Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 44


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Abi segera menuju kediaman istrinya. Rasa tak sabar ingin segera bertemu dengan wanita itu. Ditengah perjalanan Abi teringat permintaan sang istri yang ingin makan berdua dengannya.


Abi menepikan kendaraannya di sebuah rumah makan, dan tak lupa ia membeli tiga bungkus nasi rames Padang. Ia membelikan untuk Ibu dan Aldo juga. Dan tak lupa untuknya satu berdua, sesuai permintaan wanita itu.


Sesaat ia bingung dengan lauk kesukaan Sha. Abi segera menghubungi Aldo untuk menanyakan lauk kesukaan kakaknya.


"Ya, Mas Abi, ada apa?" tanya Aldo.


"Al, Mas mau kerumah, dan sedang membelikan nasi rames, tapi Mas tidak tahu apa lauk kesukaan kakakmu?" tanya Abi.


"Jadi Mas Abi sudah bebas?" tanya Aldo sedikit kencang.


"Ssshhtt... Jangan keras-keras, aku ingin memberi kejutan padanya. Sekarang katakan apa menu kesukaan Sha?" tanya Abi dengan sedikit berbisik.


"Ya ya, Kak Sha menyukai rendang Padang, sama satu lagi, yaitu ikan patin bakar," jelas Aldo memberitahu.


"Ah, baiklah akan aku belikan untuknya. Kamu dan Ibu mau apa?" tanya Abi sekalian.


"Aku ayam bakar madu saja, Mas, Ibu sama dengan Kak Sha, rendang daging," jawab Pria remaja itu.


"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Ingat jangan sampai dia tahu kalau aku sudah bebas!" pesan Abi pada adik iparnya.


"Oke, beres."


Abi segera memesan tiga bungkus nasi rames dengan lauk yang berbeda. Selesai mendapatkan pesanannya ia segera menuju kediaman sang istri. Kembali hati Pria itu mulai tak tenang.


Tak berselang lama mobil yang dikendarainya sudah menepi di halaman rumah sederhana itu. Abi turun dari mobil dan disambut oleh ibu yang membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Bu," ucap Abi dengan ramah sembari menyalami dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam... Kapan kamu bebas, Nak?" tanya Ibu dengan nada lembut. Wanita baya itu sudah mulai berdamai dengan keadaan.


"Tadi jam sepuluh pagi, Bu, Alhamdulillah prosesnya berjalan mudah. Aku bebas bersyarat," jelas Abi dengan jujur.


"Syukurlah, tak apa. Lain kali ganti pelajaran, jangan suka main hakim sendiri," ucap Ibu memberi sedikit wejangan.

__ADS_1


"Baiklah, Bu, terimakasih nasehatnya," ucap Abi menghormati nasehat yang diberikan, meskipun sebenarnya hatinya tak akan pernah memberi ampun pada kedua pengkhianat itu.


"Oya, Sha mana, Bu, Kok sepi?" tanya Abi celingukan.


"Ada dikamar, tadi lagi mandi. Masuklah," ucap Ibu menyuruh masuk.


"Baiklah, Oya, ini nasi rames untuk ibu dan Aldo." Abi menyerahkan satu kantong yang memang sengaja dipisah dengan punya Sha.


"Terimakasih, kenapa kamu repot-repot."


"Ah, tidak repot sama sekali, Bu."


Abi segera menuju kamar sang istri. Saat ingin masuk, kembali jantungnya tak karuan. "Ya Allah, kenapa aku segugup ini untuk bertemu dengan istriku sendiri? Apakah memang saat ini aku sedang jatuh cinta?" gumam Pria itu dengan sendirinya.


Abi mengetuk pintu kamar itu berulang kali, namun tak ada jawaban, maka ia berinisiatif untuk masuk tanpa izin orangnya. Bodo amatlah. Lah wong masuk kamar kekasih halalnya kenapa harus minta izin dulu.


Abi membuka pintu kamar, kepalanya melongok kedalam untuk mencari keberadaan wanita hamil itu, namun tak ia temui. Mungkin saja Sha sedang mandi. Karena kamar mandi ada diluar, maka ia mencoba menunggu.


