
Pasangan itu beranjak meninggalkan kediaman baru mereka. Sha tampak selalu tersenyum. Hari ini adalah hari paling bahagia. Rasanya kebahagiaan itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tak ada yang harus ia pikirkan lagi. Kini Abi sudah menjadi miliknya seutuhnya. Dan kasih sayang Pria itu begitu bulat untuk dirinya.
"Apa harapan kamu selanjutnya, Dek?" tanya Abi sembari fokus mengemudi.
"Harapan aku hanya ingin selalu hidup bahagia bersama kamu dan anak-anak kita. Tolong jangan tinggalkan aku, Mas. Karena aku benar-benar telah jatuh cinta padamu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Abi menepikan kendaraannya sesaat. Ia tahu bahwa sang istri sedang membentangkan harapan agar dirinya dapat memenuhi harapan itu.
"Dek, aku berjanji akan selalu bersamamu. Tidak akan pernah meninggalkanmu, sekarang hanya kamu dan anak-anak kita adalah prioritasku." Janji Abi pada sang istri.
"Terimakasih ya, Mas. Terimakasih untuk kebahagiaan yang tak terhingga yang telah kamu berikan untukku," ujarnya kembali, sembari memeluk lengan Pria itu dan menyandarkan kepala pada bahunya
Abi mengusap wajah Sha dengan lembut, dan memberi kecupan pada keningnya. Kini perasaan mereka benar-benar dirundung kebahagiaan yang tak terhingga.
Kini mobil yang dikendarainya sudah sampai dikediaman orangtua Sha. Pasangan itu turun dari mobil dengan senyum mengembang.
"Baru pulang? Bagaimana hasil periksa kandungan kamu?" tanya Ibu saat berpapasan dengan mereka.
"Alhamdulillah hasilnya semua baik, Bu. Tiga minggu kedepan aku sudah bisa Caesar," jawab Sha.
"Alhamdulillah... Apakah kamu memang ingin melahirkan secara Caesar?" tanya ibu yang membuat Sha menjadi bimbang.
"Ah, nanti aku pikir dulu, Bu," jawabnya masih belum bisa memastikan.
"Oh iya. ibu lupa, yasudah kamu Caesar saja," ucap Ibu yang membuat Sha dan Abi menatap tak paham.
"Loh, emang kenapa, Bu?"
"Gak pa-pa, sayang kan, kalau Caesar kamu kan masih perawan," jawab Ibu yang membuat Sha dan Abi saling pandang. Tentu saja ibu berpikir seperti itu, karena beliau tahu kehamilan Sha melalui proses inseminasi.
__ADS_1
"Ah, ta-tapi, Bu..."
"Udah sana masuk, mandi dulu, nanti habis sholat magrib kita makan. Tadi Ibu sudah masak banyak," potong ibu yang membuat Sha tak bisa meneruskan ucapannya.
Abi hanya tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri. Ia segera merangkul bahu Sha membawanya masuk kedalam kamar.
"Udah, nggak pa-pa Caesar, sayang juga baru beberapa kali dilalui, biarkan tetap ORI," ucap Abi dengan senyum gaje.
Sha menatap tajam, rasanya gemas sekali mendengar ucapan suaminya. "Ya Allah, tu mulut bisa dikondisikan nggak sih," ucapnya menatap malas.
"Hahaha... Biasa aja matanya, Dek. Apa yang aku katakan memang benar. Lagian kalau Caesar tidak akan membuatmu sakit," ucap Abi membujuk.
"Tapi aku pengen ngerasain lahiran normal, Mas. Biar ada perjuangan saat melahirkan, aku pengen ngerasain bagaimana rasanya sakit melahirkan," ucap Sha yang tertantang untuk persalinan normal.
"Caesar ataupun normal tetap saja sama, Dek. Kamu sudah berjuang dalam proses untuk menjadi seorang Ibu. Tak peduli itu Caesar ataupun normal. Semuanya penuh perjuangan, jangan katakan lahir Caesar itu tak beresiko, bahkan ada ibu yang meninggal setelah operasi, dan begitu juga normal. Semuanya butuh perjuangan," jelas Abi yang sangat paham bagaimana kodrat wanita.
"Benarkah?" tanya Sha yang belum paham sama sekali. Karena kehamilannya ini awalnya memang tak pernah direncanakan, semua serba mendadak.
"Benar, Sayang. Sekarang jangan banyak pikiran, fokus saja dengan rencana awal kita. Tapi aku juga tidak akan melarang bila kamu memang keukuh ingin melahirkan normal."
"Baiklah Mas, kalau begitu aku Caesar saja."
"Yess!" seru pria itu dalam hati kesenangan.
Keluarga itu makan malam bersama. Selesai makan, Abi membawa ibu dan juga Aldo untuk bicara mengenai kepindahan mereka kerumah baru. Pasangan itu ingin Aldo dan ibu ikut mereka menempati kediaman baru mereka.
"Ibu yakin tidak ingin ikut denganku?" tanya Sha pada sang ibu.
"Iya, Ibu masih nyaman tinggal disini, Nak. Ini rumah peninggalan almarhum ayah kamu. Kamu tidak perlu khawatir, ibu akan sering-sering main kerumahmu," ujar ibu meyakinkan putrinya.
"Baiklah kalau begitu, tapi ibu janji sering-sering datang ya."
__ADS_1
"Iya, Nduk. Nanti kalau cucu ibu sudah lahir, ibu temani kamu disana sampai satu bulan," janji ibu yang disambut bahagia oleh Sha.
"Iya, Kak Sha dan Mas Abi tidak perlu khawatir, ada aku yang selalu jagain Ibu," sambung Aldo.
"Baiklah, mulai sekarang apapun kebutuhan kamu dan Ibu aku yang akan tanggung. Tolong Ibu jangan pernah sungkan, karena Ibu dan Al sudah menjadi bagian dari keluargaku," sambung Abi dengan tulus.
Ibu tak bisa menolak atas segala niat baik anak menantunya. Beliau hanya bisa mengucapkan terima kasih dan bersyukur kepada Allah karena telah menitipkan seorang menantu yang begitu baik.
Setelah berunding, keesokan harinya Sha dan Abi menempati kediaman baru mereka. Rasanya sedih bila ibu dan Aldo tak ikut bersama mereka. Namun Sha tak ingin memaksakan kehendak bila itu yang membuat Ibu nyaman.
"Sudah, tidak perlu sedih. Kamu bisa kapan saja mengunjungi Ibu. Lagian kita tidak terlalu jauh," ucap Abi menghibur istrinya yang tampak murung duduk sendirian.
"Iya, canggung aja bila tak ada ibu, Mas," ucapnya manja sembari memeluk tubuh bagian bawah Abi yang sedang berdiri dihadapan.
Abi hanya tersenyum sembari mengusap mahkota sang istri dengan penuh kasih sayang. "Jangan sedih ya, kamu hanya belum terbiasa saja."
Sha mengangguk sembari memeluk dengan erat. Entah kenapa semakin mendekati hari persalinan rasanya dirinya semakin manja dengan Pria itu.
"Jangan seperti itu, Dek, nanti dia menantang," ucap Abi dengan kekehannya.
"Biarin. Pengen gini dulu, soalnya nyaman," jawab Sha tak peduli bila ada sesuatu yang mulai sesak.
"Iya, tapi dia yang tidak nyaman, Dek. Kamu harus tanggung jawab," ucap Abi, perangai jahilnya mulai datang, dia menekan wajah Sha sedikit lebih kuat pada tubuh bagian bawahnya.
"Mas Abi!" seru wanita hamil itu melonggarkan pelukannya dan menatap tajam.
"Hahaha... Ya habisnya kamu mancing duluan, Sayang, lihatlah, sekarang dia tak bisa diajak kompromi." Abi mengambil tangan Sha dan mengarahkan pada bagian tubuhnya yang sudah mengeras.
Wanita itu semakin gemas sehingga merematnya dengan kuat. Tentu saja membuat lelaki itu kesenangan.
Abi tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, pergulatan sengit itu kembali terjadi di sore hari nan syahdu. Ditambah cuacanya sangat mendukung, curahan hujan membuat pasangan itu semakin larut menyelami lautan cinta.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