Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 13


__ADS_3

"Jangan berlagak tuli kamu ya, mana mungkin kamu tidak mendengarnya!" bentak Diana sembari berkacak pinggang.


"Nama saya, Sharena, jadi kalau Nona tidak menyebut nama saya, ya mana saya tahu," balas Sha begitu santai.


"Kamu!" tunjuk Diana pada wajah Sha begitu dekat.


"Maaf, bisa singkirkan telunjuk anda Nona, karena satu tunjuk mengarah kepada saya, namun empat tunjuk yang lainnya mengarah pada diri anda sendiri," balas Sha, sedikit senyum ia ukirkan.


Diana menyorot begitu tajam, sikapnya yang arogan tak mampu mengendalikan emosi jiwa, dengan seketika tangannya terangkat ingin menampar sekertaris suaminya itu.


"Kurang ajar! Beraninya kau padaku!"


"Di! Apa yang kamu lakukan!" sentak Abi sembari menahan tangan Diana hingga tak mengenai pipi mulus gadis cantik berlesung pipi itu.


"Mas, kenapa kamu menahanku? Biarkan aku memberinya pelajaran! Berani sekali dia menghinaku!" seru wanita itu meninggikan suaranya.


"Tenang Diana! jangan membuatku malu. Apakah kamu tidak menyadari siapa aku di kantor ini? Kamu mau semua stafku meremehkan aku karena ulahmu?!" bentak Abi tampak begitu jengkel.


"Kamu lebih membela dia, Mas? Padahal dia sudah merendahkan aku!" ujar Diana sangat kesal.


"Kamu sendiri yang memulainya, Di! Kamu yang mencari masalah, aku sudah katakan, dia itu sekertarisku, bukan OB, jadi kamu haru bisa memahami hal itu!" tukas Abi.


"Oh, jadi kamu ngebelain dia, Mas, iya? Yaudah aku pergi sekarang!"


"Diana, tunggu Di!" Abi berusaha mengejar sang istri, namun sepertinya wanita itu benar-benar marah sehingga tak menghiraukan lagi bujukan suaminya.


Sha masih terdiam di tempat duduknya, sedikit merasa tak enak hati karena telah membuat pasangan itu bertengkar, namun prinsipnya tak ingin direndahkan oleh siapapun bila dirinya tidak melakukan salah.


Abi menggusal rambutnya dengan kasar. Terlihat sekali gusar diwajahnya. Pria itu menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya, kepala terasa berdenyut pening.


Sha tak berani menatap kemarahan Pria itu. Ia lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Sesekali netranya mencuri pandang pada Pria itu yang nampak tidak fokus dengan pekerjaannya.


Sore selesai meeting, Sha ingin segera pulang, namun teringat kendaraannya yang tadi ia tinggalkan di jalan.


"Pak Abi!" panggil gadis itu berjalan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Abi yang sedang menuju parkiran.


"Apa?" tanya Abi dingin.


"Maaf, Pak, saya mau menanyakan tentang motor saya?"

__ADS_1


"Masih di bengkel," jawabnya kembali.


"Oh, yaudah, saya naik taksi saja." Sha segera mempercepat langkahnya keluar dari gedung pencakar langit itu, ia duduk di halte untuk menunggu taksi online yang sedang ia pesan.


Tin! Tin!


Suara klakson mengalihkan perhatian gadis itu, ternyata mobil Abi yang berhenti dihadapannya. Terlihat Pria itu membuka pintu mobil bagian sampingnya.


"Ayo masuk!" titahnya pada Sha yang terdiam bengong.


"Tidak, terimakasih Pak, saya sudah pesan taksi," tolaknya tanpa datar tanpa senyum.


"Batalkan saja, ayo aku antar kamu pulang!" ujarnya dengan gigih.


"Tapi, Pak!"


"Sudah, tidak ada bantahan. Kamu itu staf saya, jadi saya punya tanggung jawab mengantarkan," ujar Pria itu tampak tulus, dan sedikit bernada lembut.


Sha merasa sungkan untuk menolak, ia membuka aplikasi taksi online dan menekan tombol batal, dan segera masuk kedalam mobil atasannya.


Disepanjang perjalanan dua insan itu hanya diam. Sha tak berani membuka percakapan apapun. Sebenarnya ia ingin minta maaf atas kejadian siang tadi, namun melihat sikap Pria itu yang hanya diam dan kaku, maka niatnya urung.


Tak terasa tiga puluh menit berada di perjalanan sehingga mobil yang di tumpanginya sudah berhenti di depan rumahnya.


"Ya," jawabnya sesingkat mungkin.


Gadis itu segera turun dari mobil atasannya yang dingin nan kaku bin dingin itu. Ah, rasanya nggak nyaman banget punya Boss seperti itu, bahkan untuk tersenyum saja dia dilarang.


Ini sudah satu bulan lama sejak perjanjian itu di buat. Tampak beberapa minggu belakangan Abi begitu sibuk dan fokus dengan promil yang sedang di jalani. Pria itu sering tak masuk kantor demi memfokuskan diri pada proses yang sedang ia geluti.


Sha sedikit merasa lega dengan tak adanya Pria itu di kantor, dan ia juga sangat berharap semoga proses pasangan itu berhasil. Entah kenapa hatinya juga ikut was-was menunggu kabar dari mereka.


Sore ini Sha sudah berada di parkiran untuk mengendarai sepeda motornya. Rasanya hari ini begitu lelah karena banyaknya pekerjaan yang dia handle sendirian, ingin segera pulang untuk mencari tempat tidur.


Suara ponselnya mengusik konsentrasinya, ia menepikan kendaraannya sejenak untuk menerima panggilan itu. Ternyata dari Bu Rania, seketika jantungnya berasa berhenti berdetak.


"Assalamualaikum, Bu," ucapan salam dari gadis itu dengan ramah.


"Wa'alaikumsalam, Nak, apakah kamu sudah pulang?"

__ADS_1


"Ini baru keluar dari kantor, Bu."


"Bisa datang kerumah ibu sekarang?"


Lama Sha terdiam, ada apa ini? Apakah kesepakatan itu harus di teruskan? Ya Allah, hatinya benar-benar dilema, namun ia juga tak ingin menjadi wanita yang ingkar atas janji yang sudah ia ucapkan.


"Halo, Nak, kamu masih dengar Ibu?" tanya Bu Nia memastikan.


"Ah, ya, Bu. Baiklah saya akan segera kesana," jawab Sha berusaha tenang. Berharap semoga saja ada hal lain yang ingin mereka bicarakan bukan masalah itu.


Setibanya dirumah itu, kembali jantung Sha berasa ingin lompat saat melihat mobil Abi sudah terparkir disana. Pupus sudah harapannya, ia sudah tahu apa yang akan terjadi.


Dengan langkah berat Sha memasuki hunian mewah itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi bila ini jalan yang harus ia lalui.


Ucapan salam yang disambut hangat oleh kedua pasangan baya itu. Sha segera menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang keluarga. Terlihat Abi sudah duduk disana.


"Ada apa ya, Bu?" tanya Sha ingin segera tahu, rasanya tak ingin lagi berbasa-basi bila akhirnya ia harus menerima kenyataan yang sebenarnya sudah ia pasrahkan.


"Sha, apakah kesepakatan kita masih bisa kita teruskan?" tanya Papa Ikhsan.


Sha menghela nafas dalam, memasok udara sepenuh dada, ia harus menerima kenyataan ini. Tak ingin melihat kekecewaan di wajah kedua orangtua itu.


"Ya, saya masih teguh dengan perjanjian itu, Pak," jawabnya berusaha untuk tetap tegar. Meskipun masa depan taruhannya.


"Promil Abi dan Diana gagal, Mama dan Papa minta besok kalian menikah. Seperti janji yang telah kita sepakati, yaitu kita akan melakukan metode inseminasi," jelas Pak Ikhsan.


"Jika hanya melalui proses inseminasi, kenapa kami harus menikah, Pa? Aku rasa itu perlu," sambung Abi tak setuju.


"Tidak perlu apanya? Justru itu sangat perlu Abi, karena jika tidak menikah maka anakmu tidak mempunyai nasab," jelas Mama pada putranya yang belum tahu akan hal itu.


Abi terdiam, netranya menatap Sha begitu dalam. Gadis itu tak menunjukkan ekspresi apapun diwajahnya. Apakah dia keberatan?


"Terserah Papa dan Mama saja, aku minta pernikahan ini jangan sampai diketahui oleh Diana. Aku tidak mau hubunganku dan Diana hancur," ucap Abi memperingati.


"Saya juga minta agar hal ini jangan sampai diketahui oleh Ibu dan adik saya, saya tidak mau kondisi Ibu memburuk bila mengetahui hal ini." Sha juga memperingati mereka.


"Sha, Ibu dan Bapak minta maaf ya, Nak, bila sudah melibatkan kamu di situasi sulit ini. Tapi sungguh Ibu hanya menginginkan cucu darimu, maaf bila Ibu sudah egois," ujar Mama Nia menatap sedih pada calon menantunya itu.


"Iya, tidak apa-apa, Bu, saya sudah ikhlas menerima semuanya, semoga apa yang di inginkan segera terwujud." Sha berusaha bersikap baik-baik saja dihadapan wanita itu, walau sebenarnya hatinya bersedih.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2