Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 26


__ADS_3

"Kenapa diam? Kamu kesal sama aku?" tanya Abi menatap seksama.


Sha masih tak menyahut, ia berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaan, lebih memilih diam daripada menanggapi pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya.


Abi menghela nafas dalam, sadar sekali telah menyakiti perasaan sang istri. Otaknya benar-benar sedang kacau, tak ada niat sama sekali untuk membuat ibu dari anaknya itu kecewa.


"Aku minta maaf," ucapnya dengan sungguh.


Sha masih diam, bahkan untuk melihat saja dia sangat enggan. Tak ingin lagi terbawa perasaan bersikap cuek itu lebih baik.


"Sha, bicaralah. Jangan diam saja!" serunya kembali.


"Tidak perlu minta maaf, saya tidak apa-apa," jawab Sha datar, namun tak menatap pada Pria itu.


"Kalau tidak apa-apa, tapi kenapa matamu menghindari aku?" tanya Abi.


"Bukankah Bapak tak ingin di ganggu? Tapi kenapa sekarang Bapak yang datang menggangguku?" tanya wanita itu menatap kesal.


"Tapi aku sudah minta maaf, Sha. Apakah kamu tidak bisa memaafkan aku?"


"Aku sudah memaafkan, sekarang pergilah. Aku ingin sendiri," balas wanita itu sedang tak mood.


"Baiklah," jawab Abi mencoba mengalah dan membiarkan wanita itu menepi mencari ketenangan.


Rasanya tak nyaman di dalam ruangan yang sama, namun mereka kembali canggung seperti semula saat pertama kali Sha menduduki kursi sekretaris itu.


Sha berusaha untuk tak peduli lagi dengan lelaki itu demi menjaga hati dan jantungnya agar kembali normal seperti sedia kala. Wanita itu bekerja dalam keheningan hingga jam istirahat tiba.


Siang ini Sha tak ingin makan apapun, entah kenapa selera makannya mendadak sirna. Sha lebih memilih tetap mengerjakan tugasnya, ingin segera selesai agar bisa pulang lebih awal.


Abi membereskan meja kerjanya, lalu berjalan ingin keluar dari ruangan itu, namun netranya menatap sang istri yang masih tampak fokus dengan pekerjaannya. Pria itu mengerutkan keningnya, merasa aneh jam segini Sha belum beranjak dari tempat duduknya. Biasanya dia yang terlebih dahulu absen di kantin untuk mengisi perutnya.


"Kamu tidak makan siang?" tanya Abi berdiri di depan mejanya.


"Tidak selera," jawab Sha singkat.


"Mau apa? Biar aku Carikan," tanya Abi

__ADS_1


"Tidak mau apa-apa."


"Kamu harus makan."


"Tapi aku tidak mau!"


"Baiklah, kalau begitu aku pesan salad buah buat kamu ya," ujar Pria itu masih berusaha membujuk.


"Aku tidak mau apa-apa, Pak! jadi tolong jangan ganggu saya!" ujar wanita itu menatap malas.


Abi menghela nafas dalam. Apakah wanita ini sedang membalas perlakuannya tadi? Ia keluar meninggalkan ibu dari anaknya itu sendiri disana.


Lama menempati posisi duduk membuat pinggang wanita hamil itu terasa nyeri, matanya juga terasa lelah karena terlalu lama menatap layar pipih yang ada dihadapannya. Sha menggeliat merenggangkan otot-otot yang terasa kaku.


Tak tahan dengan matanya yang semakin berat. Sha meletakkan kepalanya diatas meja dangan bertumpu pada kedua tangannya. Dalam sekejap saja ia sudah berada di alam mimpi.


Abi masuk dengan membawa makanan untuk sang istri, namun ia melihat wanita itu sudah terlelap dengan posisi duduk. Dengan hati-hati ia menaruh makanan itu diatas meja, lalu membopongnya untuk membaringkan diatas ranjang yang ada di dalam kamar kecil yang ada diruangan itu.


Sha tidur begitu pulas hingga tak menyadari dimana posisinya saat ini. Tentu saja tidurnya menjadi semakin lena karena mendapatkan tempat yang nyaman.


Entah berapa lama ia tidur hingga suara riuh menggelar mengusik tidurnya. Sha membuka mata dan menatap sekeliling ruangan itu, berusaha mengembalikan kesadarannya hingga naik kepermukaan.


"Aku tidak mau, Mas! Kamu harus mendengarkan penjelasan aku dulu!" tegas Diana tak mau kalah.


"Tak ada yang harus di jelaskan! Aku sudah memberimu kesempatan, namun kamu tak mempergunakan kesempatan itu dengan baik. Kamu malah sengaja mengulangi perbuatan itu kembali!" bentak Abi dengan amarah memuncak.


