
"Sini Sayang," ucap Abi memukul sisi ranjang tempat ia duduk.
"Ah, ya." Dengan berat hati Sha menghampiri Abi yang sudah menyudahi pekerjaannya.
Sha naik keatas tempat tidur dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa hatinya saat ini benar-benar merasa was-was.
Abi membereskan berkas-berkas yang tadi sedang ia periksa, dan menumpuknya diatas meja, setelah itu ia kembali naik keatas ranjang sembari menatap sang istri yang sudah berbaring dengan posisi membelakangi dirinya.
Abi ikut berbaring disamping Sha, tangannya memeluk dari belakang. "Dek," panggilnya begitu dekat ditelinga Sha.
Wanita itu hanya diam dengan mata tertutup. Jantungnya berdegup kencang, suhu tubuh terasa panas. Apa yang diinginkan Pria ini?
"Dek, apakah kamu tidak ingin memberikan hak aku? Kan tiga minggu lagi kamu akan melahirkan, masa aku harus puasa selama itu," ujar Abi terdengar lirih ditelinganya.
Sha menghela nafas dalam, apakah ini saatnya ia memulai untuk menjadi istri yang sesungguhnya? Sadar sekali hubungan rumah tangga tidak akan bertahan lama jika tidak didasari dari nafkah lahir dan batin.
Dengan perlahan Sha mengubah posisi tidur menghadap pada Pria itu. Sesaat tatapan mereka bertemu, lidah seakan terasa kelu, hanya hembusan nafas saling bersahutan dengan sesak.
"Mas, a-aku takut," ucap Sha dengan lirih.
"Jangan takut, Sayang, kita akan melakukannya dengan pelan," jawab Abi meyakinkan wanita itu sembari mengusap pipinya dengan lembut.
Tak ada sanggahan, Abi mulai mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir lembut Sha. Seketika tubuh wanita itu bergetar.
Berawal hanya kecupan biasa, namun di menit berikutnya pasangan itu terbawa suasana, adanya rasa sayang dan cinta dihati mereka masing-masing maka dengan senang hati kedua tubuh itu merespon dengan baik.
Abi semakin dalam melu mat bibir sang istri. Sha yang awalnya hanya bisa diam, namun perasaan sesuatu telah membawanya masuk kedalam permainan memabukkan itu, sehingga ia mencoba mengimbangi Pria dewasa yang sudah cukup berpengalaman dalam persolan bercinta.
Dengan perlahan Abi membuka kancing piyama tidur Sha. Sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi wanita hamil itu. Meskipun sudah mengandung benih pria itu, namun baru kali ini mendapat sentuhan darinya.
__ADS_1
Sha merasa begitu malu, saat tubuh atasnya telah polos. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Pria itu.
Abi semakin tak terkendali, tubuh indah wanita itu tak ada yang luput dari sentuhannya. Sha juga semakin larut dalam buaian cinta sang suami sehingga membuat rasa malu hilang dengan perlahan, yang ada hanya erangan dan des4h4n memabukkan.
Suara-suara keramat Sha membuat Abi semakin tak terkontrol, hasrat yang telah lama terpendam ingin segera ia tuntaskan. Kembali wajah Sha terasa panas saat tubuh bagian bawah sudah terbuka.
Abi yang menyadari dengan rasa malu sang istri, maka ia segera mematikan lampu kamar, dan menyalakan lampu tidur dengan cahaya remang. Sedikit membuat wanita itu rileks, ia kembali masuk kedalam permainan suaminya.
Merasa sudah tak tahan, maka Pria itu segera melakukan penyatuan. Ini adalah hal yang paling menegangkan bagi Sha.
"Mas, alon-alon," ucapnya seketika dengan suara manja.
"Aku akan melakukannya dengan tenang, Sayang, kamu tenang ya." Abi mencoba untuk meyakinkan wanita itu.
"Mas!" Pekik wanita itu tertahan saat merasakan sesuatu yang bertandang pada tubuhnya.
