Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 33


__ADS_3

"Ya, tentu saja," jawab Erlan sembari mengukir senyum manis.


Sha memberikan ponselnya pada Pria itu untuk menyimpan kontaknya. Entah kenapa rasanya tak ingin lagi kehilangan jejaknya.


Erlan segera memasukkan nomornya, dan kembali menyerahkan pada Sha. "Ini nomor aku, nanti kamu call ya," ucapnya sebelum beranjak.


"Ah, baik, terimakasih, Mas," ucap Sha membalas dengan senyum bahagia seakan ia lupa ada seseorang yang sedari tadi menahan sesuatu dalam dirinya. Cuaca tak begitu terik, namun hatinya berasa terbakar tak menyala.


Abi mendahului wanita itu dengan membawa hati kesal tak berkesudahan. Sha melebarkan langkahnya sedikit lebih cepat agar tak kehilangan jejak sang suami.


Abi memilih duduk di sebuah bangku besi yang ada di bawah pohon rindang yang ada di taman. Sha tak langsung ikut duduk, tatapannya tertuju pada kios Boba. Rasanya siang seperti ini sangat mantap minum yang segar-segar.


Perempuan itu tampak acuh tak menghiraukan raut wajah sang suami yang tampak kusut seperti jeruk purut sejak tadi. Sha duduk sedikit menjarak sembari menyesap minuman segar yang ada di tangannya.


"Kamu cuma beli satu?" tanya Abi menatap gemas, benar-benar istri tak berperasaan.


"Iya," jawab Sha cuek


"Dasar istri pelit," ujar Pria itu menatap malas.

__ADS_1


"Bukan pelit, tapi karena selera kita tak sama. Mana mungkin Bapak mau minum yang beginian," jawab Sha acuh masih fokus dengan minumannya. Rasanya segar sekali.


Abi menatap jengkel dan segera meraih cup yang ada di tangan Sha, lalu ikut menikmati minuman yang berperasa coklat dengan toping yang terbuat dari tepung tapioka itu.


"Pak!" seru wanita itu yang tak habis pikir melihat Abi dengan santainya tanpa dosa.


"Kenapa?" tanya Abi acuh.


"Itu punya saya!" decak Sha sangat jengkel.


"Sana kamu beli yang baru, ini buat aku," jawabnya santai.


"Apaan sih? Kenapa tadi tidak bilang kalau mau," ujarnya kesal sendiri.


Sha hanya berdecak kesal sembari duduk, tak berminat untuk kembali ikut antri dengan pembeli yang lainnya walaupun sebenarnya ia masih sangat menginginkannya.


Tatapan wanita lurus kedepan memperhatikan pengunjung lainnya yang lalu lalang menikmati indahnya hari bersama pasangan dan keluarga mereka masing-masing. Tatapannya terbentur dengan keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia, senyum selalu membingkai di bibir mereka masing-masing sembari menimang seorang balita yang ada di tengah-tengah mereka.


Seketika hati Sha melow, bagaimana dengan nasib anak yang sedang ia kandung? apakah nanti bayi itu dapat merasakan kasih sayang yang utuh seperti mereka?

__ADS_1


"Ini buat kamu," Abi menyodorkan sebuah cup minuman yang baru ia beli pada sang istri. Sesaat tatapan mereka bertemu, dengan ragu Sha menerimanya.


"Ka-kapan Bapak membelinya?" tanya Sha sedikit gugup.


"Mana kamu tahu, lah wong kamu dari tadi ngelamun kok, emang lagi mikirin apa sih?" tanya Abi sembari duduk disamping Sha.


"Ha? Enggak, nggak lagi mikir apa-apa," jawab Sha. berusaha menyembunyikan dari tatapan pria itu.


"Udah diminum, nanti keburu mencair."


"Ya, terimakasih." Sha menyesap minumannya. Pasangan itu larut dengan pikiran masing-masing sembari menatap lurus kedepan.


Sesaat tatapan Abi terbentur pada pasangan yang tadi juga di perhatikan oleh Sha. Sebuah senyum membingkai dibibirnya. Abi melihat anak balita yang tampak begitu bahagia di dalam buaian kedua orangtuanya.


"Sha, kamu lihat pasangan itu?" tanya Abi menunjuk dengan bibirnya.


"Ya," jawab Sha singkat.


"Mereka bahagia banget ya, aku jadi tak sabar menunggu kelahirannya," ucap Abi sembari mengusap perut Sha dengan lembut. Tentu saja membuat wanita itu terkejut alang kepalang.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2