
Setibanya dikediaman orangtuanya, Abi dan Sha segera menghadap pada pasangan itu. Sedikit penasaran, kira-kira apa yang ingin mereka bicarakan.
"Ayo, mari duduk, Nak," ucap Papa dan Mama pada kedua insan itu.
Sha hanya mengangguk dan segera duduk bersebelahan dengan Abi. Pria itu tampak diam saja dengan ekspresi wajah yang tak dapat dibaca.
"Ada hal apa, Pa?" tanya Abi membuka suara, karena sempat hening. Pak Ikhsan tampak ragu ingin mengatakannya.
"Sha, Abi, Papa dan Mama ingin kalian menikah."
"Apa!" Kedua insan itu tersentak bersamaan.
"Papa dan Mama apa-apaan sih? Aku sudah mempunyai istri! Permintaan konyol apa ini!" ujar Abi tak bisa menahan ketidak sukaannya dengan keinginan kedua orangtuanya.
"Papa tahu kamu sudah mempunyai istri, tapi kami menginginkan cucu darimu. Kalian sudah lama menikah, tapi sampai sekarang Diana belum juga hamil," jelas Papa.
"Mama dan Papa menginginkan cucu dari kamu dan Sharena. Apakah kamu mau, Sha, menikah dengan Abi?" tanya Mama menatap gadis cantik yang sedari tadi hanya diam.
Sha tak tahu harus bicara apa dan bagaimana menyikapi permintaan kedua orang yang selama ini begitu baik pada keluarganya. Apakah ini balasan yang harus ia bayar. Tapi mana mungkin dia mampu harus hidup dimadu?
"Aku, aku..."
"Sha, Ibu dan Bapak tahu bahwa permintaan kami ini adalah sangat berat, dan kami juga tahu kalian pasti tidak menginginkannya. Tapi Ibu mohon pada kalian berdua, ibu hanya ingin cucu," mohon Bu Rania pada anak dan calon menantunya itu.
"Ma, tolong jangan menghancurkan hubungan aku dan Diana, aku tahu Mama dan Papa tidak menyukainya, tapi aku percaya Diana pasti bisa memberikan kalian cucu. Anak itu hanya masalah waktu," bantah Abi yang tak ingin mengkhianati sang istri.
__ADS_1
"Masalah waktu bagaimana, Bi? Kalian sudah lima tahun menikah, itu bukan masalah waktu lagi," ujar Mama tak ingin ingin dibantah.
"Kalian tenang saja, kalian cukup menikah dan tak perlu melibatkan perasaan, Papa tahu bahwa kamu dan Sha tak saling mencintai. Kita akan melalui proses inseminasi, tak perlu melibatkan perasaan dan tak perlu juga adanya kontak fisik, dan Sha harus melahirkan Caesar. Setelah anak itu lahir, kalian bisa berpisah bila tak ada rasa cinta. Papa dan Mama hanya menginginkan cucu dari Sha dan kamu," jelas Papa membuat Sha dan Abi menatap bingung tak paham.
"Terus, apakah aku harus menyerahkan bayi itu pada Ibu dan Bapak? Apakah maksudnya kalian hanya ingin meminjam rahimku?" tanya Sha dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya merasa sakit, seolah dirinya hanya dijadikan mesin untuk pencetak anak. Setelah itu ia akan dipisahkan oleh bayi itu.
"Tidak, Nak. Kami tidak akan mengambil bayi itu darimu. Jika kamu tetap ingin merawatnya silahkan. Kami hanya menginginkan cucu. Maafkan Ibu dan Bapak harus menjadi orangtua yang egois, tapi Ibu juga memohon padamu, Sha. Ibu sangat menginginkan cucu. Hanya itu saja," lirih Ibu.
"Bu, bagaimana dengan hal ini membuat hubungan Pak Abi dan istrinya bermasalah. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka," jelas Sha merasa tak tega.
"Diana tak perlu tahu akan hal ini. Kita bisa menyembunyikan darinya," jawab Papa.
