
Pria itu pulang dengan perasaan tak menentu, bahagia itu sudah pasti karena sebentar lagi ia akan mempunyai seorang anak, rasanya sudah lama sekali hal itu ia dambakan. Teringat kembali atas kecurangan yang dilakukan oleh Diana. Andai saja Diana bisa memberinya anak maka ia tak akan pernah melibatkan Sha dalam rumah tangganya.
Dadanya terasa sesak bila mengingat kembali akan hal itu. Tapi semua sudah terjadi, mungkin sudah begini takdirnya harus memiliki anak dari wanita yang tak ia cintai.
Sha mengucapkan salam dan disambut dengan senyum hangat oleh sang ibu. Gadis itu segera menabrak tubuh ibunya dan memeluk dengan erat, rasanya sedari tadi ia ingin menangis. Andai saja ibu mengetahui hal ini, dan bisa menerimanya dengan ikhlas, maka ia akan bercerita suka duka yang kini melanda hatinya.
"Kenapa nduk?" tanya Ibu sembari memberi usapan lembut di punggung anak gadisnya.
Sha hanya menggelengkan kepala, namun ia semakin tergugu dalam dekapan sang ibu. Ia tidak tahu dengan perasaannya saat ini yang ingin menangis, tak tahu itu tangisan apa. Apakah ia bahagia? atau ia sedang menangis dalam penyesalan? Tak ada jawaban, yang jelas ia hanya ingin menangis, udah itu saja, titik.
"Ayo duduk dulu," ujar Ibu merenggangkan pelukannya dan membawa wanita itu untuk duduk.
Sha masih tak ingin melepaskan pelukan ibunya, ia kembali mencari kenyamanan disana untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.
"Ayo cerita pada Ibu, Nak," ucap Ibu mengecup puncak kepalanya.
"Nggak ada apa-apa, Bu, aku hanya ingin memeluk ibu. Jika aku melakukan kesalahan apakah Ibu mau memaafkan aku?" tanya Sha menatap manik mata sang ibu dengan dalam.
"Tentu saja ibu akan memaafkan kamu, Nak, seburuk apapun prilakunya seorang anak, maka tugas Ibu selalu memaafkan dan mendo'akan agar anaknya segera menjadi orang baik. Karena dunia akhirat kamu adalah anak Ibu, jadi tak ada alasan untuk ibu tak memaafkanmu."
Sha kembali menangis memeluk ibunya. Hatinya terasa ngilu mendengar betapa tulusnya hati malaikat tak bersayapnya itu. Berharap saat ibu mengetahui yang sebenarnya bisa memaafkannya. Ia hanya takut jantung ibu tak cukup kuat bila mendengar pernyataannya.
"Kamu masih belum ingin cerita sama Ibu?" tanyanya kembali.
"Tidak ada yang ingin aku ceritakan, Bu, aku baik-baik saja. Ibu jangan risau ya. Aku hanya ingin dimanja Ibu, kangen masa kecil," lirihnya mencoba untuk meyakinkan ibu dan tersenyum lembut.
"Kamu yakin?" tanya Ibu kembali.
"Hmm, aku yakin, Ibuku tersayang," balas Sha bergelayut manja di lengan sang Ibu.
"Eh, ada apa nih? Kok ada acara peluk-peluk begini?" sambung Aldo yang ikut menjatuhkan bokongnya disamping Sha.
__ADS_1
"Ish, kamu gangguin aja. Kakak tuh lagi rindu masa kecil yang selalu di manja Ibu, hehe..."
"Pasti Kakak ada masalah yang sedang disembunyikan, benar 'kan?" tebak Aldo dengan benar, karena ia paham betul dengan kebiasaan sang kakak.
"Apaan, nggak kok. Sok tahu," balas Sha mencoba mengelak.
"Benar atau tidaknya, berharap kak Sha tidak akan menyimpannya sendiri. Berbagilah jika kakak tak kuat menahannya," ucap Al begitu dewasa menyikapi.
Sha menelan air liur dengan kasar, ternyata sang adik dapat mengerti dengan perasaannya saat ini. Ia mencoba untuk tetap tegar di depan mereka. Mungkin nanti Aldo orang pertama tempat ia berbagi, karena ia belum cukup berani memberitahu Ibu yang sebenarnya.