Merasa canggung ada dikamar itu. Baru kali ini ia menduduki ranjang sang kekasih halalnya. Wangi wanita itu masih menguar di ruangan itu. Abi menunggu sembari memainkan gawainya untuk menghilangkan rasa bosan dan rasa nervous.


"Aaaaakh!" Sha menjerit kembali lari keluar kamar.


"Ada apa toh, Nduk?" tanya Ibu ikut jantungan melihat putrinya yang lari ketakutan hanya menggunakan handuk yang masih ia kenekan.


"Ada orang dikamar aku, Bu. Aldo mana , Bu? Ayo teriaki, Bu!" ucap Sha dengan ketakutan.


"Loh loh, orang siapa? Dia suamimu. Abi," ucap Ibu memberi tahu.


"Hah! I-ibu serius?" tanya Sha tak percaya.


"Iya, ngapain Ibu bohong. Udah, sana. Ada-ada aja kamu, untung saja jantung ibu tidak kumat," dumel ibu pada putrinya.


"Iya, aku minta maaf, lagian Mas Abi datang kenapa tidak mengabariku." Kesal wanita itu segera menuju kamarnya.


Abi yang sedari tadi mendengarkan obrolan ibu dan anak itu. Saat Sha sudah kembali ke kamarnya, ia kembali merebahkan diri dengan pura-pura tidur lelap.

__ADS_1


Sha membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Ia melihat Pria dewasa itu sedang tertidur pulas. "Kenapa secepat itu dia tidur," gumamnya sembari mengambil pakaian ganti di lemari. Sha yang ingin membuka handuk penutup tubuhnya, namun ia baru ingat ada orang dikamarnya.


Wanita itu jadi bingung sendiri untuk menggunakan pakaiannya. Sha menilik Pria itu dari dekat dengan cara merangkak diatas tempat tidurnya.


"Mas Abi!" panggil Sha, namun tak ada respon dari sang suami. "Benaran tidur?" Sha kembali untuk turun dari ranjang, namun...


Graaapp!


"Aaakh!" Sha menjerit seketika saat tubuhnya diraih oleh Abi hingga jatuh diatas tubuhnya.


"Ssshhtt.... Jangan jejeritan, Dek, nanti kedengaran Ibu," bisik Abi. Seketika tatapan mereka bertemu. Jangan ditanya bagaimana jantung Sha saat ini.


Kini wajah mereka begitu dekat, Abi meraih tengkuk Sha agar mengikis jarak. Sebuah kecupan hangat singgah di bibir tipis wanita hamil tapi masih perawan itu.


Seketika tubuh Sha bergetar saat menerima sentuhan dari suaminya. Ini kali pertama ia rasakan sensasi yang luar biasa.


"Mas, perut aku tidak nyaman," ucap Sha yang merasa bayinya ikut menyikut sang ayah yang sudah mulai nakal.


"Ah, maaf, Sayang. Kalau begitu kamu yang dibawah," ucapnya seketika memutar posisi. Abi membalikkan tubuh Sha hingga posisi mereka bertukar.


Kedua tangan Pria itu bertumpu pada sisi kanan dan kiri agar bobot tubuhnya tak seutuhnya menimpa perut buncit Sha. Abi tersenyum manis sembari menatap bola matanya. Rambut Sha yang terurai indah membuat hasrat lelaki itu semakin meronta-ronta.


"Mas, a-aku belum siap," ucap Sha membuat Pria itu segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Ah, ya. Aku minta maaf," ucap Abi dengan ekspresi wajah yang gugup dan menahan malu.


"Aku ingin ganti pakaian, apakah kamu bisa keluar sebentar?" tanya Sha menatap datar.


"Baiklah. Oya, jangan lama-lama ya, itu tadi Mas sudah beli nasi Padang untuk kita makan berdua," ucap Abi, ia berusaha untuk menetralkan perasaannya. Walaupun Sha sedang mengandung anaknya, namun ia tahu tak akan semudah itu, karena wanita itu hamil bukan dari hasil skinship diantara mereka. Abi harus lebih sabar untuk hal itu.


"B-baiklah," jawab Sha dengan gugup. Ini benar-benar membuatnya menjadi kaku.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2