Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 39


__ADS_3

Abi mengantarkan Sha kerumah ibu. Sepertinya hubungan mereka sudah tak begitu jadi masalah dengan ibu. Abi hanya butuh sedikit usaha lagi untuk meyakinkan ibu bahwa dirinya serius ingin membina rumah tangga dengan baik.


Abi akan membuktikan pada ibu keseriusannya pada wanita yang telah mengandung buah hatinya. Abi tidak akan pernah melepaskan Sha untuk orang lain.


"Ayo aku bantu," ujar Abi ingin menggendong Sha.


"Eh, tidak perlu. Saya bisa jalan sendiri," tolak Sha dengan cepat.


"Tapi Dokter bilang kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak, Dek," balas Pria itu dengan panggilan yang membuat wajah Sha merona.


Sha berusaha untuk bersikap biasa saja pada sang suami. Tak ingin berharap pada akhirnya akan kecewa. Siapa yang bisa menjamin atas sikap dan perilaku Pria itu benar-benar sudah berubah?


"Tapi aku bisa jalan sendiri," ucapnya masih menolak.


"Tidak apa-apa, Kak Sha, biarkan saja di gendong Mas Abi, kalau kakak tidak mau biar aku saja, tapi tenagaku tidak begitu ekstra," sambung Aldo pada sang kakak.


"Ih, kamu apaan sih, Dek. Kakak bisa jalan sendiri," ucapnya menatap kesal pada adiknya yang mendukung tindakan Abi.


"Sudah, nduk. Biarkan suamimu yang menggendongmu, karena sudah kewajiban seorang suami untuk memperlakukan dan merawat istrinya dengan baik saat sakit. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anaknya. Jadi biarkan dia melakukan tugasnya, jangan mau enaknya saja!" seru Ibu yang membuat Abi terperangah.


Ucapan wanita baya itu memang halus, namun bisa menusuk relung hatinya. Terlihat sekali bahwa ibu mertuanya masih menyimpan kesal padanya. Namun Abi mencoba untuk berjiwa besar atas sikap sang ibu mertua. Ia juga menyadari bahwa apa yang diucapkan ibu memang benar adanya.


Mungkin sebagai seorang ibu yang melahirkan putrinya ia sudah firasat bahwa selama ini Abi tak melakukan kewajibannya dengan baik sebagai seorang suami.

__ADS_1


"Kamu dengar apa yang dikatakan ibu, bukan? Mulai sekarang aku akan memperlakukan dirimu dengan sebaik mungkin. Biarkan aku merawat dan menjagamu." Abi tersenyum sembari menggendong wanita itu untuk masuk kedalam rumah.


Sha ingin memberontak, namun tubuhnya telah terkunci oleh dekapan lelaki itu sehingga ia tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah dalam gendongannya.


Abi membaringkan Sha perlahan, lalu menyelimuti agar istirahat dengan nyaman. Entah kenapa wanita itu terdiam sepi, ia tak berani lagi untuk membantah segala perhatian yang diberikan.


"Sekarang istirahatlah. Jika kamu butuh sesuatu bisa panggil aku," pesan Abi sebelum keluar dari kamar sang istri.


"Apakah Bapak tidak pulang?" tanya Sha menahan langkah kaki Pria itu.


"Aku akan tetap disini menemanimu," jawab Abi yang tak ingin meninggalkan istrinya.


Sha hanya diam tak lagi bertanya. Abi segera keluar dari kamar untuk menemui Aldo. Ia ingin pamit sebentar untuk membereskan urusannya dengan Diana.


"Al, aku titip Sha sebentar ya."


Abi meninggalkan kediaman istri keduanya itu. Ia segera menuju kediamannya untuk bertemu dengan Diana. Saat kendaraannya ingin memasuki kompleks perumahan, Abi melihat mobil Diana baru saja keluar dari kompleks.


Abi tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membuktikan kebenaran dengan mata kepalanya sendiri. Heran kemana arah tujuan mobil wanita itu.


Abi masih membuntuti dengan cara bersembunyi dibalik mobil pengendara yang lainnya. Tak disangka mobil Diana memasuki pekarangan sebuah hotel berbintang. Seketika jantungnya berdegup kencang, darah berdesir hebat. Emosi sudah menjalar hingga ke ubun-ubun.


Setelah memastikan Diana masuk, Abi bergegas mengikuti langkahnya. Sebuah kamar terbuka, ia melihat seorang lelaki baya menyambutnya dengan mesra.

__ADS_1


"Beginikah kelakuan Oom dan ponakan?" seru Pria itu dengan wajah memerah menahan amarahnya.


"Mas Abi!" Diana dan lelaki yang bernama Burhan itu terkesiap. Burhan yang tahu Abi sedang diliputi amarah, dia mencoba untuk segera kabur, namun kepalan tangan Abi sudah terlebih dahulu memberinya pelajaran.


"Mau lari kemana kau tua bangka!"


BUGH! BUGH! BUGH!


Abi memberi pukulan berulang kali diwajah Burhan sehingga darah segar mengalir di hidungnya. Perkelahian tak bisa terelakkan lagi. Burhan berusaha memberi perlawanan, Namun tenaganya tak cukup mampu melawan Pria yang masih gagah perkasa itu.


"Tolong! Tolong!" Diana berteriak histeris meminta pertolongan saat melihat Abi telah gelap mata menghajar Pria selingkuhannya sehingga tergeletak tak sadarkan diri.


Pihak keamanan hotel segera datang, namun Burhan sudah tak sadarkan diri. Mereka segera membawa Burhan ke RS. Diana menatap Abi dengan kesal.


"Apa yang kamu lakukan, Mas?" sentak wanita itu dengan gusar.


PLAK!


Abi menampar wajah wanita itu cukup kuat. Enam tahun mengarungi biduk rumah tangga tak pernah sedikitpun ia menjatuhkan tangan, namun untuk saat ini hatinya terlalu sakit dan benci sehingga ia tak mampu untuk tak memberinya pelajaran.


"Kamu menamparku, Mas! Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi!" ancam Diana pada Pria itu.


"Rasanya satu tamparan itu belum cukup membuat hatiku puas! Kalau perlu aku akan membunuhmu sekarang!" bentak Abi dengan garang sehingga membuat nyali Diana ciut seketika.

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2