
Setelah menjalani perawatan selama lima hari, kini Sha sudah di izinkan untuk pulang. Seperti janji Ibu waktu itu bahwa ia akan menemani putrinya untuk satu bulan, setidaknya sampai habis empat puluh hari.
Siang ini Abi tak melakukan apapun selain bermain dengan baby boy, yang telah mereka beri nama "Arkan Putra Wibowo" Pria itu sedang menikmati menjadi ayah baru untuk putranya yang begitu tampan dan comel.
"Mas, kamu nggak ada kegiatan lain?" tanya Sha yang heran melihat suaminya tak beranjak dari kamar mereka.
"Nggak ada, Dek, semua pekerjaanku di kantor sudah di handle oleh Randi, jadi aku bisa sedikit luang untuk beberapa hari kedepan. Aku hanya ingin menimang putraku," jelasnya masih menimang bayi merah itu.
"Kamu kenapa? Nggak senang lihat wajah aku selalu ada di dihadapanmu?" tanyanya mengguraui sang istri.
"Ya nggaklah. Malahan aku seneng bisa di temani kamu setiap hari," jawab Sha jujur sekali.
"Syukurlah jika kamu masih senang dengan kehadiranku. Biasanya wanita akan merasa gelisah bila melihat suaminya masih dirumah," ucapnya yang membuat Sha sedikit tak mengerti maksud suaminya.
"Kok kamu ngomong begitu? Siapa sih yang kamu maksud?" tanya Sha tak paham.
"Ah, bukan siapa-siapa. Nih, Arkan ingin ASI, sepertinya dia sudah haus," ucap Abi menyerahkan putranya pada sang istri.
"Sha menerima bayi mungil itu, dan segera memberinya ASI eksklusif. Sementara itu Abi masih duduk disampingnya sembari menjahili buah hatinya dengan menoel pipi dan hidungnya sehingga bayi merah itu merasa tidak nyaman dalam kegelisahan.
"Mas, jangan di ganggu anaknya sedang ASI," protes Sha pada suaminya yang super jahil.
"Hehe... Habisnya Papa gemas banget lihat kamu, apalagi mimiknya semangat banget bisa-bisa punya Papa dihabiskan semua," serunya membuat Sha mencubit pipi Pria itu dengan gemas.
"Apaan sih ngomong begitu sama anak, lagian merasa banget ini punya kamu," ledek wanita itu tersenyum jahil.
"Iyalah aku merasa, kan udah pernah dirasa," balas Abi sembari mencolek hidung mancung ibu dari anaknya itu.
Sha hanya tersenyum merona saat mendengar ucapan nakal suaminya. Saat keluarga kecil itu sedang sibuk bercengkrama, terdengar suara getaran ponsel Abi.
"Ya, ada apa, Anju?" tanyanya pada sahabatnya yang seorang polisi.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang untuk melengkapi laporannya." Abi segera mematikan ponselnya.
"Siapa, Mas?" tanya Sha penasaran.
"Aku diminta ke kantor polisi karena laporan tentang penipuan yang dilakukan Diana dan Burhan masih ada yang kurang, jadi aku harus melengkapi," jelasnya pada Sha.
"Mas, kamu yakin ingin memenjarakan mereka?" tanya Sha meminta pertimbangan sekali lagi pada suaminya.
__ADS_1
"Yakinlah, Dek. Aku ingin mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal."
"Kenapa tidak selesaikan saja masalah itu, Mas? Yang penting mereka tidak menggangu kehidupan kita," saran Sha.
"Nanti, Dek, aku ingin mereka merasakan hukuman terlebih dahulu, setidaknya di beri pelajaran dua minggu untuk menghuni hotel prodeo. Biar mereka mendapatkan efek jera."
Sha tak bisa bicara lagi, jika memang itu keputusan suaminya, maka ia sebagai istri hanya bisa memberi dukungan.
"Aku pergi bentar ya, kamu mau aku beliin sesuatu saat pulang nanti?" tanya Abi sebelum beranjak menanyakan keinginan istrinya, dan tak lupa mengecup kening dan bibirnya, setelah itu beralih pada putra kesayangannya yang sudah terlelap dengan damai.
"Nggak pengen apa-apa, Mas. Soalnya udah kenyang banget dibuatin masakan yang enak-enak sama Ibu dan Mama," jawabnya memang jujur, Karena Ibu dan Mama Nia selalu memberi anak dan dan menantunya makanan yang enak dan bergizi agar cucu mereka tumbuh menjadi sehat dan pintar.
"Yaudah, aku berangkat dulu ya, jika butuh sesuatu jangan lupa hubungi aku. Hei, Arkan, Papa pergi bentar ya, Nak. Kamu baik-baik sama Mama." Abi kembali meninggalkan jejak sayang pada putranya.
Cukup lama Abi berada di kantor polisi untuk mengurus berkas laporan. Selesai urusannya di kantor polisi, ia tak langsung pulang, Abi singgah ke kantor untuk bertemu dengan asisten pribadinya.
