
Abi mendekati wanita itu, namun langkahnya terhenti saat polisi sudah berada di TKP.
"Mari ikut kami ke kantor sekarang!" ujar salah seorang polisi yang menerima laporan dari pihak hotel.
Diana menghela nafas lega. Dan tersenyum kepadanya. Wanita itu tampak kegirangan saat Abi di tangkap polisi. Namun Abi tak kalah tersenyum melihat ekspresi wajah Diana yang sangat memuakkan.
"Kau senang melihatku seperti ini?" tanya Abi dengan senyum senjang.
"Ya, lebih baik kamu membusuk dipenjara, Mas!" sentaknya dengan bangga.
"Ayo jalan!" perintah polisi itu menggiring Abi untuk masuk kedalam mobil patroli.
Kini sudah jam delapan malam, Sha yang sedari tadi masih merasakan resah. Ia tidak tahu entah apa penyebabnya sehingga matanya enggan terpejam.
"Sha, kamu kenapa mondar-mandir seperti ini? dokter bilang kamu tidak boleh banyak bergerak." Ibu menggiring wanita hamil itu untuk kembali naik keatas ranjang.
"Bu, kenapa Pak Abi belum juga pulang? bukankah dia janji akan menemani aku malam ini?" tanya Sha yang membuat ibu baru menyadari, ternyata hal itu membuat Sha risau.
Sementara itu Aldo baru pulang dari rumah temannya, ia hendak masuk namun terhenti saat ponselnya berdering. Aldo segera melihat siapa orang yang menghubunginya.
"Ya, Mas Abi."
"Al, aku mau cerita sama kamu. Tapi, tolong jangan beritahu Sha dan Ibu," pesan Abi.
Pria itu menceritakan pada Aldo bahwa dirinya sekarang sedang berada di kantor polisi, dan menjalani pemeriksaan.
"Tapi bagaimana jika Kak Sha menanyakan tentang Mas Abi?" tanya Aldo juga ikut khawatir.
"Kamu berikan kabar bahwa aku sedang ada urusan mendadak di luar kota. Kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Semua kasus sudah ditangani oleh kuasa hukum." Abi berusaha meyakinkan adik iparnya.
"Baiklah, kalau Mas Abi butuh bantuanku jangan sungkan hubungi aku."
"Baik, terimakasih ya, Al."
"Ya, sama-sama."
"Ah, Al?" panggil Abi sembari menghela nafas dalam.
__ADS_1
"Ya, Mas?"
"Mas titip Sha ya, tolong jaga dia dan calon keponakanmu," lirihnya dengan suara bergetar.
"Baik, Mas. Aku akan menjaga mereka. Mas jangan pikirkan hal itu. Mereka aman disini. Mas Abi harus fokus dengan kasus yang sedang Mas jalani. Semoga cepat selesai."
"Sekali lagi terimakasih, Al. Mas tutup dulu." sambungan terputus dari ujung sana.
Aldo menghela nafas dalam. Semoga saja Kak Sha tak ambil pusing dengan keberadaan Mas Abi. Pria yang berumur sembilan belas tahun itu segera masuk, namun suasana rumah tampak sepi. Mungkin ibu dan kak Sha sudah tidur.
Saat Aldo ingin masuk kamar, ia mendengar percakapan antara ibu dan kakaknya. Sedikit penasaran, ia ikut masuk untuk mengetahui apa pokok pembahasan mereka.
"Kamu baru pulang, Al?" tanya Ibu pada anak bujangnya.
"Ah, iya, Bu. Kok ibu dan kak Sha belum tidur?" tanya Al sedikit penasaran. Ia menatap wajah sang kakak tampak murung.
"Ini kakakmu tidak bisa tidur," jelas ibu.
"Loh kenapa? Apakah Kak Sha merasa ada yang sakit?" tanya Al tampak cemas.
"Bukan, tapi dia tidak bisa tidur karena menunggu Abi. Emangnya kemana sih lelaki itu? Kenapa suka sekali memberi janji palsu. Mana mungkin dia ingat dengan kakakmu. Lah jelas saja dia sedang asyik mengurusi istri pertamanya itu," ucap ibu dengan kesal.
