
Mengikuti saran Dokter, Sha sengaja tidak masuk kantor selama dua hari. Selama itu pula pasangan itu tak bertemu, Abi tak pernah datang menemui istri keduanya.
"Mau kemana kamu, Mas?" tanya Diana saat melihat suaminya sudah rapi.
"kerumah Mama, kamu mau ikut?" tanya Abi ber basa-basi.
"Baiklah, tunggu sebentar aku siap-siap dulu ya," jawab Diana mengiyakan ajakan suaminya.
Abi hanya termangu mendengar jawaban sang istri, ini suatu yang langka. Tumben sekali wanita itu mau diajak kerumah orangtuanya. Abi segera mengirim pesan pada Mama.
"Ma, aku dan Diana mau kerumah, tolong suruh Sha tetap dikamar saat kami disana." Pesan Abi pada sang Mama.
"Tumben kamu mau aku ajak kerumah orangtuaku?" tanya Abi sembari fokus mengemudi.
"Kenapa emangnya, kamu tidak suka? kan aku sedang berusaha untuk menjadi lebih baik lagi," jawab Diana.
"Bu-bukan begitu maksud aku, ya, syukurlah jika kamu memang ingin berubah. Aku berharap kamu bisa menjalin hubungan baik dengan Mama," ucap Abi berharap yang terbaik.
Diana hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Tak begitu lama, kini mobil yang dikendarai oleh Pria itu sudah memasuki perkarangan rumah Wibowo.
Ucapan salam dari pasangan itu disambut baik oleh Mama. Diana segera menyalami kedua mertuanya.
"Apa kabar, Ma?" tanya wanita itu sembari cipika cipiki.
"Alhamdulillah Mama dan Papa baik. Kamu dan Abi darimana? Ada acara diluar?" tanya Mama heran melihat kehadiran menantu pertamanya.
"Nggak ada acara apa-apa kok, Ma, kami memang sengaja mau berkunjung kesini. Kangen aja sama mama dan papa," ucap wanita itu yang masih ditatap heran oleh Mama.
"Ya sudah, ayo kita makan malam bersama, kebetulan Mama sudah masak banyak," ajak Mama membawa menantu dan anaknya menuju ruang makan.
__ADS_1
Sementara Papa hanya bersikap biasa saja. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh lelaki baya itu. Terlihat sikap Papa begitu datar, tak begitu berminat untuk menyambut kedatangan menantunya.
Keluarga itu makan dalam suasana kekeluargaan, Mama terlihat senang, namun Papa terlihat bersikap dingin. Apakah perasaan Pria itu tak dapat dibohongi?
selesai makan, keluarga itu ngobrol diruang keluarga. Sementara Sha hanya berdiam diri dikamar, sesuai permintaan Mama, ia hanya menghabiskan waktu dengan berselancar di dunia Maya.
Entah kenapa jiwa keponya meronta ingin mengintip akun sosmed Pria yang juga sudah menjadi suaminya itu. Terlihat foto profilnya begitu mesra dengan Diana.
Wanita itu masih menscoroll kebawah untuk melihat yang lainnya, namun sepertinya Pria itu tidak terlalu suka eksis di dunia maya. Terlihat hanya beberapa foto yang di upload.
Sha hanya menatap gambar pasangan itu yang terlihat sangat serasi, senyum tipis terbingkai di bibirnya. Semoga semua cepat berlalu, jika nanti metode yang dijalaninya berhasil, maka Sha berniat akan menitipkan bayinya pada Mama untuk sementara waktu hingga ia berani mengakui pada sang ibu tentang yang sebenarnya.
Sedikit penasaran gadis itu bangkit dari pembaringannya, ia berjalan mendekati pintu kamar, lalu membuka sedikit dan mengintip dari celah kecil yang terbuka. Terlihat Diana dan Mama tersenyum bersama.
Sha ikut tersenyum, semoga hubungan mereka segera membaik. Seperti harapan yang beberapa hari lalu pernah Mama ungkapkan, yaitu tentang hubungan mereka yang renggang.