"Makasih ya, Dek, tapi benaran Kakak tidak ada masalah apa-apa kok," ucap Sha mencoba meyakinkan.
"Ya, syukurlah jika tak ada apa-apa."
Pagi ini seperti biasanya Sha akan tetap ngantor, karena dari Dokter tak ada larangan untuk Sha beraktivitas asalkan tidak terlalu lelah. Saat gadis itu ingin mengeluarkan sepeda motornya, terdengar suara klakson mobil di depan rumah.
"Sha, ada mobil di depan. Mungkin itu mobil Nak Abi," ucap Ibu.
"Hah? Kok tumben banget," sahut Sha sembari berjalan keluar. Terlihat Pria itu keluar dari mobilnya menghampiri Sha dan ibu berdiri di teras.
"Pagi, Nak Abi. Sudah mau berangkat? Kenapa dijemput Sha-nya? Apakah ingin keluar kota lagi?" tanya Ibu.
"Ah, tidak, Bu. Kebetulan pagi ini ada meeting diluar, jadi sekalian jemput Sha biar cepat," jawab Abi sudah pasti berbohong.
"Oh, begitu. Yasudah, hati-hati ya."
"Pergi dulu ya, Bu." Sha menyalami Ibu dan hal yang sama dilakukan oleh Abi.
Diperjalanan Sha hanya diam, tak tahu harus bicara apa. Ingin sekali bertanya kenapa Abi menjemputnya.
"Kenapa Bapak harus repot-repot menjemput? Saya bisa kekantor menggunakan sepeda motor." Akhirnya wanita itu menanyakan apa yang mengganjal dihatinya.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi ke kantor mengendarai sepeda motor, aku akan mencarikan driver khusus buat kamu," jawab Abi yang mendapat tatapan tak mengerti dari Sha.
"Kenapa begitu, Pak? Saya bisa naik motor, saya tidak mau," tolak wanita itu.
"Harus mau!"
"Saya tetap tidak mau!" balas gadis itu tetap teguh.
"Kamu kenapa ngeyelan banget sih, Sha? Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anakku, karena kamu bawa motor sering tidak fokus," ujar Pria itu yang hanya memikirkan calon anaknya.
"Aku bisa menjaga diri, Bapak tak perlu risau, aku selalu hati-hati membawa motor," jawab Sha datar.
"Siapa bilang kamu bawa motor hati-hati, contohnya waktu itu kamu nabrak mobil aku," balas Abi mengingatkan beberapa bulan yang lalu.
"Itu bukan murni kesalahan saya, Bapak yang berhenti secara mendadak. Intinya tak perlu khawatir yang berlebihan. Pasrahkan saja semuanya kepada Allah, karena jika sudah takdir sedang duduk saja nyawa bisa terlepas dari raga," ujar Sha seperti sedang kultum.
"Kamu kalau ngomong pinter banget ya, aku itu sedang mengingatkan kamu, bukan minta ceramah. Pokoknya sekarang kamu harus diantar pulang pergi, titik. Tak ada bantahan," intrupsi Pria itu pada istri keduanya.
Sha hanya diam tak lagi menyahut ucapan lelaki itu, tak ingin berdebat, terserah dia mau bicara apa. Sha memutar tubuhnya menghadap pada kaca jendela, lebih baik menatap suasana jalanan daripada mendengarkan celotehan ayah dari anak yang ada dalam kandungannya.
Sha tahu bahwa Abi mencemaskan keadaan janinnya. Tapi ia tak ingin bawa perasaan, biarlah perhatian itu murni hanya untuk anaknya, ia harus tetap membentengi hatinya agar tak luluh, harus bisa sadar diri bahwa Pria itu tak menginginkannya terkecuali anaknya.
Setibanya di kantor Sha kembali berpapasan dengan Hazel. Wanita itu tersenyum ramah pada atasannya.
"Pagi, Sha!" seru Hazel menyapa dengan ramah.
"Pagi, Pak Hazel!" balas Sha.
"Baru datang? Tumben datang dengan Big Boss?" tanya Pak Hazel tersenyum menatap Abi yang berdiri dibelakang Sha.
"Ghemm! Bisa nanti saja ngobrolnya? Sepuluh menit lagi ada rapat," tegur Pria itu dengan tatapan yang mengawasi.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