Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 49


__ADS_3

Pasangan halal itu keluar dari RS dengan wajah bahagia, Abi tampak begitu perhatian terhadap sang istri, karena saran dokter agar selalu bersikap manis dan penuh perhatian agar Sha tidak terlalu kepikiran, karena tiga minggu lagi Sha akan menjalani operasi Caesar.


"Sayang, malam ini kita tidur dirumah Mama ya, soalnya Mama udah kangen sama kamu," ucap Abi memecah keheningan.


"Oh, yaudah, aku kabari ibu dulu ya, Mas." Sha segera menghubungi ibunya untuk memberitahu bahwa malam ini dirinya dan Abi tidur dirumah Mama Nia.


Setelah mengabari ibu, Abi tak lantas membawa Sha pulang, tetapi ia mengunjungi sebuah mall. Dan tentu saja membuat wanita itu bertanya-tanya.


"Loh, kok kita kesini, Mas?"


"Kita jalan-jalan sebentar ya, Dek, lagian masih ada waktu 'kan? Kamu nggak ingin belanja perlengkapan bayi?" tanya Abi sembari memarkirkan mobilnya dengan baik.


"Hmm... Kayaknya udah semua deh, Mas. Tapi nggak pa-pa juga mana tahu ada yang menarik," jawabnya tersenyum manis


"Nah, setuju. Ayo kita turun sekarang." Abi segera membukakan pintu untuk istrinya yang sampai saat ini masih perawan.


"Pegang tangan aku, Dek," ucap Pria itu masih menggenggam tangan Sha.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas. Kamu kenapa parno begitu?"


"Tentu saja aku takut, bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba nyenggol kamu. Udah, jangan banyak protes."


Sha hanya mengikuti kemana langkah Pria itu. Abi membawa Sha untuk melihat-lihat di bagian kios yang menjual perlengkapan bayi. Sha menatap sekeliling yang terpajang.


"Ya Allah, ini lucu sekali," ucap Sha sembari mengusap beberapa pakaian bayi perempuan yang tampak begitu menggemaskan.


"Kamu suka?" tanya Abi yang masih menuntun tangan Sha.


"Tapi kan kita belum tahu dedeknya cewek atau cowok. Habisnya kamu sih, tadi ngelarang aku untuk lihat jenis kelaminnya," omel wanita itu.


"Hahaha... Nggak usah dipermasalahkan, Dek, kalau kamu suka, yasudah beli saja, nanti kalau anak kita cowok, ya tinggal disimpan buat Adeknya," ujar pria itu memberi solusi.


"Ish, kok kamu udah mikir begitu sih? Satu aja belum keluar," cibir Sha dengan senyum malu.


"Emang aku salah ya ingin punya anak yang banyak dari kamu?" tanya Abi sambil berbisik.

__ADS_1


"Bukan begitu, Mas, yang satu saja belum keluar. Udah ah, jangan mikir kesitu dulu," ucap Sha yang segera beranjak meninggalkan kios baju itu.


"Loh, kamu nggak jadi belinya, Dek?" tanya Abi yang mengekor dibelakang Sha.


"Lain kali saja, Mas, nanti tunggu anak kita lahir saja biar jelas," jawab wanita itu masih menyusuri lantai mall itu.


"Baiklah kalau begitu." Abi masih menggenggam tangan Sha.


Abi membawa Sha masuk ke sebuah toko perhiasan, ia segera menemui pemilik toko untuk mengambil pesanannya.


"Silahkan diperiksa dulu Pak Abi, apakah sudah sesuai dengan pesanannya?" tanya pemilik toko perhiasan itu.


"Sayang, sini?" panggil Abi pada sang istri yang hanya bengong duduk di bangku tunggu.


Sha sedikit ragu. Namun ia segera berdiri untuk mendekat. "Ada apa, Mas?'" tanyanya sembari melihat kotak beludru yang cukup lebar yang berisi satu set perhiasan.


"Dek, apakah kamu suka dengan model yang khusus aku pesan untuk kamu? Atau jika kamu tidak suka, kamu bisa menukarnya dengan yang lain," jelas Abi yang membuat Sha tak mampu bicara apa-apa. Matanya berbinar menatap indahnya perhiasan yang sengaja dipesan Pria itu untuk dirinya.


