
Sudah tiga minggu pasangan halal itu menempati rumah baru mereka. Dan hari ini adalah hari dimana Sha akan menjalani operasi Caesar. Karena sudah di jadwalkan, maka tak perlu harus menunggu kontraksi dulu.
Sha sudah menggunakan pakaian tindakan. Wanita itu tampak dengan segala kecemasannya menunggu beberapa menit lagi untuk masuk kedalam ruang operasi. Semua keluarga datang menunggui dirinya. Apalagi keluarga Wibowo yang sudah tak sabar untuk menunggu kelahiran cucu pertama mereka.
Sha selalu menggenggam tangan Abi. Ia menatap wajah tampan sang suami. Berharap semua akan baik-baik saja agar mereka bisa menjalani rumah tangga dengan penuh kebahagiaan yang lengkap.
"Mas, kamu janji temani aku ya?" pintanya pada Pria itu.
"Tentu Sayang, aku akan selalu menemani kamu. Sekarang kamu jangan khawatir ya. Kamu harus fokus, jangan banyak pikiran. Percayalah, semua akan baik-baik saja." Abi berusaha untuk menenangkan sang istri.
"Harus semangat ya, Nak. Jangan pikirkan hal yang lain, pikirkan bagaimana nanti kebahagiaan kita saat bertemu dengan dia," ucap Ibu memberi dukungan pada putrinya.
"Benar apa yang dikatakan ibumu, nak. Kamu harus semangat. Lihatlah wajah-wajah orang yang selalu menyayangi kamu dengan tulus. Do'a kami selalu bersamamu," timpal Mama ikut menyemangati.
"Terimakasih banyak atas support dari Mama, ibu, Papa, dan yang lainnya. Aku akan semangat," ucap Sha berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun hatinya masih diliputi kecemasan. Setidaknya sedikit lebih tenang dengan segala semangat dari mereka.
"Keluarga dari Ibu Sharena Husman, mari kita bawa keruang operasi," seru perawat yang menangani.
"Baik, Sus." Abi bersiap untuk ikut menemani sang istri yang akan berjuang melahirkan zuriatnya.
"Ibu, Mama, Papa, Al. Do'ain aku ya," lirih Sha sebelum masuk kedalam ruangan itu.
"Pasti, Nak. Kami akan selalu mendoakan kamu," ucap mereka bersamaan. Mama dan Ibu memberi kecupan di kening wanita hamil itu.
Abi dan suster segera mendorong Hospital bad itu masuk kedalam ruang operasi. Sha segera ditangani oleh para dokter yang ikut andil dalam proses Caesar.
"Bagaimana, Sha? Apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan Abi junior?" tanya dokter Khanza pada Sha.
"Insya Allah, aku sudah siap Kak," jawab Sha dengan yakin. Beruntung Dokter yang menanganinya adalah adik dari sahabat suaminya, yaitu Yanju Sanjaya. Sha sudah cukup akrab dengan Dokter cantik itu.
Proses terus berjalan, Khanza sengaja membawa Sha bicara agar tak terlalu cemas saat Dokter anastesi menyuntikkan obat bius.
"Kamu mau bius total atau setengah badan saja?" tanya Khanza memberi pilihan.
"Kalau bisa setengah badan saja, Kak."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kamu rileks ya. Nggak sakit kok." Khanza berusaha meyakinkannya.
Setelah selesai, kini giliran Khanza yang mengambil tindakan. Proses pengeluaran bayi mulai dilakukan. Abi tak sanggup melihat pemandangan itu, ia tetap membawa sang istri untuk bicara selama proses itu berjalan.
"Mas, apakah anak kita sudah keluar?" tanya Sha pada sang suami.
"Belum, sayang, mungkin sebentar lagi. Apakah kamu merasakan sakit?" tanya Abi sembari mengecup kening ibu dari anaknya itu.
"Tidak sama sekali, Mas. Perut aku terasa tebal dan kebas," jawabnya memang begitu yang ia rasakan.
"Syukurlah, berarti biusnya berjalan dengan sempurna."
Saat mereka tengah sibuk ngobrol, terdengar suara tangisan bayi begitu menggema di ruangan itu. Seketika Abi mengucapkan syukur dan mengecup wajah Sha.