"Aku rasa Papa dan Mama tidak perlu terburu-buru melakukan hal itu. Aku dan Diana sedang promil. Aku minta waktu satu bulan ini untuk membuktikan bahwa usahaku dan Diana tidak sia-sia. Tapi jika proses kami gagal, maka aku akan mengikuti semua keinginan Papa dan Mama," ujar Abi meminta waktu. Dan itu juga membuat Sha sedikit lebih lega.
Gadis itu berdo'a semoga Abi dan Diana berhasil mewujudkan keinginan kedua orangtuanya. Bagaimana mungkin bila dia harus menikah dengan Pria yang begitu tak menyukai dirinya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, karena hari ini aku dan Diana ada janji dengan Dokter," ucap Abi segera berdiri menyalami tangan kedua orangtuanya. Sha juga melakukan hal yang sama.
"Bu, Pak, aku pamit dulu," pamit gadis yang begitu ramah, pasangan itu sangat menginginkan Sha untuk menjadi menantunya. Namun mereka juga tak tega harus memisahkan Abi dan Diana yang katanya saling mencintai.
"Iya, hati-hati ya, Nak. Maaf jika permintaan Ibu dan Bapak sangat berlebihan," ucap Mama Nia memeluk gadis itu dengan tangisan. Mereka sebenarnya juga merasa sangat berat meminta hal itu. Takut jika nanti Sha merasa tertekan dan tak bahagia.
"Tidak apa-apa, Bu, selagi aku mampu, maka akan aku lakukan. Dan mari kita sama-sama berdo'a, semoga usaha Pak Abi dan istrinya berhasil. Jadi kita tidak perlu melakukan hal itu," ucap Sha membesarkan hati wanita baik itu.
Abi menatap Sha dan sang Mama begitu dekat, memang bertolak belakang dengan Diana, selama ini Diana tak pernah ada perhatian sedikitpun pada Mama mertuanya. Bahkan disaat sakitpun Diana enggan untuk datang menjenguk, walau hanya menanyakan kabarpun dia tak mau.
__ADS_1
Abi kembali mengantarkan Sha balik ke kantor untuk mengambil kendaraannya. Diperjalanan ponsel Pria itu berdering.
"Mas, kamu dimana? Ini udah jam berapa, jadi pergi nggak sih!" sentak wanita itu dari ujung telpon.
"Iya, Di, aku sudah on the way. Kamu sabar sebentar," jawab Pria itu begitu lembut pada wanita itu.
Setelah mematikan ponselnya, Abi menatap Sha yang juga sedang menatap dirinya. tatapan mereka sesaat bertemu.
"Apakah kamu yakin ingin menerima permintaan Papa dan Mama?" tanya Abi masih menatap.
"Jika hal itu bisa membuat mereka bahagia, insya Allah aku akan menerimanya. Asalkan sesuai dengan perjanjian yang dibuat. Aku hanya mengandung anak dari Bapak, tanpa harus ada kontak fisik apapun," tegas Sha membuat Abi menatap tajam, merasa tersinggung dengan perkataan wanita itu.
"Jangan perasaan jika aku menginginkan tubuhmu untuk kusentuh. Siapa juga yang sudi menyentuh wanita seperti dirimu!" tekannya dengan mulut pedas.
"Ya, baguslah. Aku juga tidak sudi disentuh oleh Pria kaku dan pemarah seperti Bapak," balas Sha tak ingin kalah.
"Apa! Kamu bilang apa?" tanya Abi menghentikan mobilnya secara mendadak hingga turun aspal.
"Pria pemarah dan kaku," jawab Sha mengulang ucapan.
"Kamu...."
"Apa? Bapak ingin menyangkal segala ucapanku? Apakah selama ini Bapak tidak merasa seperti itu?" ucap Sha menatap tajam.
"Bagaimana mungkin wanita seperti dirimu yang diinginkan kedua orangtuaku. Apakah kamu hanya berpura-pura baik pada mereka?" tuding Pria itu pada Sha.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading