
"Apa maksud kamu? Apakah kamu ingin menjadikan Sha yang kedua untuk selamanya?" tanya Ibu tak mengerti.
"Tidak, Bu, aku akan menjadikan Sha sebagai istriku satu-satunya untuk selamanya," jawab Abi begitu yakin, dan tentu saja membuat semua orang menatap tak percaya.
"Apa maksud kamu Abi?" tanya Papa tampak bingung.
"Setelah ini aku akan menceraikan Diana, Pa," jawab Abi yang membuat Mama dan Papa tercengang, dan tentu saja Sha tak kalah terkejut.
"Ada apa, Abi? Kenapa kamu mendadak bicara seperti ini?" tanya Mama masih bingung.
"Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kehadiran Sha?" tanya ibu Husna yang ikut nimbrung, ia merasa tidak enak karena takut sang putri menjadi pelakor.
"Bukan, Bu, tapi memang rumah tangga aku dan Diana sudah tak bisa aku pertahankan," jawab Abi yang membuat semua orang semakin penasaran.
"Abi, katakan dengan jelas, ada apa dengan hubungan kamu dan Diana?" desak Papa sudah tak sabar ingin tahu yang sebenarnya.
Abi menghela nafas dalam untuk memasok udara sepenuh dada. Sebenarnya ia belum ingin membahas hal ini sekarang, namun sepertinya kedua orangtuanya dan juga Ibu mertuanya harus tahu yang sebenarnya bahwa apa yang akan terjadi nanti bukanlah ada kaitannya dengan Sha.
"Ternyata selama ini Diana telah selingkuh dibelakangku, Pa, dan bahkan dia telah membantu selingkuhannya untuk mengambil alih posisiku di perusahaan sebagai CEO," jelas Abi dengan lirih.
"Apa! darimana kamu tahu semuanya, Bi?" tanya Mama merasa sangat syok atas penjelasan putranya.
"Sebenarnya sudah banyak kejanggalan dan petunjuk yang aku dapat, namun aku yang dibutakan oleh cinta sehingga sulit untuk mempercayai. Bahkan Sha juga pernah melihat Diana berjalan dengan lelaki itu, dan lagi-lagi aku tak mempercayai. Tapi sekarang aku baru percaya dengan segala bukti yang aku lihat," jelas Abi kembali.
__ADS_1
"Terus, bagaimana dengan perusahaan, apakah Pria itu sudah berhasil mencurangimu?" tanya Papa ikut khawatir.
"Alhamdulillah aku dan para relasi baik dari internal maupun eksternal yang ada di perusahaan segera mengatasinya sehingga lelaki itu tak bisa untuk masuk lebih dalam, dan aku juga mengulur waktu untuk memberi harap padanya. Akan aku pastikan mereka mendekam di penjara," tegas Abi tampak begitu kecewa.
Ternyata saat Sha tertidur tadi, Abi telah menerima sejumlah informasi dari orang suruhannya dan mereka telah mengirimkan segala bukti tentang perselingkuhan Diana dan Pria yang bernama Burhan itu.
Andai tak memikirkan kondisi Sha dan calon anaknya sedang kritis, maka ia sudah segera membuat perhitungan dengan pasangan itu. Namun Abi lebih memilih fokus terlebih dahulu mengurusi wanita yang sudah jelas memberinya keturunan. Abi juga baru menyadari bahwa selama ini Diana memang masih mengkonsumsi pil kontrasepsi.
Sebenarnya Abi sedari tadi mengutuk kebodohannya sendiri selama ini sehingga ia tega telah menyakiti perasaan wanita yang telah banyak berkorban untuk keluarganya.
Abi merasa sangat bersalah dengan Sha, namun tetap saja jiwa gengsinya masih mendarah daging sehingga sikapnya masih terlihat dingin, tapi sudah dipastikan tak sedingin salju. sudah mulai mencair meskipun dengan pandai ia menutupi.