"Mas, kamu serius pesan ini buat aku?" tanya Sha masih belum percaya sepenuhnya.


"Tentu saja, Dek. Anggap saja ini adalah hadiah pernikahan kita. Ayo sini jari kamu," Abi memasangkan cincin dijari manis Sha, lalu gelang yang berukir indah ditambah ada beberapa permata sebagai pemanisnya. Tinggal kalung dan anting nanti dirumah akan ia pakaikan.


"Alhamdulillah, aku suka, Mas. suka banget," jawab Sha sangat bahagia.


Pria dewasa itu tersenyum lega karena Sha menyukai pemberian darinya. Abi segera mengeluarkan debit card untuk melunasi perhiasan itu.


Merasa sudah tak ada yang akan mereka beli, pasangan itu memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang Sha selalu tersenyum menatap cincin yang melingkar dijari manisnya. Dan tentu saja membuat Abi ikut bahagia dan sangat lega, membuat istri bahagia adalah pahala.


Setibanya di kediaman orangtua Abi, Sha disambut senang oleh Mama.


"Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Mama sembari memberikan tangannya.


"Alhamdulillah sehat, Ma." Sha menerima uluran tangan Mama dan menyalami dengan takzim.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kamu hari ini?"

__ADS_1


"Baik semuanya, Ma, tiga minggu kedepan sudah bisa di Caesar."


"Wah, kamu serius? Berarti sebentar lagi Mama sudah bisa ketemu dengan cucu Mama," ucap Mama dengan antusias.


Setelah berbincang dan makan malam, Abi pamit masuk kedalam kamarnya. Sementara itu Sha masih betah duduk ngobrol dengan Mama, kebetulan Papa sedang keluar kota, jadi menantu dan ibu mertua itu mempunyai banyak waktu untuk membahas banyak hal.


Abi yang merasa bosan menunggu, ia menyibukkan diri dengan membuka MacBook dan memeriksa bermacam email dan laporan yang masuk. Pintu kamar terbuka mengalihkan perhatian dari benda tipis yang ada dihadapannya.


"Udah ngobrolnya, Dek?" tanya Abi tersenyum penuh arti.


Sha sedikit gugup menatap senyum suaminya yang tampak berbeda dari yang biasanya. Sha masih was-was, bagaimana jika Pria itu meminta haknya malam ini?


"Sini duduk, Dek," ucap Abi meminta Sha untuk duduk disampingnya.


"Aku kekamar mandi dulu, Mas," jawab Sha segera melesat masuk. Jantungnya tak karuan saat ditatap horor oleh Abi.


Wanita itu segera berbersih sebagai untuk jaga-jaga. Sha mencoba untuk menenangkan diri, ia tidak boleh cemas seperti ini.


Sha keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Ia kembali ingin keluar untuk mengambil pakaiannya yang ada dikamar tamu yang sebelumnya ia tempati.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Abi yang membuat Sha menghentikan langkahnya.


"Ah, mau ke kamar tamu, Mas," jawab Sha dengan jujur.


"Mau ngapain kamu ke kamar tamu? Kita tidur disini, Dek. Kamu nggak mau tidur sama aku?" tanyanya dengan wajah kecewa.


"Bukan, Mas, aku mau ambil piyama tidurku, kan aku nggak bawa ganti baju dari rumah," jelas wanita itu.


"Oh, yaudah. Jangan lama-lama ya." Abi kembali tersenyum manis.


Sha segera menuju kamar tamu untuk mengganti pakaiannya. Ia kembali menuju kamar sang suami berharap sekali pria itu sudah terlelap, namun saat dirinya masuk, Abi masih sibuk dengan pekerjaannya.


Saat melihat Sha masuk, ia segera menutup MacBook nya dan memusatkan perhatian sepenuhnya pada wanita hamil itu yang tampak sangat cantik sekali malam ini.


Sha begitu gugup saat ditatap oleh Abi. Ini bukan kali pertama mereka tidur berdua, namun kenapa malam ini rasanya sangat mengkhawatirkan saat tatapan Abi bagaikan seekor elang yang siap memangsa buruannya.

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2