
Sha melepaskan diri dari dekapan sang suami. Jantungnya benar-benar sulit dikendalikan saat telah diperlakukan sedemikian rupa. Apakah saat ini dirinya telah jatuh cinta pada Pria itu?
"Ayo duduk, Mas," ucap Sha menarik sebuah kursi untuk Abi.
"Makasih, Sayang." Abi tersenyum manis mendapat perhatian khusus dari istrinya.
Sha hanya tersenyum simpul sembari mengisi piring untuk Abi. "Segini cukup, Mas?" tanya Sha menakar isi dalam piring itu.
"Tambah lagi, Dek, soalnya kalau makan sambil mandangin istriku yang cantik, bawaannya lapar aja," sahut Pria itu yang mendapat tatapan tajam dari Sha. Sampai kapan Pria ini akan selalu membuatnya terbang.
"Hahaha... Biasa aja natapnya, Dek." kekeh Pria itu merasa gemas melihat ekspresi wajah istrinya.
"Lagian dari tadi kerjaan kamu selalu saja merayu. Palingan hanya alibi semata demi melancarkan rencana yang terselubung," tembak wanita itu menjurus ke sesuatu.
"Eh, apaan. Ya nggaklah. Aku tu benar-benar sayang dan cinta sama kamu. Jadi, apapun yang keluar dari mulutku adalah yang sebenarnya. Kamu bisa buktikan sendiri bahwa cinta dan sayangku tak akan pernah berubah sampai kita tua nanti. Aku itu tipe lelaki yang setia, tapi jika sekali telah di khianati, maka cinta itu bisa menguap tak bersisa."
Sekali lagi Pria itu membuat Sha tak bisa berkutik. Sesimpel itukah hidupnya? Mudah bucin dan mudah pula hambar.
"Apakah bila suatu saat aku melakukan kesalahan, apakah kamu tidak bisa memaafkan aku?" tanya Sha penasaran.
"Aku akan memaafkan kamu selain dari kesalahan pengkhianatan. Jika kesalahan yang lain, maka itu biasa dalam mengarungi rumah tangga. Tapi tidak untuk yang satu itu," tekan Abi.
"Bagaimana jika kesalahan itu kamu yang lakukan? Apakah berlaku juga untukku, untuk tidak akan pernah memaafkanmu?"
"Itu tergantung dengan hatimu sendiri, Dek, tapi percayalah, selagi kesetiaan itu kamu tanamkan dalam hati maka aku pastikan tidak akan pernah ada wanita lain diantara kita," ucapnya meyakinkan Sha.
"Oke, ayo kita makan sekarang. Satu jam lagi praktek dokter kandunganku sudah di mulai," ucap Sha ingin segera mengakhiri pembahasan mereka tentang pengkhianatan.
__ADS_1
Abi hanya tersenyum dan segera menyantap makanan yang sudah tersaji di piringnya. Pasangan itu makan dengan khusuk. Selesai makan Sha segera bersiap karena waktu sudah mendekati.
"Ayo Mas," ajak Sha yang sudah bersiap untuk berangkat.
"Ah, ayo."
Saat mereka hendak keluar, terdengar suara percakapan ibu dan anak di teras rumah.
"Bu, Kak Sha mana?" tanya Aldo yang baru saja pulang sekolah.
"Ada di dalam, ada apa, Al?" tanya Ibu sembari membersihkan perkarangan rumah itu.
"Senin depan aku UN, Bu, harus melunasi tunggakan yang ada. Apakah Kak Sha ada uang ya, Bu? Kalau nggak aku ambil uang tabungan untuk kuliahku saja. Soalnya segan juga minta terus," ucap Pria yang berumur hampir sembilan belas tahun itu.
"Nggak usah, pake uang ibu saja. Ibu masih ada simpanan. Kamu jangan bebani kakakmu lagi. Kasihan, sebentar lagi dia juga mau lahiran. Uang tabungan untuk masuk kuliah jangan di ganggu, biar nanti tidak merepotkan kakak lagi," ucap Ibu pada anak laki-laki satu-satunya itu.
"Baiklah, nanti kalau aku sudah kuliah aku pengen kerja juga, biar ada pemasukan sedikit-sedikit," ujar Aldo yang merasa sungkan selalu merepotkan sang kakak.
"Tidak usah, Dek, biar nanti aku ayang akan memenuhi semua biaya Aldo," bisik Abi pada sang istri.
"Tapi, Mas..."
"Sudah, jangan pikirkan. Ayo sekarang kita pergi dulu. Nanti kita terlambat." Abi merangkul bahu Sha.
"Eh, Mas Abi dan Kak Sha mau kemana?" tanya Aldo yang berpapasan.
"Kakak mau ke RS dulu. Kamu baru pulang?" tanya Sha.
__ADS_1
"Iya, Kak. Tadi ada pelajaran tambahan jadi agak telat pulang.
"Yasudah, sana masuk ganti pakaian, habis itu makan," ucap wanita itu begitu perhatian pada sang adik.
"Baiklah, aku masuk dulu."
Diperjalanan Sha hanya diam. Masih terngiang obrolan ibu dan adiknya. Merasa dirinya belum bisa memenuhi kebutuhan mereka, nyatanya Aldo masih mengeluh membutuhkan biaya. Sebenarnya bukan tak ada uang, namun belakangan ini ia benar-benar lupa untuk menanyakan perihal biaya sang adik, karena banyaknya masalah, ditambah ia dan ibu berbarengan masuk RS, jadi ia lupa menayangkan biaya pendidikan Aldo. Adiknya itu memang tipe lelaki yang sangat perasa dan sangat tak ingin membebani dirinya.
"Sudah, Sayang, jangan dipikirkan," ucap Abi yang mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sang istri.
"Tadi kenapa kamu larang aku untuk bicara dengan ibu dan Aldo? Padahal aku ingin meluruskan bahwa aku benar-benar lupa dengan biaya sekolah Aldo. Aku tidak ingin mereka merasa kekurangan, Mas. Aku masih punya uang untuk bisa memenuhi kebutuhan ibu dan adik aku," ungkapnya merasa kesal karena Abi menahan niatnya.
"Nanti aku yang akan bicara pada ibu dan Aldo. Mulai sekarang biarkan aku yang akan memenuhi kebutuhan ibu dan Aldo. Kamu jangan pikirkan hal itu lagi," ujar Abi mencoba untuk menenangkan sang istri.
"Tidak perlu, Mas. Ini semua tanggung jawab aku. Aku masih mampu. Jadi kamu tidak perlu repot-repot soal itu. Dan aku juga yakin ibu tidak akan mau menerima," timpal wanita itu yang tak ingin merepotkan suaminya. Apalagi hubungan mereka baru saja dimulai. Sha tak ingin disebut hanya memanfaatkan kesempatan yang ada. Dengan uang gaji yang dia dapatkan sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan mereka.
"Dek, tanggung jawab kamu itu tanggung jawab aku juga. Sekarang kita sudah satu keluarga, jadi ibu dan Aldo sudah menjadi tanggungan aku. Jika Ibu tak ingin menerima dariku, maka kamu yang akan memberikan pada ibu." Abi masih bersikukuh untuk meringankan beban sang istri.
"Tapi, Mas, aku merasa tidak enak. Sungguh aku masih bisa membiayai ibu dan Aldo."
"Simpan uang kamu itu, Dek, mana tahu suatu saat tiba-tiba aku jatuh tapai, maka aku pasti juga membutuhkan bantuan darimu," sahut Abi dengan candaan.
"Apaan sih niatnya begitu? Nggak baik ngomong begitu, karena setiap ucapan itu adalah Do'a."
"Hehe... Iya, aku salah. Yaudah, sekarang kamu jangan pikirkan tentang Ibu dan Aldo lagi ya, izinkan aku untuk berbakti kepada ibu mertuaku. Karena jika bukan darinya, aku pasti tidak akan pernah bertemu dengan wanita cantik nan Sholeha ini," ucap Abi tersenyum manis.
"Ish, mulai deh kamu, Mas." Sha menatap malas sembari memalingkan muka. Rasanya sedari tadi sudah terlalu kenyang karena gombalan pria itu.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