berumur dua puluh sembilan tahun itu.


"Apakah Bapak sakit?" tanya Sha ragu.

__ADS_1


"Tidak!" jawab Abi datar.


"Bapak butuh sesuatu?" tanya wanita hamil itu masih keukuh.


"Tidak!" masih jawaban yang sama.


"Bapak sudah sarapan?"


"Aku tidak selera makan," jawab Abi singkat.


"Kalau begitu aku buatin kopi hitam seperti biasanya ya?"


"Tidak, Sha! Aku sedang tidak ingin apapun. Jadi tolong tinggalkan aku sendiri!" sentak Pria itu dengan nada sedikit tinggi. Ternyata moodnya benar-benar sedang bermasalah.


"Maaf," lirih wanita itu segera meninggalkan meja atasannya. Air matanya mulai mengambang di kelopak mata. Rasanya perih sekali saat di bentak.


Salah sendiri yang merasa dirinya berarti di mata lelaki itu. Toh nyatanya ia tak diinginkan sama sekali. Sha menuju toilet, ia menumpahkan tangis disana.


"Kenapa kamu bodoh sekali Sha? Kamu itu adalah wanita yang hanyalah sebagai pencetak anak untuknya. Kamu jangan pernah merasa di pedulikan oleh lelaki itu. Kamu tak pernah berati apa-apa," gumam gadis itu menyadarkan diri sendiri dengan berurai air mata.


Setelah puas menangis, Sha segera menghapus air matanya, ia tak ingin lagi berharap pada Pria itu. Sadar sekali dirinya tak akan pernah ada tempat dihatinya.


Sha keluar dari toilet dengan mata sembab, ia tak ingin menatap Abi. Kembali duduk dan fokus dengan pekerjaannya. Abi yang memperhatikan sejak Sha keluar dari toilet hingga fokus dengan pekerjaan.


Ada rasa bersalah telah meninggikan suaranya pada wanita yang telah rela berkorban mengandung benihnya. Abi masih memperhatikan gerak gerik sang istri dari kejauhan.


"Apakah laporan yang aku minta semalam sudah selesai?" tanya Abi yang sudah berdiri di samping mejanya.


"Sudah!" jawab Sha datar sembari menyerahkan file yang diminta.


Abi mengambil berkas itu, lalu membukanya dan membaca dengan teliti, namun tak beranjak dari hadapan wanita itu. Kesal sekali rasanya melihat tingkah Pria itu, bukankah tadi dia tidak ingin didekati, tapi kenapa sekarang dia yang mendekat. Sha menatap kesal.


"Kenapa mata kamu sembab? Kamu menangis?" tanya Abi membuat konsentrasi Sha semakin terganggu.


Sha hanya diam tak menjawab pertanyaannya, hatinya masih kesal. Tak ingin lagi terbawa perasaan atas segala perhatian lelaki tidak jelas itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2