"Lah memang itu kenyataannya kok." Ibu masih saja tak terima karena merasa Abi sudah memberi harapan palsu pada putrinya.
"Sudahlah, Bu, aku cuma ingin tahu kabarnya. Kalau Pak Abi pulang kerumahnya ya tidak masalah," sambung Sha yang sebenarnya hatinya memang kecewa.
"Kebetulan tadi Mas Abi telpon..."
"Terus dia bilang apa?" sambung Sha tak sabaran.
"Mas Abi bilang, dia minta maaf karena ada urusan mendadak keluar kota. Jadi kita tidak boleh berprasangka buruk dulu," ujar Aldo.
"Alah, Ibu tidak percaya. Palingan dia sedang sibuk dengan istri pertamanya." Wanita baya itu masih saja sensi terhadap anak menantunya. "Udah, nduk, ayo istirahat, jangan pikirkan dia. Sekarang pikirkan kesehatan kamu dan anak yang ada dalam kandunganmu."
Sha hanya mengangguk patuh, ia segera berbaring dan berusaha percaya apa yang disampaikan oleh Abi pada Aldo. Tapi kenapa Pria itu tidak menghubunginya? kenapa dia harus bicara pada Aldo.
Entahlah, Sha tak ingin terlalu memikirkan. Ia juga tak ingin terlalu berharap yang nyatanya akan selalu menyakiti perasaannya. Sha segera memejamkan mata untuk menemui mimpinya.
__ADS_1
***
Papa dan Mama segera mendatangi kantor polisi. Tentunya mereka telah menghubungi kuasa hukum keluarga Wibowo terlebih dahulu.
Sesampainya di kantor polisi, Abi keluar dari tahanan untuk menemui kedua orangtuanya. Seketika Mama memeluk putra semata wayangnya dengan tangis haru.
"Kenapa kamu tidak bisa mengendalikan amarahmu, Nak?" lirih Mama mendekap erat. Tak menyangka putranya yang sedari dulu tak pernah berlaku kasar, namun kali ini dia harus meringkuk di penjara karena emosi yang tak mampu ia kendalikan.
"Mama jangan menangis. Aku tidak apa-apa, Ma. Ini belum seberapa, Ma, rasanya aku ingin melenyapkan pasangan mesum itu," ucap Abi tak memperlihatkan wajah menyesalnya. Emosinya masih membara.
"Ayo kita duduk dulu," ujar papa membawa istri dan anaknya untuk duduk.
Abi menceritakan kronologinya kepada kedua orangtuanya. Papa Mama benar-benar tak menyangka bahwa Diana akan berlaku murahan seperti itu.
"Dimana wanita itu sekarang?" tanya Mama tampak emosi setelah mendengar penjelasan sang putra.
"Jangan tanyakan dia lagi, Ma. Setelah urusan ini selesai, aku akan segera menceraikan wanita jala ng itu," balas Abi.
"Ya, papa dan mama setuju dengan keputusanmu. Blokir semua akses debitnya," ujar papa memberi saran.
"Sudah, Pa. Sebelum kejadian itu aku sudah memblokir."
"Bagus, kalau begitu kita akan menunggu besok, biar kuasa hukum yang mengurus semuanya."
"Ma, Pa, tolong jaga Sha dan calon anakku. Tolong yakinkan bahwa aku memang sedang ada urusan diluar kota. Aku tahu aku sudah membuatnya kecewa, tapi aku tidak mau Sha tahu yang sebenarnya," jelas Abi dengan penuh penyesalan.
"Kamu tenang saja. Nanti papa dan Mama akan mampir ke kediamannya." Percayalah ini tidak akan lama. Semoga besok kamu bisa segera bebas." Papa berusaha meyakinkan putranya.
Selesai menjenguk Abi, Mama dan Papa pulang dan tak lupa mampir kerumah besannya, meskipun merasa tidak enak karena mereka tahu wanita itu belum sepenuhnya bisa menerima.
Tak apa, karena sadar sekali bahwa mereka memang salah, maka tak ada salahnya untuk berusaha meyakinkan wanita yang telah berhasil mendidik seorang putri yang Sholeha dan sangat baik hati itu.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