Abi menghentikan sesaat dan membiarkan wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya. Sha masih mengambil nafas dan mencoba untuk berbaur dengan lawan jenisnya itu.
"Mas Abi!" Sha kembali merintih dan tanpa sadar telah menorehkan jejak kukunya di punggung Pria yang berada diatas tubuhnya itu.
Abi kembali menghentikan aktivitasnya sejenak, kembali ia mengecup bibir ranum sang istri, ia melihat Sha menitikkan air mata meskipun tak ingin membukanya.
"Maaf, Sayang, karena sudah membuatmu sakit," bisik Abi merasa iba dan membelai pipi Sha dengan lembut.
Dengan pelan Sha membuka matanya, kini tatapan mereka bertemu. Ia melihat ketulusan dimata bening sang suami. Semoga kebahagiaan akan selalu meliputi rumah tangga mereka.
"Aku milik kamu seutuhnya, Mas, jangan hiraukan air mata ini, ini adalah air mata bahagia karena aku mampu menyerahkan segenap jiwa dan ragaku untuk lelaki yang aku cintai," ucap Sha yang membuat Abi terharu.
"Terimakasih, Sayang, aku juga sangat mencintai kamu. Hanya kamu wanita satu-satunya dalam hidupku untuk selamanya." Abi memberi kecupan seluruh wajah cantik sang istri.
__ADS_1
"Apakah aku sudah boleh meneruskan?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Hmm," jawab Sha dengan anggukan dan juga mengukir senyum.
Abi kembali menuntaskan hasrat yang masih menggantung. Pelan tapi pasti, akhirnya pasangan itu berhasil mencapai puncak kenikmatan yang tak mampu diungkapkan oleh kata-kata.
Abi menjatuhkan tubuhnya disamping Sha, tangannya mengusap perut buncitnya. Ia memberi kecupan sembari bercakap-cakap dengan bayi yang ada didalamnya.
"Kamu pinter banget ya, nggak rewel sama sekali saat Papa berkunjung. Sehat-sehat ya, sayang, tidak lama lagi kamu akan bertemu dengan kami yang sudah tak sabar menunggu kehadiranmu." Abi masih membawa sang bayi bercakap-cakap. Sementara itu Sha yang sudah lelah dan diliputi kantuk maka tak dapat lagi menahan diri hingga dalam sekejap sudah berada di alam mimpi.
"Sayang, kamu sudah punya nama untuk anak kita?" tanya Abi, namun tak mendapat jawaban dari sang istri.
"Masya Allah, udah tidur aja kamu, Sayang," ujarnya dengan senyum gemas. Ia tak ingin mengganggu, dengan pelan menyelimuti dan memberi kecupan di keningnya sebelum ikut ke alam mimpi.
Pagi-pagi sekali Sha sudah terbangun, merasakan seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal semua. Saat bergerak ia juga merasakan tak nyaman pada tubuh intinya.
"Ya ampun, gini banget rasanya." Wanita itu bergumam sedikit merintih saat bangkit dari pembaringan.
"Udah bangun, Sayang?" tanya Abi yang segera ikut duduk disamping istrinya.
"Ah, iya." Sha segera menarik kain tebal untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.
Abi hanya tersenyum melihat tingkah malu wanita itu. "Jangan ditutup, Dek." Abi kembali menarik kain penutup itu sehingga memperlihatkan sesuatu yang sudah menjadi candu untuknya, meskipun nanti harus berbagi dengan anaknya yang akan lahir.
"Mas Abi!" seru Sha dengan nada manja kembali ingin meraih selimut tebal itu, namun Abi membuangnya kelantai sehingga tubuh polos mereka kembali terekspos dengan sempurna.
Sha memukul Pria itu dengan rengekan manja. "Kenapa kamu nakal dan mesum sekali, Mas," ujarnya yang mendapat kekehan Pria itu sembari meraih tubuh sang istri masuk kedalam dekapannya.
Berawal hanya candaan kecil, namun pandainya lelaki itu dalam merayu hingga sang istri kembali pasrah digarap olehnya di pagi buta.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