"Setelah Sha keluar dari RS kamu segera urus dan selesaikan semuanya," titah Papa tampak sangat kecewa. "Dari awal Papa sudah katakan berulang kali padamu bahwa wanita itu tidak baik. Sekarang lihatlah betapa masinnya lidah kedua orangtuamu ini," tukas Papa menatap kesal pada putra semata wayangnya.
Abi hanya menghela nafas dalam. Sadar sekali bahwa dirinya sangat bersalah pada kedua orangtuanya. Namun semua telah terjadi, meskipun pahit kenyataannya ia harus bisa melewati.
Bu Husna kembali duduk disamping putrinya, sementara kedua besannya masih membahas persoalan Abi dan Diana. Sebenarnya masih ingin protes dengan pasangan itu, namun ia tak ingin lagi menambah masalah mereka, maka Bu Husna dan Aldo hanya fokus pada Sha saja.
"Bagaimana dengan keadaan cucu Ibu? Apakah dia baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu sembari mengusap perut putrinya untuk pertama kalinya.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja, Bu, aku juga sudah tak merasakan nyeri lagi," jawab Sha dengan jujur.
"Syukurlah, kamu harus jaga dia dengan baik," ucap Ibu penuh kasih sayang sembari mendekap tubuh wanita hamil itu.
__ADS_1
"Apakah ibu sudah tak marah padaku? Ibu sayang kan dengan dia?" tanya Sha sembari mengambil telapak tangan ibu dan kembali menyentuhkan di perut buncitnya.
"Ibu tidak marah, Nak, ibu hanya kesal saja!" jawab ibu menatap sedikit garang.
"Haaa... Ibu, katanya tidak marah, tapi kesal, itu kan sama saja. Hiks," rengek wanita itu dengan manja pada sang Ibu.
Ibu hanya tersenyum melihat tingkah manja sang putri. "Sudah, sudah. Ibu tidak marah, tapi tentu saja ada rasa kecewa, tapi semua sudah terjadi maka Ibu harus bisa menerima, dan dia juga tak bersalah apapun, dan tentu saja ibu sangat menyayangi calon cucu ibu ini," jelas wanita baya itu.
Sha menghela nafas lega, ia kembali memeluk tubuh ibunya dengan erat. Tak ada lagi beban pikiran yang harus ia sembunyikan dari ibu dan adiknya. Walaupun nanti dirinya dan Abi berpisah maka ia tak akan ragu lagi untuk membawa buah hatinya untuk tinggal bersama mereka.
Sudah cukup lama Ibu berada di kamar rawat anaknya, sehingga Dokter meminta ibu untuk kembali ke kamar rawatnya untuk istirahat dan minum obat agar jantung wanita baya itu tetap stabil.
"Dek, ayo Mbak antar kamu ke kamar rawat kamu," ujar Mama Nia pada besannya.
"Tidak apa-apa, Mbak, Aldo bisa mengantar saya," tolak ibu merasa sungkan. Meskipun ada rasa kecewa dengan sikap mereka, namun tak bisa dipungkiri bahwa mereka memang keluarga yang baik.
"Yasudah, kalau begitu Mbak ikut ke kamar kamu, ada banyak cerita yang harus kita bahas tentang anak-anak kita," ujar Mama masih gigih untuk mengakrabkan diri pada besannya.
Ibu tak bisa lagi menolak. Tak baik juga menyimpan marah pada orang yang telah mengakui kesalahannya dan memohon maaf dengan tulus. Ibu hanya mengangguk saat Aldo kembali ingin mendorong kursi rodanya.
"Kak Sha, aku antar Ibu dulu ya, jika Kakak butuh sesuatu beritahu aku," ucap Aldo yang sedari tadi hanya banyak diam mendengarkan bermacam masalah orang dewasa itu. Meskipun diam, namun tentu saja dalam hati menyimpan harapan besar untuk kebahagiaan sang Kakak.
"Iya, Dek, terimakasih sudah menggantikan Kakak dalam merawat ibu," ucap Sha tersenyum bangga pada sang adik yang memang sangat menyayanginya dan ibu.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading