Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
45


__ADS_3

Setelah menggunakan pakaian, Sha berdandan tipis, dan menyemprotkan parfum kesukaannya dengan aroma lembut. Abi yang berdiri di depan pintu menjadi sorotan ibu mertuanya.


"Kamu kenapa jadi Security disini?" tanya Ibu yang paham dengan kecanggungan diantara mereka.


"Ah iya, Bu, Sha lagi ganti baju," ucap Abi tersenyum kaku sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Emang selama ini kalian tidak pernah tidur satu kamar?" tanya Ibu


Abi hanya tergagap, namun pintu kamar sudah terbuka. Sha sudah menggunakan daster hamilnya dengan rambut yang masih terbungkus oleh handuk.


"Ayo kita makan, Mas," ucap Sha.


"Buatkan kopi dulu untuk Abi, Sha," timpal ibu.


"Ah iya, Bu." Sha tersenyum malu. Ia tak menyadari kehadiran sang Ibu disana.


Sha segera menuju dapur, dan membuatkan kopi hitam kesukaan Pria dewasa itu.


"Kopinya, Mas," ucap Sha sembari menyuguhkan diatas meja.


"Terimakasih ya." Abi tersenyum manis segera menyeruput kopi panas dengan perlahan.


"Mana nasi ramesnya, Dek? bawa kesini, ayo kita makan sekarang," ucap Abi.


"Ya, sebentar." Sha beranjak mengambil kantong plastik yang berisikan nasi Padang itu.


"Ibu sama Al mana? Nggak mau makan bareng?" tanya Abi sembari celingukan mencari keberadaan ibu mertuanya.


"Nasinya cuma satu, Mas. Atau kita beli dulu biar bisa makan bareng," ucap Sha memberi solusi, ia tidak tahu kalau Abi juga membelikan untuk Ibu dan adiknya.


"Nggak, tadi aku sudah beli sekalian untuk ibu dan Aldo."


"Oh, yaudah aku panggil ibu dulu." Sha segera beranjak mencari sang ibu.


"Mana ibu dan Aldo?" tanya Abi yang melihat Sha sendiri.


"Ibu dan Aldo sudah makan tadi, Mas, dan Aldo sudah pergi karena ada latihan," ucap Sha.


"Oh yasudah, ayo kita makan sekarang." pasangan itu makan berdua saja. Sha tampak malu-malu saat berdekatan dengan suaminya yang selama ini terkenal kaku dan jutek sekali.

__ADS_1


"Buka mulut, Dek," ucap Abi menyuapi dengan senyum.


"Nggak, aku bisa makan sendiri, Mas," tolak Sha dengan wajah malu.


"Ayolah, kapan lagi aku bisa menyuapi kamu. Aaa..." Abi masih memaksa, Sha tak dapat menolak. Dengan wajah malu ia membuka mulutnya.


Jangan ditanya bagaimana perasaan kedua pasangan itu saat ini. Rona kebahagiaan begitu terpampang jelas diwajah mereka masing-masing. Abi menyuapi lebih banyak para sang istri daripada masuk kedalam mulutnya.


"Aku udah kenyang, Mas," tolak Sha.


"Satu kali lagi," ucap Abi mengarahkan sendok terakhir.


Sha hanya mengangguk. Setelah menyuapi Sha, Pria itu menghabiskan sisa makanan yang ada. Selesai makan Abi segera mengemas.


"Biar aku saja, Mas," ucap Sha yang mengambil alih pekerjaan suaminya.


"Tidak usah, Dek, biar aku saja. Kamu duduk saja."


Sha hanya diam memperhatikan lelaki itu yang sedang fokus mengemas peralatan makan, setelah itu mereka duduk ngobrol. Tak berselang lama adzan magrib berkumandang. Abi bersiap pergi ke masjid untuk ibadah berjamaah.


"Ke masjid dulu ya, Dek," pamit Abi pada sang istri.


Selesai sholat magrib, Sha berbaring diatas ranjang, karena pinggangnya terasa sudah kaku. Wanita itu tiduran sembari memainkan ponselnya. Pintu kamar terbuka mencuri atensinya. Ia melihat Abi baru saja pulang menjemput pahala.


Abi menyimpan peralatan ibadahnya di dalam lemari sang istri, setelah itu ia ikut berbaring disampingnya. Seketika wanita itu merubah posisi tidurnya sedikit bergeser dari sang suami yang sudah mepet.


"Kenapa? Apakah kamu masih belum bisa menerima kehadiranku?" tanya Abi dengan lembut, tangannya terulur mengusap pipi mulus itu.


"Aku, aku..." Sha tampak gugup.


"Tidak apa-apa, Sayang, aku mengerti. Kamu tidak perlu memaksakan bila hatimu belum siap. Aku akan selalu sabar menunggu," ucap Abi pengertian sekali.


"Terimakasih ya, Mas. Maafkan aku, tolong beri waktu," ucap Sha dengan lirih.


"Ya, Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Oya, kamu ingin jalan-jalan?" tanya Abi merubah topik pembahasan.


"Jalan-jalan?" tanya Sha tidak paham.


"Iya, kita jalan-jalan cari angin yuk," ajaknya untuk membuat wanita itu agar terbiasa dengan kehadirannya.

__ADS_1


"Kemana, Mas?"


"Kemanapun kamu mau."


"Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu ya." Sha juga bersemangat untuk pergi dengan lelaki itu.


Abi dan Sha berpamitan pada ibu untuk keluar sebentar. Ada perasaan berbeda dihati gadis itu saat berdua dengan lelaki yang sering diucapkannya sebagai suami diatas kertas.


"Dek, mau kemana?" tanya Abi masih fokus mengemudi.


"Nyari rujak, Mas," jawab Sha yang memang sedang menginginkan olahan buah-buahan itu.


"Kamu lagi ngidam?" tanya Abi


"Kayaknya iya, Mas. Sebenarnya aku sering tiba-tiba ingin sesuatu, tapi aku tidak berani mengatakan, karena aku takut kamu tidak mau memenuhi keinginan aku. Lagipula bila malam kamu tidak pernah tidur dirumah Mama," ucap Sha seperti sedang mencurahkan isi hatinya selama masa kehamilan.


Abi seketika menepikan kendaraannya dan menatap wajah sang istri yang sedang bersedih hati. Sungguh selama ini ia benar-benar telah banyak menyakiti perasaannya.


"Dek, maafkan aku, tapi kenapa kamu tidak bilang padaku bila kamu menginginkan sesuatu. Aku pasti akan memenuhi keinginan kamu," sesal Abi menatap sendu.


"Aku tidak yakin, Mas, karena aku tahu kamu sangat tidak menyukai aku. Aku takut hanya merepotkan kamu."


"Jangan katakan itu, Dek. Jujur, aku tidak pernah membencimu. Tapi aku hanya berusaha untuk menjadi seorang lelaki yang tetap berpegang teguh dengan komitmen agar hatiku tak terbagi dengan wanita lain, karena sesuai kesepakatan kita yang tak akan pernah melibatkan perasaan."


"Tapi setelah kamu kecewa karena Diana tidak setia, maka kamu mengatakan ingin memulai hidup yang baru denganku. Apakah kamu yakin bisa lepas dari wanita masalalumu? Apakah yakin tidak akan menjadikan aku hanya sebagai tempat perlarian saja?" tanya Sha menatap serius.


Abi menghela nafas dalam. Ia tahu ini tidak mudah bagi Sha untuk percaya begitu saja. Abi harus bisa meyakinkan bahwa dirinya tak pernah ada niat untuk mempermainkannya.


"Dek, aku sudah siap memberikan seluruh hatiku untukmu. Tolong percaya denganku. Apalagi sekarang sudah ada dia diantara kita. Aku ingin menghabiskan hari-hariku bersamamu hingga nanti kita menua bersama," ucap Abi sembari mengusap perut Sha dengan lembut.


"Beri aku waktu untuk percaya dengan segala ucapan kamu, Mas. Aku hanya takut."


"Ya, Sayang, aku akan selalu sabar menunggumu. Mulai saat ini hingga selamanya kita akan tetap bersama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Bagaimana dengan Diana?" tanya Sha yang masih penasaran.


"Aku sedang mengurus surat perceraian. Aku sudah katakan, mungkin aku tipe lelaki yang mencintai terlalu buta, namun bila cintaku sudah di nodai, maka aku tidak akan pernah memberi sedikit saja maaf. Dan itupun berlaku padamu," ucap Abi dengan tegas, Sha sedikit terjingkat mendengar ucapan Pria itu seperti sedang memberi peringatan.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2