Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 28


__ADS_3

Atas perintah Papa ikhsan, Art segera membukakan pintu untuk pasangan itu. Sementara Sha tetap duduk tenang disamping Mama Nia. Ia masih menikmati makanan yang ada didalam piring. Mungkin karena terlalu lapar maka tak menghiraukan pasangan itu.


"Hai, kalian datang kok mendadak," sambut Mama. "Ayo sekalian makan."


"Loh, kok dia ada disini, Ma?" tanya Diana menatap Sha dengan rasa tidak suka. Hatinya jadi kesal, kenapa kedua mertuanya itu begitu baik dengannya.


"Namanya Sharena. Jadi biasakan untuk bicara dengan baik dan sopan," ujar Papa memotong ucapan Diana.


"Ah, maaf, Pa," jawab Diana melas.


"Ayo duduklah, kita makan bersama," ujar Pria baya itu tak ingin menanggapi lagi.


Abi dan Diana ikut bergabung makan malam bersama. Sha hanya diam dan acuh, hatinya masih terasa sakit bila mengingat ucapan Abi yang menyakiti perasaannya.


Sha segera menyudahi makanannya, setelah itu ia beranjak dari ruang makan dan kembali kedalam kamar. Tak ingin terlalu ikut berbaur dalam keluarga itu. Ya, ayah dan ibu mertuanya memang sangat baik, namun Pria itu sama sekali tak menganggapnya. Abi hanya menganggap Sha sebagai tempat menanam benih dirahimnya.


Mendadak hati wanita itu melow, selama ini Sha berusaha untuk tak terbawa perasaan, namun sikap Abi beberapa bulan ini yang begitu baik dan penuh perhatian hingga tak dapat dipungkiri bahwa hatinya meleleh juga. Namun Sha segera sadar dan kembali berusaha menata perasaannya yang hampir saja kacau.


Sha duduk melamun diatas ranjang. Kangen dengan ibu dan Aldo, rasa bersalah bergelayut dalam hatinya, bagaimana jika nanti ibu tahu dengan keadaannya saat ini?


"Maafkan aku, Bu, Al, maaf bila aku harus menghilang dalam beberapa bulan ini. Aku harap Ibu dan Aldo baik-baik saja. Maaf jika nanti aku akan membuat ibu dan Aldo kecewa," gumam gadis itu sendiri. Tak terasa dua titik buliran bening jatuh disudut matanya.


Sha meraih ponselnya dan segera menghubungi ibu, ia tak akan bisa memejamkan mata sebelum mendengar suara malaikat tak bersayapnya itu.


"Bagaimana kabar kamu hari ini, Nak? Apakah kamu sudah sampai dengan selamat?" tanya ibu di ujung sambungan.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Bu, ibu jangan khawatir ya. Aku kangen banget sama Ibu," lirih Sha menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Kenapa sedih, Nak? Kakak Sha jangan cengeng dong. Kan selama ini kamu adalah anak ibu yang paling tegar. Lagian kamu tidak akan lama disana 'kan?" tanya ibu memastikan.


"Aku belum tahu berapa lamanya, Bu, tapi aku akan selalu mengabari ibu," janji wanita itu pada sang ibu.


"Baiklah, ibu akan selalu menunggu kabar darimu. Semoga kamu betah dan sehat selalu, jaga diri baik-baik ya, Nak," ujar Ibu memberi pesan.


"Aamiin... Insya Allah aku akan selalu jaga diri dan akan mengabari ibu," janji gadis itu sebelum memutuskan sambungan.


Setelah berkabar dengan ibu, Sha segera merebah untuk istirahat. Sepertinya tidur adalah hal yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa gundah dalam hati.


Kembali wanita itu melewati waktu tanpa mengetahui entah jam berapa Abi dan Diana meninggalkan kediaman orangtuanya. Pagi-pagi sekali ia bangun dengan pikiran lebih tenang. Tak lupa melaksanakan ibadah wajib dua rakaat terlebih dahulu sebelum bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Pagi, Ma, Pa," sapa Sha ikut bergabung bersama kedua mertuanya.