"Alhamdulillah, anak kita sudah lahir, Dek. Terimakasih, sayangku." Abi berkata dengan mata berkaca-kaca. Rasanya masih mimpi. Akhirnya setelah menunggu sekian lama untuk menjadi seorang ayah, kini sudah tercapai.
"Alhamdulillah... Sha juga tak kuasa menahan air matanya saat mendengar suara tangisan sang bayi yang menyentuh kalbu.
"Selamat ya, Mas Abi dan Sharena, anak kalian laki-laki," ujar Dokter Khanza, memperlihatkan sesaat sebelum menyerahkan pada bidan yang akan membersihkan, dan di periksa oleh dokter anak.
Kini Sha sudah selesai menjalani operasi Caesar. Dan bayinya sedang di adzankan oleh ayahnya. Sha sudah di masukkan ke ruang observasi menunggu dua jam sebelum dibawa ke ruang rawat inap.
Saat Sha sudah di pindahkan ke ruang rawat. Seluruh keluarga datang demi melihat garis keturunan Wibowo itu. Mama memeluk bayi mungil itu dengan tangis haru.
"Cucu Oma, terimakasih sudah hadir di keluarga ini, Nak. semoga kamu menjadi anak yang Sholeh," seru Mama masih terisak karena terharu. Akhirnya mereka bisa merasakan menjadi kakek dan nenek.
"Sha, terimakasih banyak, Nak. kamu sudah menjadi wanita yang hebat. Mama sangat bahagia." Mama memberi kecupan pada anak menantunya.
Sementara ibu dan Aldo tak kalah bahagia menyambut kelahiran baby boy. Ibu juga tak menyangka sekarang sudah mempunyai seorang cucu yang sangat tampan.
"Selamat ya, Nak. Semoga rumah tangga kalian diliputi kebahagiaan atas hadirnya buah cinta diantara kalian," ucap Ibu pada anak dan menantunya.
"Aamiin... Terimakasih Do'anya, Bu." Abi tersenyum bahagia.
Bayi mungil itu tak luput dari dekapan orang-orang yang menyayanginya. Sha yang merasa sangat lelah, maka memilih untuk istirahat sejenak.
__ADS_1
"Tidurlah, sayang, jangan pikirkan anak kita, biarkan mereka meluapkan rasa bahagia mereka," ucap Abi mengusap mahkota sang istri dengan lembut.
"Tapi dia belum ASI, Mas?"
"Tidak apa-apa, karena ASI kamu belum keluar, maka Dokter anak sudah memilihkan sufor yang cocok untuknya hanya sementara waktu," jelas Abi.
"Kira-kira berapa lama bisa keluar ASI-nya Mas?"
"Kurang tahu, Dek, kalau mau cepat disarankan dokter agar Papanya yang ngebantuin," jawab lelaki itu tersenyum nakal sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Ya Allah, nih Bapak orang! Baru juga habis melahirkan, otaknya udah oleng aja," sembur wanita itu yang tak jadi memejamkan matanya.
"Hehe... Habisnya itu gara-gara lama dianggurin, jadinya mampet," jawabnya tak ingin kalah.
"Salah sendiri, ngapain juga selama ini berlagak cuek dan acuh tak acuh."
"Ho'oh, jadinya nyesel sendiri ya, Dek. Tapi serius, besok-besok nggak akan pernah dianggurin lagi. Malahan kalau bisa aku di kasih jadwal biar nggak rebutan dengan baby boy."
"Ya Allah, suami aku ini semakin ngeres aja tuh otak ya. Mama...!" panggil Sha mengadu pada Mama Nia yang masih sibuk dengan cucunya.
"Ada apa, Nak?" tanya Mama menghampiri, wanita baya itu menatap anaknya yang sedari tadi senyum-senyum gaje.
"Kamu kenapa Abi?" tanya Mama menatap curiga.
"Tahu tuh, Ma. Anak Mama otaknya oleng," adu Sha pada sang Mama.
"Eh, apaan. Nggak kok Ma. Hehe... Aku hanya godain istri aku, Ma," kilah Pria itu.
"Jangan macam-macam kamu ya. Coba aja mikir aneh-aneh, Mama akan bawa Sha dan baby boy kerumah!" ancam Mama.
"Hahaha... Mama gitu Amad. Nggaklah Ma, aku tidak akan setega itu. Menantu Mama aja yang pernoan."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1