Sha kembali menutup pintu kamar itu, dan memilih untuk segera tidur. Ada perasaan yang tak dapat ia tebak, merasa terkucilkah dirinya? Ah, ia tidak boleh berpikir seperti itu, kehadirannya di dikeluarga itu memang hanya untuk mendapatkan keturunan, jadi ia harus pandai membentengi diri agar tak baperan.
Setelah mendapatkan balasan pesan dari sang adik, bahwa ibu baik-baik saja, hatinya sudah lega dan baru bisa memejamkan mata. Tak perlu lama gadis itu sudah menemui mimpinya. Tak tahu entah jam berapa Abi dan Diana pulang meninggalkan kediaman orangtuanya.
Pagi ini Sha pamit untuk kekantor, dan sorenya akan pulang kekediamannya. Karena sudah tidak ada keperluan lagi, semua proses sudah dijalani hanya menunggu hasilnya dua minggu kedepan.
"Kamu yakin ingin pulang hari ini, Nak? Kenapa tidak disini saja dulu. Mama pengen kamu tetap disini bersama kami," lirih Mama merasa berat berpisah dengan anak menantunya.
"Mama tidak perlu khawatir, aku akan sering-sering main kesini. Aku juga tidak bisa meninggalkan ibu dan Aldo terlalu lama, Ma. Seandainya nanti aku positif hamil, maka aku harus meninggalkan mereka kembali dengan waktu yang cukup lama," jelas Sha meminta pengertian sang Mama.
"Benar apa yang dikatakan Sha, Ma, biarkan dia pulang, kita jangan memberatkan langkahnya. Mama kan tahu, bahwa ibunya baru saja pulih dari sakit," ujar Papa membenarkan.
"Iya, Mama minta maaf ya, Nak, karena terlalu banyak menuntut," ucap Mama memeluk gadis itu dengan sayang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ma, kalau begitu aku pamit dulu ya, Ma, Pa."
"Iya, selalu kabari Mama dan Papa ya, jangan sungkan mengatakan apa saja jika kamu memerlukan bantuan kami," pesan Papa mengusap kepala anak menantunya dengan lembut.
"Baik, Pa." Sha segera beranjak meninggalkan kediaman mertuanya.
Sha berangkat kantor diantarkan oleh driver dari kediaman mertuanya. Setibanya di kantor ia segera menuju ruangannya. Cukup lama wanita itu mengerjakan tugasnya. Atensinya teralihkan saat pintu ruangan terbuka.
Wanita itu menatap sesaat, setelah itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak ada sambutan apapun, mereka benar-benar semakin jauh, biasanya Sha memberi anggukan hormat menyambut kedatangan Pria itu, namun kini ia merasa enggan. Entahlah, sejak mendengar peringatan Abi yang mengatakan bahwa dirinya tak boleh berharap perasaan sekecil apapun darinya, maka Sha berusaha untuk tidak melibatkan perasaannya.
Bahkan wanita itu masih menepati janjinya untuk tidak tersenyum di depan lelaki yang telah berstatus sebagai suaminya.
"Mana laporan yang aku minta kemaren?" tanya Abi
"Belum selesai, masih saya kerjakan, nanti jika sudah selesai akan segera saya kirimkan ke email Bapak," jawab Sha datar.
Abi hanya mengangguk dan segera menduduki kursinya. Tak ada percakapan diantara mereka. Sha hanya fokus dengan pekerjaannya tanpa ingin menatap atasannya itu.
Jam makan siang Sha segera meninggalkan ruangan, ia segera menuju kantin untuk mengisi kampung tengahnya yang sudah protes minta di kenyangkan.
"Kosong nih?" tanya seseorang membuat Sha menghentikan sendok yang akan masuk kedalam mulutnya, ia menatap sosok yang sudah ia kenal.
"Ah, Pak Hazel. Ya, kosong, silahkan Pak," ucap gadis itu mempersilahkan dengan ramah.
"Oke, makasih ya." Hazel duduk berhadapan dengan Sha. Kedua insan itu ngobrol ringan sembari fokus dengan makanannya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata mengamati dari kejauhan. Ada sesuatu yang ia rasakan saat melihat senyum wanita itu tampak begitu mempesona untuk lawan bicaranya. Ah, tidak, terserah wanita itu mau tersenyum dengan siapapun, itu bukan urusannya. Abi segera berlalu meninggalkan mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