
Papa dan Mama mampir ke kediaman Bu Husna. Pasangan itu ingin bertemu dengan anak menantunya. Mereka ingin memastikan bahwa keadaan Sha baik-baik saja.
"Ada apa, Mbak Nia dan Mas Ikhsan malam-malam kesini?" tanya Bu Husna. Sedikit merasa heran dengan kedatangan besannya di tengah malam buta.
"Ah, Mbak dan Mas mu cuma kangen dengan Sha, apakah Sha sudah tidur?" tanya Mama Nia dengan senyum ramah.
"Masuklah, akan aku panggilkan Sha," ucap Ibu mempersilahkan tamunya masuk.
Sha yang sedari tadi hanya blusak-blusuk diatas tempat tidur demi mencari kenyamanan agar matanya bisa terpejam. Masih terngiang-ngiang ucapan Abi yang mengatakan bahwa dirinya wanita yang akan dia pertahankan. Apakah lelaki itu hanya bermulut manis saja?
"Ah, hati kenapa kamu mudah sekali bawa perasaan? Berapa kali aku katakan bahwa dia tidak akan mungkin bisa mencintai kamu. Bagaimanapun juga, kamu akan tetap sebagai figuran untuk mendapatkan anak. Ingatlah sekali lagi bahwa kamu hanya peran pengganti, karena Diana tak bisa memberinya anak."
Sha bergumam sendiri untuk menyadarkan hatinya yang tak bisa sejalan dengan otak. Sungguh rasanya sangat menyiksa. Lelaki itu pandai sekali memberi angan sehingga ia tak bisa memejamkan mata barang sebentar saja.
"Tidak tidak, aku harus melupakan semua kata-kata lelaki PHP itu. Aku hanya fokus dengan bayiku."
Sha mencoba memperbaiki kain selimutnya dan segera memejamkan mata. Namun kembali netra itu terbuka kala suara ibu terdengar memanggilnya.
"Sha! apakah kamu sudah tidur, Nak?" seru Ibu sembari mengetuk dengan pelan.
"Ya, Bu, sebentar!" Sha segera bangkit untuk membukakan pintu. "Ada apa, Bu?" tanyanya sembari memperbaiki mahkotanya yang sedikit acak.
"Di ruang tamu ada Mama dan Papa mertuamu," jawab ibu.
"Hah! Ada apa Mama dan Papa malam-malam begini datang kesini?" tanyanya sedikit heran.
"Ibu juga tidak tahu, kata mereka hanya kangen sama kamu. Udah, sana kamu temui dulu," titah ibu.
"Ah, ya, baiklah. Aku kenakan hijab dulu." Sha kembali masuk dan menyambar hijab instan yang sering ia gunakan jika terdesak.
"Ma, Pa." Wanita hamil itu menyalami tangan kedua orangtua suaminya dengan takzim.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Mama memeluk dengan erat. Wanita baya itu tak kuasa menahan haru. Membayangkan bagaimana jika putranya lama mendekam, sementara istrinya sangat butuh perhatian dan kasih sayang darinya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Ma, kok Mama nangis? Aku dan calon cucu Mama sehat," ucap Sha meyakinkan hati ibu mertuanya.
__ADS_1
"Mama hanya takut, Nak..."
"Takut kenapa, Ma?" tanya Sha tidak paham.
"Ehem...." Papa seperti sedang memberi kode pada Mama agar tak keceplosan.
Sha melihat kedua orangtuanya itu saling pandang. Ia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Pak Abi?
"Mama kamu hanya takut bila kondisi kamu ngedrop lagi, Sha," sambung Papa yang menggantikan ucapan Mama.
"Ah, Mama tidak perlu takut, aku baik-baik saja." Sha mencoba tersenyum kepada kedua mertuanya.
"Oya, Pak Abi kemana, Ma?" tanya Sha yang ingin tahu langsung dari kedua orangtuanya.
Mama dan Papa kembali saling pandang. Rasa tak tega untuk membohongi, namun mereka takut bila nanti kondisi Sha kembali ngedrop dan berdampak buruk pada bayinya.