"Pagi, Sayang, ayo duduk," sambut Mama dengan senyum manis.


"Pamit ya, Ma, Pa," ujar gadis itu menyalami dengan takzim.


"Hati-hati ya, Sha, jangan terlalu lelah. Jika kamu lelah, maka segera pulang atau istirahat saja, karena kamu tidak di tuntut untuk bekerja keras. Andai kamu mau maka Papa dan Mama sangat senang bila kamu dirumah saja," pesan Papa pada anak menantu kesayangannya.


Tak bisa ditampik perlakuan Papa sangat berbeda dengan Diana dan Sha. Papa lebih menghargai dan begitu perhatian terhadap Sha, karena perasaannya tak bisa dibohongi, entah kenapa Papa dapat merasakan mana hati yang tulus dan hati yang modus.


"Baik, Pa." Sha segera beranjak dengan diantarkan oleh driver.


Setibanya di kantor Abi belum datang, mungkin pria itu sedang sibuk mengurusi istrinya yang sedang mengidap sakit berbahaya itu. Seperti biasanya Sha fokus dengan agenda kegiatannya yang menjabat sebagai seorang sekertaris Boss.


Tiga puluh menit berlalu pintu ruangan itu terbuka. Sha tahu bahwa Pria itu sudah datang. Ia tak ingin melihat ataupun menyambut kedatangannya. Wanita hamil itu tetap fokus dengan pekerjaannya tanpa minat untuk melihat wajah atasannya.

__ADS_1


"Bacakan jadwal aku hari ini," ujar Abi tak beranjak dari tempat duduknya.


Sha segera berdiri menghampiri meja lelaki itu, lalu membacakan dengan benar dan sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Selesai membacakan, wanita itu kembali ke mejanya.


"Hari ini ada meeting diluar dengan klien, persiapkan semuanya," titah Abi pada wanita itu. Kembali sikapnya dingin seperti semula.


Sha tak menyahut, ia segera mengerjakan perintah Abi. Rasanya sangat malas sekali untuk berkomunikasi dengannya. Namun karena tuntutan pekerjaan, maka ia harus bisa bersikap profesional. Sha berusaha untuk tak mencampur adukkan antara pekerjaan dan hal pribadi.


Pasangan itu datang terlebih dahulu di tempat yang sudah dijanjikan. Mereka menyambangi sebuah restoran dan mengambil sebuah ruangan private room. Tak berselang lama klien yang dinantikan telah datang.


"Selamat pagi Pak Abi!" seru Pria baya yang sedang berjabat tangan dengan Abi, dan setelah itu berpindah pada Sha.


Seketika wanita itu terperangah melihat siapa rekan bisnis suaminya, yaitu lelaki baya yang waktu itu berjalan bersama Diana. Sha masih terpaku. Begitu juga dengan Pria itu yang tampak menjadi serba salah.


"Sha!" ujar Abi memukul bahu wanita itu untuk menyadarkannya.


"Ah, ya. Selamat pagi, Pak," ucap Sha merapatkan kedua tangannya bentuk menghormati Pria itu tanpa harus berjabat tangan.


"Ah, ya pagi," balas Pria itu tampak gugup.


Mereka duduk mulai membahas bisnis yang akan mereka kerjakan. Sha berusaha tenang dan menerangkan segala ide dan pokok-pokok penting dalam pembahasan itu.


Empat puluh menit berlalu, akhirnya meeting selesai, dan kedua belah pihak sudah sepakat untuk bekerja sama. Sha masih mengamati gerak-gerik Pria itu. Otaknya berpikir, bukankah Diana bilang Pria baya itu adalah Oomnya, tapi kenapa Abi sepertinya baru mengenali.


Usai makan siang rekan bisnis suaminya itu pamit untuk beranjak terlebih dahulu. Kini hanya tinggal Sha dan Abi masih diruangan itu. Sha menatap Abi dengan bermuka datar. Entah kenapa jiwanya merasa tak tenang bila mendiamkan apa yang dia tahu. Namun rasa takut dan ragu masih bergelayut dalam hati. Bagaimana jika nanti Abi akan berpikir buruk lagi tentang dirinya.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2