Setelah selesai urusannya di kantor ia kembali pulang kekediamannya. Rasanya sudah sangat rindu dengan istri dan anaknya. Ah, terasa sekali kebahagiaannya yang telah lengkap.
"Assalamualaikum... " Abi mengucapkan salam dan disambut oleh Ibu dan Mama yang sedang menimang cucu perdana mereka.
"Wa'alaikumsalam... Kamu baru pulang?" tanya Mama yang tampak begitu akrab dan akur dalam momong cucu.
"Iyalah, soalnya masih satu, coba aja dua, pasti kami punya satu-satu, benarkan Husna?" ucap Mama meminta pembenaran.
"Iya bener, makanya besok kalau Arkan sudah umur satu tahun, segera proses adiknya, jadi ibu dan Mama kamu bisa momong cucu satu-satu," ujar Ibu menambah bumbu.
"Abi hanya terkekeh mendengar celotehan kedua wanita yang begitu telah berjasa dalam melahirkan dirinya dan juga sang istri. Abi sangat senang melihat keakraban mereka. Ia segera memberi kecupan pada bayi mungil itu sebelum beranjak menuju kamarnya.
"Sha mana, Bu?" tanya Abi.
"Ada di kamar, kayaknya tadi mau mandi," jawab ibu masih sibuk menimang cucunya.
Abi segera melesat masuk kedalam kamar, ia menemui sang istri sedang mengenakan korsetnya, sedikit sulit karena bekas Caesar masih terasa ngilu.
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Abi segera mengambil alih pekerjaan wanita itu.
"Sini aku kenakan." Abi segera memasang pengait korset itu satu persatu.
"Makasih ya Mas," ucap wanita itu tersenyum bahagia melihat kehadiran suaminya.
__ADS_1
Cup!
Abi mengecup bibir Sha dengan lembut. "Wangi banget kamu?" godanya sembari mendekap tubuhnya dengan kasih sayang. "Nyaman banget saat memeluk dirimu, Dek. Love you more," bisiknya di telinga sang istri.
Sha hanya bisa tersenyum sembari menikmati hangatnya dekapan sang suami. Namun sesaat tangan lelaki itu sudah tak bisa di kondisikan.
"Mas Abi, jangan rusuh! Awas dulu, aku mau mengenakan pakaian," serunya menghindari tangan nakal Pria dewasa itu.
"Nanti dulu, Dek, beri waktu satu menit lagi untuk aku menikmati aroma tubuhmu," bisiknya.
Sha mengikuti keinginan Abi. Ia membiarkannya dalam posisi seperti itu. Merasa sudah cukup, ia segera mengenaka pakaiannya
"Mandi sana, Mas," titah sembari memberikan handuk bekas ia pakai tadi.
"Ya, baiklah. Aku memang butuh berendam untuk menjinakkan dia yang sudah bangun," ucapnya sembari menunjuk sesuatu yang telah keras membatu.
"Makanya jangan suka nemplok gitu, jadinya kamu sendiri yang repot," ucap Sha dengan kekehannya melihat penderitaan Pria itu. Salah sendiri kenapa merusuh.
"Ya, habisnya kangen, Dek. Masih lama ya?" tanyanya menatap sendu.
"Masih, Mas. Baru juga jalan sepuluh hari. Masih satu bulan lagi."
Abi hanya tersenyum loyo sembari melangkah ke kamar mandi dengan lunglai. Sha hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah polah suaminya.
Selesai mandi Abi sudah mendapati secangkir kopi diatas meja. Dia melihat istrinya sudah berbaring sembari memainkan ponselnya. Cukup luang karena baby boy masih dalam Pengasuhan kedua neneknya.
Abi menyeruput kopi hitam itu, lalu menghampiri sang istri dan ikut berbaring di sampingnya. Ia mengangkat kepala Sha untuk memindahkan agar berbantalkan lengan kekarnya.
Sha yang mendapat perlakuan sedemikian, maka segera memeluk tubuh sang suami, ia menikmati aroma maskulin di tubuh kekar itu.
"Apakah kamu bahagia menikah denganku, Sayang?" tanya Abi sembari mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"Aku sangat bahagia, Mas. Jangan pernah berubah kasih sayang kamu padaku, tetaplah seperti ini, walaupun nanti kita sudah tak muda lagi," jawab Sha dengan penuh harap.
"Percayalah, aku akan selalu meratukan dirimu. Sampai kapanpun kasih sayangku tidak akan pernah berubah padamu dan juga anak-anak kita kelak," janji pria itu sembari menguatkan pelukannya.
Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan takdir, karena itu akan menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Karena sejatinya kesedihan adalah sebuah pengalaman yang mengajarkan untuk menjadi kuat.
TAMAT
__ADS_1
Alhamdulillah akhirnya author bisa merampungkan sebuah karya ini. Semoga masih berkenan mampir di karya-karya terbaru author. Terimakasih untuk raeder yang masih setia mengikuti dan memberi dukungan 🙏🙏 Peluk sayang dari author yang jauh 🤗🤗😍😘