Saat Papa ingin menjawab, tetiba ponselnya berdering, ternyata panggilan dari pihak Kuasa hukum mereka. Papa permisi sebentar untuk menerima panggilan.
"Ma, Pak Abi kemana?" tanya Sha Kembali. Ia tahu Mama tak mungkin bisa berbohong.
"Abi keluar kota, Nak, ada urusan penting. Kamu jangan khawatir dia tidak akan lama. Abi berpesan agar Mama dan Papa bisa menjaga kamu," jawab Mama jelas berbohong.
"Tapi kenapa nomornya tak bisa dihubungi, Ma? kenapa dia tidak pamit padaku?" tanya Sha dengan curiga.
Mama kembali diam, tak tahu harus memberi alasan apalagi pada anak menantunya itu.
"Ma, kenapa diam? Apakah Mama sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Karena perasaanku sedari tadi tidak tenang," ujar Sha dengan jujur.
Seketika Mama menatap sedih pada anak menantunya itu. Ternyata ikatan batin seorang istri lebih kuat lagi. Walaupun Abi baru saja memulai ingin memperbaiki hubungan pernikahan mereka, namun feeling Sha sudah bisa merasakan jika suaminya sedang dalam masalah.
"Ma, katakan.Tolong jangan sembunyikan apapun dariku?" Sha berusaha meyakinkan Mama agar tak membohonginya.
"Mama, Mama takut bila kamu tidak bisa menahan diri jika mengetahui yang sebenarnya, Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu dan calon cucu Mama."
"Apa itu, Ma? Katakan! Aku janji akan tetap tegar." Janji gadis itu masih berusaha meyakinkan agar Mama mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sebenarnya Abi sekarang ditahan di kantor polisi, Nak," lirih Mama dengan suara tercekat.
"Astaghfirullah. Apa yang terjadi, Ma? kenapa Pak Abi sampai ditahan?" tanya Sha dengan keterkejutannya.
Akhirnya Mama menceritakan akar permasalahan kenapa Abi bisa ditahan. Sha benar-benar tidak menyangka. Rasa cemas kembali menyeruak dalam hatinya.
"Ma, aku ingin ketemu Pak Abi, anterin aku kesana ya, Ma," ucap Sha. Entah kenapa rasa rindu dan cemas menjadi satu.
"Antarkan kemana, Sha?" sambung Papa yang baru saja masuk.
"Pa, Mama minta maaf. Mama tidak bisa berbohong," ucap Mama pada sang suami.
Papa hanya menghela nafas dalam. Ia sangat tahu bahwa istrinya itu tidak tegaan. Apalagi menyangkut putranya sendiri.
"Pa, aku ingin bertemu dengan Pak Abi," ujar Sha memohon.
"Ini sudah malam, Sha. Kondisi kamu juga kurang baik, lebih baik sekarang kamu istirahat, besok pagi kita sama-sama datang ke kantor polisi," jelas Papa.
"Papa janji jemput aku ya." Wanita itu berusaha tetap tenang dan tegar.
"Ya, Papa janji. Kalau begitu sekarang kamu istirahat, Papa dan Mama pulang dulu."
Sha mengangguk patuh, dan kedua mertuanya pamit undur pada Ibu. Sha mengantarkan mereka hingga teras rumah. Ia kembali masuk, namun langkahnya dihadang oleh Ibu.
"Kemana sebenarnya Abi, Sha?" tanya ibu yang tadi tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Di-dia ditahan, Bu," lirih gadis itu segera berhambur masuk kedalam pelukan sang ibu.
Ibu hanya diam sembari mengusap punggung putrinya dengan lembut. Merasa kasihan, meskipun hatinya belum sepenuhnya menerima, tapi tetap saja dia adalah anak menantunya, dia adalah ayah dari bayi yang dikandung putrinya.
Sha melerai pelukannya, ia menatap wajah ibu dengan dalam. "Bu, maafkan Pak Abi, dalam hal ini tidak sepenuhnya kesalahan dia. Aku juga salah karena telah menerima tawaran itu. Dan dia sudah berjanji ingin memperbaiki hubungan kami. Tolong terima dia menjadi menantu ibu," ujar Sha memohon.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1