"Tapi aku mempunyai alasan untuk hal itu, Mas. Kamu harus dengarkan aku dulu!" ujar Diana masih memohon pada Pria itu untuk mendengarkan penjelasannya.


Abi terdiam sejenak, apakah dia harus memberi wanita itu kesempatan untuk penjelasan yang akan di kemukakan? Sedikit penasaran dengan alasan wanita itu.


"Katakan!" ujar Pria itu dingin


"Se-sebenarnya aku mengidap gejala kanker rahim, Mas, Dokter melarang aku untuk hamil, karena jika aku hamil maka resikonya sangat besar, yaitu bisa membahayakan nyawaku. Dan sebenarnya selama ini saat aku mengatakan pergi keluar kota darimu, itu semua bohong. Aku sebenarnya sedang menjalani pengobatan di RS yang ada di luar kota," jelas wanita itu yang membuat Abi terjingkat.


"A-apa! Ka-kamu serius Di?" tanya Abi tak percaya dengan kenyataan yang di ungkapkan oleh wanita itu.


"Iya, Mas, kamu bisa melihat semua hasil pemeriksaan aku." Diana menyerahkan berkas pemeriksaannya di RS.

__ADS_1


Abi menerima dan membaca diagnosa penyakit sang istri. Rasa tak percaya namun nyata adanya. Ada rasa bersalah saat telah berprasangka buruk padanya. Ternyata itulah alasan kenapa sampai saat ini Diana masih meminum pil kontrasepsi.


"Maafkan, aku Mas, maaf bila aku tak jujur padamu, dan itulah alasan kenapa aku tak ingin terlalu dekat dengan kedua orangtuamu, karena aku takut bila suatu saat nanti bila aku mati, maka mereka bisa mencari menantu pengganti," lirih wanita itu dengan air matanya.


Seketika Abi mendekap tubuh wanita itu dengan erat. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Maafkan aku, aku tahu bila selama ini aku terlalu sibuk dengan segala pekerjaan hingga perhatianku berkurang untukmu, bahkan ketika kamu sakit aku tidak tahu," ujar Abi merasa menyesal.


Diana menghela nafas lega. Terasa sangat plong, ternyata usahanya tidak sia-sia dalam panggung sandiwara yang tercipta. Bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman. Tak sengaja senyuman itu di perhatikan oleh seseorang yang berdiri di depan pintu ruangan kecil itu.


Sha yang sedari tadi menyaksikan dan mendengar segala percakapan mereka, namun dihatinya tersirat rasa aneh karena melihat Diana tersenyum senjang. Adakah orang sakit bisa tersenyum kemenangan seperti itu?


Sha masih bertanya-tanya dalam hati, ada rasa janggal dalam hatinya. Tetiba saja ia teringat beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya siapa lelaki tua yang berjalan dengan Diana saat itu? Apakah benar lelaki itu adalah pamannya?


"Ghemm!" Sha bergumam melewati pasangan yang sedang berpelukan bagaikan Teletubbies.


"Kamu..." ujar Diana menatap heran saat melihat sekertaris suaminya keluar dari ruang istirahat.


Sha tak menanggapi, ia segera kembali duduk di kursinya. Dan memulai kembali menyalakan laptop yang ada di mejanya. Entah kenapa hatinya merasa muak melihat pemandangan itu. Bukan karena cemburu, tapi merasa ada yang tak sehat dengan hubungan mereka.


"Mas, kenapa dia keluar dari ruangan kamu?" tanya Diana ingin mendapat jawaban dari suaminya.


"Iya, tadi Sha merasa pusing dan kecapean, jadi aku suruh dia istirahat didalam," jelas Abi berasalan.


"Kenapa harus di ruangan kamu? bukankah itu namanya tidak sopan? Kenapa kamu sepertinya suka sekali berbagi dengan wanita itu," ujar Diana masih tak terima.


"Sudahlah, jangan dipermasalahkan. Lagipula Sha itu sedang hamil, jadi tak ada salahnya bila dia istirahat disana. Kasihan bayinya," ujar Abi memberitahu agar nanti Diana tak curiga.


"Hamil?" tanya Diana terkejut.


"Iya."


"Ja-jadi dia?"


"Iya, dia sudah menikah. Dan sekarang sedang mengandung. Jadi sekarang kamu tak perlu merasa cemburu lagi. Karena dia sudah mempunyai suami," ujar Abi menjelaskan, dan tentu saja berbohong tentang siapa suami sekertarisnya itu.


Sha mendengar segala cerita pasangan itu, namun ia berpura-pura acuh tak ingin menanggapi. Pandai sekali lelaki itu mencari alasan.


Bersambung...

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2