
Setelah Mama dan Papa beranjak ke kamar Ibu, kini tinggal Abi yang masih setia menemani Sha. Abi menatap raut wajah Sha dari beberapa meter tempat ia duduk. Sha yang mengerti bahwa dirinya sedang diperhatikan, maka ia memilih untuk kembali berbaring.
Abi menghela nafas dalam, ia berdiri menghampiri wanita itu. "Sha?" panggilnya sembari memperbaiki selimut yang dikenakan oleh Sha.
"Ya Allah, kenapa dia mendadak jadi cerewet begini? bukankah selama ini dia sudah terbiasa cuek?" batin wanita itu. Rasanya malas untuk menjawab, tapi tidak baik mengabaikan suami saat bicara.
Dengan perlahan Sha memutar posisi tubuhnya menghadap pada Pria itu. "Ada apa, Pak?"
"Aku ingin bicara padamu," jelas Abi sembari duduk di kursi yang ada di samping bad pasien sehingga posisi mereka saling berhadapan.
"Bicara apa?" tanya Sha memasang wajah serius untuk mendengarkan.
"Aku tidak ingin kita berpisah," ucap Abi menatap serius.
"Kenapa begitu?" tanya wanita itu tidak paham.
"Aku ingin kita tetap bersama merawat dan membesarkan anak kita kelak," jelasnya kembali.
"Bapak tidak perlu khawatir, kita masih bisa merawat dan membesarkan dia bersama. Saya tidak akan pernah membatasi waktu Bapak bersamanya."
"Tapi aku tidak mau berpisah denganmu, Sha."
"Kenapa, Pak? Kita tidak ada hubungan apapun selain bayi yang ada di rahim saya ini," balas Sha tak paham dengan jalan pikiran Pria itu.
"Karena itulah sebabnya kenapa aku tidak ingin berpisah darimu. Kita bisa memulai hubungan dengan serius."
Sesaat Sha terpaku mendengar ucapan Abi. Apa ini? kenapa dia mendadak ingin serius, apa karena dia dan Diana akan berpisah?
__ADS_1
"Apakah Bapak ingin menjadikan saya tempat pelarian saat hubungan Bapak dan Mbak Diana sedang bermasalah?" tanya Sha menatap tajam.
Abi menghela nafas dalam. Ya, tidak mudah meyakinkan wanita itu, apalagi hubungan mereka yang selama ini tak ada yang spesial, bahkan sikapnya tak menampakkan perhatian selain pada janin yang ada dalam rahimnya.
"Sha, aku tahu kamu sangat meragukan apa yang aku ucapkan, tapi aku tak akan memaksamu untuk percaya secepat itu. Aku akan buktikan bahwa apa yang aku ucapkan bukanlah untuk perlarian semata," jelas Abi dengan nada melunak.
Sha tak menyahut lagi ucapan lelaki itu. Tak tahu harus bagaimana menyikapi. Apakah dia harus menerima keinginan lelaki itu untuk tak berpisah? tapi bagaimana dengan perasaan Abi yang tidak mencintainya.
"Istirahatlah, apakah kamu ingin sesuatu?" tanya Abi dengan lembut, tangannya membelai kepala Sha yang masih tertutup hijab.
"Tidak, terimakasih," jawabnya datar, namun dalam hati bertalu-talu saat tangan Pria itu menyentuhnya.
"Baiklah, kalau kamu butuh sesuatu beritahu aku ya."
Sha hanya menjawab dengan anggukan. Netranya memperhatikan kemana langkah lelaki yang berstatus suaminya itu. Ah ternyata dia hanya berbaring di atas sofa yang ada di ruangan itu. Sesaat tatapan mereka bertemu, Sha segera berpaling.
Abi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. Namun ia kembali mengingat tentang Diana, rasa sakit kembali menjalar dalam hatinya. Sungguh tak menyangka kasih sayang yang selama ini ia curahkan begitu dalam, namun dibalas dengan kecurangan oleh wanita itu.
Abi masih termenung, dimana kurang dirinya? kenapa wanita itu bisa berkhianat dibelakangnya, dan bahkan lelaki yang disukai oleh Diana adalah tua Bangka. Sungguh ia tak habis pikir.
"Pak, saya ingin minum!" seru Sha menatap lelaki itu yang sedang melamun.
"Ah, ya. Kamu mau apa?" tanya Abi segera bangkit dari baring.
"Minum, tapi pengen yang manis," jawab Sha yang merasa seleranya pahit.
"Nggak usah minum yang manis, kamu lihat saja wajahku maka manisnya mengalahkan segalanya," balas Abi dengan senyum khasnya.
__ADS_1
"Apaan sih, Pak, nggak usah aneh-aneh deh." Kembali jantung wanita itu berdebar tak menentu.
Abi terkekeh, ia kembali mendekati bad dimana sang istri sedang berbaring. "Kamu mau minum apa?" tanyanya penuh perhatian.
"Jus jeruk," jawabnya datar tak ingin menatap wajah Pria itu.
"Hanya itu? Ada yang lain?" tanya Abi masih belum beranjak.
"Tidak, aku hanya ingin itu saja."
"Baiklah akan aku belikan sebentar." Abi segera beranjak menuju kantin RS untuk mencarikan keinginan sang istri.
Sesaat Sha termenung melihat sikap Pria itu berubah seketika, bukankah selama ini dia begitu cuek dan sangat dingin. Ah entahlah, tak ingin terlalu banyak berharap.
Setelah dua hari dirawat, kini Sha dan ibu sudah di izinkan untuk pulang. Sebenarnya Sha masih penasaran kenapa ibu dan Aldo ada di kota yang sama.
keluarga itu sudah bersiap untuk kembali ke kota Medan, ibu dan Aldo satu mobil bersama Sha dan Abi. sementara itu Papa dan Mama dikendarai oleh sopir.
Di tengah perjalanan, Diana selalu menelpon Abi, pria itu enggan untuk mengangkat telepon dari sang istri
"Kenapa tidak diangkat, Pak?" tanya Sha menatap heran.
"Tidak penting," jawab Abi acuh. Hatinya begitu kesal dan kecewa pada wanita yang sudah membersamainya selama enam tahun.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1