
Sha tak ingin lagi bertanya, ia segera keluar dari mobil dan mengikuti langkah Abi untuk masuk kedalam kantor polisi. Setibanya Abi segera menanyakan dimana ruangan AKP Yanju Sanjaya.
Setelah mendapatkan petunjuk, pasangan itu segera menuju sebuah ruangan Ajun komisaris polisi itu. Abi mengetuk pintu ruangan dan mendapat sambutan dari dalam untuk dipersilahkan masuk.
"Hai, Bi, ayo duduklah," ujar Pria tampan yang menggunakan pakaian dinas lengkap itu.
"Terimakasih," ujar Abi sembari menarik sebuah kursi untuk di duduki oleh Sha. Yanju menatapnya dengan seksama. Merasa heran kenapa Abi tampak begitu perhatian dengan wanita cantik itu. Dan terlihat wanita itu sedang hamil.
"Biasa saja natapnya," tegur Abi pada sang sahabat.
"Hahaha.... Wanita cantik ini siapa?" tanya Yanju sengaja menggoda untuk memancing reaksi Abi.
"Dia sekertarisku," jawab Abi singkat seperti enggan menanggapi.
"Oh, jadi kamu sekertarisnya Abi? Oya, kenalkan, nama saya, Yanju Sanjaya," ujar Yanju mengulurkan tangan dan di sambut senyum ramah oleh Sha sembari menangkup kedua telapak tangannya tanda tak mengurangi rasa hormatnya.
"Ah, nama saya, Sharena Husman," jawabnya tersenyum manis pada polisi tampan itu.
"Aku kesini ingin mendengarkan laporan darimu Tuan Yanju Sanjaya, bukan untuk melihatmu beramah-tamah dengan sekertarisku. Jangan sampai aku memberi laporan ini pada Aisyah agar kamu tak berani pulang," ujar Abi tersenyum, namun senyum itu dibalut oleh api cemburu.
Yanju kembali terkekeh menanggapi ucapan sahabatnya. Tak sulit baginya untuk mengetahui sikap seseorang bila sedang menjalin hubungan secara tersembunyi. Mungkin karena dirinya yang seorang penyidik tentu saja sudah makanan sehari-hari menangani bermacam kasus.
"Ayo duduklah, kita akan membahasnya sekarang," ujar Yanju masih dengan kekehan.
Abi dan Sha segera duduk untuk mendengarkan keterangan yang akan diberikan oleh pakpol tentang seseorang yang sedang ia curigai.
"Orang yang kamu curigai memang benar mempunyai niat buruk, anggotaku berhasil menguak rencana yang sedang mereka susun, yaitu ada kecurangan laporan keuangan dari pihak manajemen keuangan mereka untuk menipu investor. Jadi mulai sekarang kamu berhati-hati, dan hanya itu yang bisa aku bantu, selebihnya aku percaya kamu pasti bisa menyelesaikannya. Aku siap membantumu bila berkas perkara sudah berada di mejaku ini," jelas Yanju pada sang sahabat.
Abi terdiam sejenak. Ia tak abis pikir, apa sebenarnya yang di inginkan dari Pria itu. Abi berusaha untuk tetap tenang sembari memikirkan bagaimana caranya untuk menjatuhkan perusahaan mereka.
"Baiklah, aku akan membereskan mereka nanti. Tapi ada satu lagi yang belum kamu jelaskan Anju," ujar Abi merasa belum lengkap keterangan sahabatnya itu.
"Oh, ya, aku lupa. Tentang Diana dan Burhan 'kan?" tanya Yanju.
"Yup, benar sekali. Bagaimana, apakah kamu mencurigai mereka?" tanya Abi sangat penasaran.
"Ya, sepertinya Diana dan Burhan memiliki hubungan spesial, karena siang kemarin terlihat Diana meninggalkan rumah dan dijemput oleh Pria baya itu. Aku tidak tahu pasti seperti apa hubungan mereka. Apakah benar mereka ada ikatan persaudaraan? Tapi kenapa kamu sama sekali tidak mengenali Pria itu?" tanya Yanju heran.
__ADS_1
Abi hanya terdiam mendengar penjelasan Anju. Pikirannya masih berusaha untuk mencerna apa sebenarnya yang terjadi selama ini. Apakah Diana selama ini telah membohonginya?
"Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri. Terimakasih banyak atas bantuan yang telah kamu berikan ,kawan," ujar Abi berterima kasih.
"Ya, sama-sama. Jangan sungkan bila kamu butuh bantuan."
Abi dan Sha beranjak dari ruangan AKP Yanju Sanjaya itu. Abi kembali mengendarai kendaraannya menuju kantor. Sha merasa heran kenapa mereka harus kembali, apakah tidak jadi bertemu dengan klien?
"Pak, apakah kita tidak jadi bertemu dengan Pak Burhan?" tanya Sha di perjalanan.
"Bukankah kamu sendiri sudah mendengar apa yang dijelaskan oleh polisi tadi?" jawabnya datar sembari fokus mengemudi.
Sha hanya diam tak menjawab, ternyata Pria itu bisa juga menaruh rasa curiga dengan istri kesayangannya. Abi melajukan kendaraannya sedikit lebih cepat. Setibanya di kantor ia segera mengadakan rapat dadakan dengan seluruh dewan perusahaan.
Abi memimpin rapat itu dan membahas tentang penipuan yang dilakukan oleh Burhan. Mereka sepakat untuk menjebak mereka. Selesai rapat Abi meminta Sha untuk menghubungi sekertaris Burhan untuk mengundur pertemuan dengan alasan dirinya sedang ada urusan mendadak di luar kota.
Sha mengikuti perintah atasannya tanpa banyak tanya. Abi membawa Sha keluar dari kantor untuk mangkir dari jam kerja agar rencana mereka berhasil.
"Kita mau kemana, Pak?" tanya Sha di perjalanan.
"Kesuatu tempat," jawab Abi singkat.
"Kenapa? Kamu tidak suka jalan sama aku?" tanya Abi menatap dalam.
"Ya, saya memang tidak suka."
Abi menepikan mobilnya hingga turun aspal. Kembali netranya menatap dengan dalam. Sha tampak acuh tak peduli sembari mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
"Apakah kamu masih marah padaku?" tanya Pria itu memasang wajah melas.
"Saya tidak marah, tapi saya hanya kecewa dengan sikap Bapak yang begitu mudah berkata tanpa memikirkan perasaan orang lain," jawabnya masih membuang muka.
"Sha, aku minta maaf," ujar Abi memohon dengan tulus.
Sha hanya diam tak berminat memberi jawaban, rasanya hatinya masih terasa sakit dengan segala ucapan dan tuduhan yang begitu menyakitkan.
Abi menghela nafas dalam, ia tahu telah menyakiti perasaan istri keduanya itu. Abi tak ingin membuatnya tak nyaman, maka ia membiarkan saja wanita itu dalam diamnya. Ia kembali menjalankan kendaraannya.
__ADS_1
"Pak, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Sha merasa tak nyaman karena tak tahu Pria itu ingin membawanya kemana.
"Keluar kota," jawab Abi singkat.
"Apa?!" tanya wanita itu terjingkat.
"Kenapa? kamu tidak mau?"
"Ya, tentu saja saya tidak mau jika bukan karena kerjaaan," jawabnya tegas.
"Kenapa tidak mau? Aku ini suami kamu, jadi aku berhak ingin membawamu kemana saja."
"Nggak usah macam-macam ya. Bapak memang suami saya, tapi suami diatas kertas. Jadi sekarang tolong antar saya pulang!" titahnya dengan nada mulai tinggi.
"Jika aku tidak mau, kamu mau apa?" tanyanya dengan senyum tipis.
"Kalau begitu turunkan saya sekarang!"
"Tidak akan!"
"Pak Abi!" bentak Sha merasa kesal sekali.
"Panggil saya, "Mas," ujar Abi yang membuat Sha menatap tak percaya, sepertinya telinganya salah mendengar.
"Tidak!" jawab Sha dengan tegas.
"Harus!"
Sha berdecak kesal dan menyorot dengan tajam. Abi kembali tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat semakin cantik saat marah.
"Apa sih mau kamu?" tanya wanita itu menatap malas.
"Aku hanya ingin meluangkan waktu untuk kamu dan calon anak kita," jawab Abi tanpa dosa.
"Hng! Meluangkan waktu? Sejak kapan kamu peduli denganku?" tanya Sha tersenyum senjang mendengar ucapan suaminya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰
"Harus!"