Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 36


__ADS_3

"Sha, apa yang terjadi, Nak? Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Mama dan Papa yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.


"Alhamdulillah sudah tidak apa-apa, Ma, Dokter sudah memberi obat penguat kandungan," jawab Sha dengan jujur, karena ia memang sudah tak merasakan nyeri lagi.


"Alhamdulillah, syukurlah kamu tidak apa-apa. Cucu Oma yang kuat ya, Sayang," ucap Mama sembari mengusap perut Sha dengan lembut.


"Apa yang terjadi, Abi?" tanya Papa beralih pada Abi untuk meminta penjelasan, karena tadi saat bicara di telepon tidak terlalu paham apa yang mengakibatkan Sha tetiba ngedrop.


"Tadi tak sengaja kami bertemu Ibu dan Aldo, Pa, dan ibu mengetahui bahwa Sha sedang hamil sehingga membuat jantung ibu kambuh. Ibu mengalami kritis," jelas Abi pada kedua orangtuanya.


"Astaghfirullah... Terus bagaimana keadaan ibu Husna?" tanya Papa dan Mama, mereka tampak begitu terkejut.


"Alhamdulillah sekarang ibu sudah melewati masa kritis, dan sudah sadar," jelas Abi.


Pasangan itu kembali mengucapkan syukur. Setelah cukup tenang, Mama dan Papa berniat ingin menjenguk Bu Husna. Mereka ingin menjelaskan semuanya dan memohon maaf atas apa yang telah terjadi.


"Ma, jangan sekarang, karena Ibu baru saja sadar. Aku takut jika ibu melihat kehadiran Mama dan Papa akan membuat jantungnya kembali kambuh. Biarkan ibu lebih tenang dulu," ucap Sha yang sangat khawatir dengan keadaan sang ibu.


"Benar, Ma, apa yang dikatakan Sha. Biarkan ibu lebih tenang, setelah itu kita akan jenguk bersama," sambung Abi membenarkan ucapan istri keduanya itu.

__ADS_1


Akhirnya Mama dan Papa mengikuti saran anak menantunya. Mereka juga tak ingin membuat keadaan semakin kacau, biarkan kondisi besannya lebih tenang dan kembali stabil.


Pagi ini Sha sedang menjalani pemeriksaan oleh Dokter yang visit pagi. Dokter mengatakan bahwa kondisi Sha sudah membaik, tak ada yang begitu di khawatirkan, Sha hanya butuh istirahat yang cukup dan dilarang banyak fikiran agar kondisi bayinya juga kembali normal.


Setelah Dokter dan perawat keluar, kembali pintu ruangan itu terbuka. Sha dan yang lainnya tampak begitu terkejut melihat siapa yang berada diambang pintu.


Ibu Husna yang duduk di kursi rodanya. Aldo sedikit menggelengkan kepalanya pada sang kakak yang mengisyaratkan bahwa dirinya tak mampu mencegah ibu untuk masuk kedalam ruangan itu.


"Ibu!" seru Sha tampak ingin segera beranjak untuk menghampiri.


"Tenanglah disana, Nak," cegah ibu yang berangsur mendekat dengannya.


"Kenapa kamu melakukan semua ini, Sha? Kenapa kamu rela mengorbankan masa depan kamu? Apa yang ada dalam pikiranmu, Nak?" ujar Ibu dengan mata berkaca-kaca.


Sha tak dapat berkata lidahnya terasa kelu. Ia tahu ibu sedang kecewa berat dengan keputusan yang telah ia ambil. Gadis itu juga tak kuasa menahan air matanya agar tak jatuh.


"Bu, maafkan aku," ucapnya menahan sesak di dada.


Wanita baya itu tak kuasa untuk bicara saat anak perempuannya telah memohon maaf, ia tahu apa yang dilakukan oleh Sha semua demi dirinya. Ibu Husna segera memeluk putrinya dengan deraian air mata.

__ADS_1


"Maafkan aku, Bu," lirih Sha dengan sedu sedan.


Ibu hanya menangis dengan anggukan pelan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima segala keputusan putrinya, toh nyatanya semua telah terjadi, dan bahkan dirahim putrinya telah ada calon cucunya.


"Dek Husna, kami minta maaf," ucap Mama Nia yang sudah berdiri disamping mereka.


Perlahan Ibu melepas pelukan putrinya. Ini kali pertama ia bertemu dengan orang yang telah membantu menyelamatkan nyawanya dan juga telah banyak membantu putrinya. Namun ada rasa kecewa setelah tahu bahwa putrinya harus membayar dengan pengorbanan.


"Mbak, kenapa kalian menyembunyikan dari saya? kenapa kalian tega?" ujar Ibu dengan wajah kecewa.


"Dek, kami tidak bermaksud untuk menyembunyikan darimu, tetapi kami hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan kesehatan kamu. Kami tahu bahwa kami bersalah, karena telah melibatkan Sha dalam hal sulit ini. Tapi asalkan kamu tahu, kami tidak pernah berharap perpisahan mereka. Kami sangat menginginkan Sha menjadi menantu kami untuk selamanya," ujar Mama dengan jujur.


"Tapi itu tidak mungkin, Mbak. Bukan anak kalian sudah menikah, mana mungkin mereka akan bersama," balas Ibu.


"Itu mungkin, Bu, aku berjanji tidak akan pernah melepaskan Sha," sambung Abi. Seketika semua orang menatapnya.


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2