Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 27


__ADS_3

Diana masih menatap sinis pada Sha, namun wanita hamil itu tampak begitu acuh, tak ingin menanggapi hal yang tidak penting. Abi terlihat begitu perhatian terhadap istri pertamanya.


Setelah Diana pulang, Abi menghampiri Sha yang sedari tadi tak nampak makan apapun, makanan yang tadi ia belikan juga tak disentuh olehnya.


"Kamu masih belum mau makan apapun?" tanya Abi


"Tidak lapar," jawabnya masih menatap laptop yang ada dihadapannya.


"Makan dulu, Sha. Kamu sengaja membuat anakku kelaparan?" tanya Abi menatap curiga.


"Terserah Bapak mau bilang apa, karena memang hari ini saya tidak selera makan. Nanti saja pulang kantor saya akan makan," jelasnya acuh.


Sore hari Sha berkemas untuk segera pulang, seperti yang telah dikatakan pada ibu bahwa dirinya akan ada pekerjaan di luar kota untuk beberapa bulan ini. Sebenarnya sangat berat harus berpisah dengan ibu dan adiknya dalam waktu yang cukup lama.


Tentu saja hati wanita itu galau, karena ia tidak bisa bertemu dengan ibu dan adiknya walau hanya sesaat. Sha harus menahan rindu hingga bayi yang di kandungnya lahir.


Seperti biasanya, Abi akan mengantarkan wanita itu pulang. Diperjalanan Abi banyak curhat tentang Diana pada istri keduanya itu. Sebenarnya Sha malas menanggapi ucapan Pria itu,namun ia merasa tidak enak bila terlalu acuh. Tetiba saja dirinya teringat kembali dengan Pria yang disebut Diana sebagai Oomnya.


"Aku benar-benar lelaki yang bodoh karena begitu tega mengabaikan Diana," ucap Abi penuh penyesalan.


"Bapak yakin Mbak Diana benar-benar sakit?" tanya Sha


"Ya, tentu saja aku percaya," jawab Pria itu yakin


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Abi.


"Bukan apa-apa, beberapa bulan yang lalu aku pernah bertemu Mbak Diana dengan seorang lelaki yang umurnya jauh lebih tua dari Bapak," jelas wanita itu dengan jujur.


"Kamu jangan bicara mengada-ada, Sha. Mana mungkin istriku seperti itu. Aku harap kamu tak menyebar fitnah," tegas Pria itu menatap Sha dengan raut wajah tak suka.


"Tapi saya tidak menyebar fitnah, Pak. Saya juga tidak menuduh Mbak Diana yang bukan-bukan, tapi saya hanya memberitahu Bapak saja."


"Itu sama saja kamu fitnah, untuk apa kamu mengatakan hal itu padaku? Apakah kamu ada niat untuk membuat aku dan Diana berpisah, agar kamu bisa menempati posisinya lantaran kamu sudah mengandung anak aku, iya?" Kata-kata Abi begitu pedas hingga menyakiti hati dan jantungnya.


Seketika mata wanita itu berkaca-kaca. Hatinya terasa ngilu, kembali ia menelan rasa kekecewaan. Tentu saja ia menyalahkan diri sendiri yang tak jua mau mengerti. Kenapa dirinya begitu degil untuk mencampuri urusan Pria itu. Apa peduli dirinya?


"Maaf bila saya sudah lancang untuk menanyakan hal yang tak seharusnya," jawab wanita itu membuang muka.

__ADS_1


Abi tak menyahut, ia juga membuang tatapan. Hatinya terasa entah untuk menanggapi. Memang seharusnya Sha tak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangganya dengan Diana.


Abi melajukan kendaraannya menuju kediaman Sha, ia belum tahu bahwa mulai hari ini Sha harus tinggal bersama kedua orangtuanya. Sha memang tak memberitahu padanya sebelumnya.


"Saya pulang kerumah Wibowo," ujar wanita itu datar.


"Maksud kamu?" tanya Abi tak paham sembari menepikan kendaraannya.


Sha menghela nafas panjang, rasanya sudah malas untuk bicara dengan Pria itu, rasa kecewa begitu dalam atas sikapnya.


"Saya akan tinggal disana hingga anakku lahir," jelasnya dengan nada dingin.


"Kamu sudah mengatakan pada Ibu dan Aldo?"


"Sudah."


Abi kembali memutar arah, ia segera menuju kediaman orangtuanya, sepanjang perjalanan Sha hanya diam dan tak ingin menatap lelaki yang ada disampingnya.


"Kamu sudah datang, Nak?" tanya Mama memeluk gadis itu dengan sayang.


"Iya, Ma. Kalau begitu aku istirahat dulu ya Ma," ujar Sha pamit untuk segera kekamarnya.


"Belum, Ma. Dari pagi Sha tak makan apapun," ujar Abi memotong ucapan sang Mama.


"Kenapa, Nak? Kamu lagi demam? Apakah kamu merasakan sesuatu, apakah kandungan kamu baik-baik saja?" tanya Mama memberondong dan begitu cemas.


"Tidak, Ma, aku baik-baik saja, hanya selera makan aku saja sedang tidak baik untuk hari ini," jelasnya pada ibu mertua.


"Yasudah, Mama buatin kamu sup ayam kampung ya, kamu pasti suka. Sekarang kamu istirahat dulu," ujar Mama begitu pengertian dan sangat Sayang. Banyak orang yang mengeluh tentang hubungan menantu dan Ibu mertua, namun tidak bagi Sha, dia benar-benar wanita yang beruntung mendapatkan ibu mertua yang begitu penuh kasih sayang seperti ibu kandung sendiri.


Mungkin dalam memiliki mertua dia sangat beruntung, namun tidak dengan suami. Sha tidak bisa mendapatkan suami yang mencintainya. Sha harus mengorbankan perasaannya untuk bertahan dalam pernikahan tanpa cinta.


Wanita hamil itu segera beranjak menuju kamarnya. Didalam kamar ia segera bersih-bersih sebelum mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah hari ini. Bukan tubuh saja yang lelah. Namun hatinya juga lelah menghadapi sikap ayah dari anak yang dikandungnya.


Sementara itu Abi dan kedua orangtuanya sedang berbincang di ruang keluarga. Pria itu menceritakan apa yang sedang dialami oleh Diana saat ini. Dan tentu saja membuat kedua orangtuanya sangat terkejut.


"Apakah kamu serius Abi? Kamu tidak sedang membohongi Papa dan Mama 'kan?" tanya Mama sangat syok mendengarnya.

__ADS_1


"Iya, Ma, aku sendiri yang telah melihat surat pemeriksaan Diana. Dan Dokter telah mendiagnosa penyakitnya," jelas Abi pada kedua orangtuanya.


"Tapi kenapa kedua orangtua Diana tidak pernah memberitahukan kita tentang penyakit anaknya?" tanya Papa yang masih enggan untuk percaya dengan menantu wanitanya itu.


Abi terdiam mendengar ucapan Papa, benar juga apa yang dikatakan Papa, kenapa selama ini keluarga istrinya tak pernah memberitahu. Apakah Diana juga menyembunyikan dari kedua orangtuanya?


"Mungkin saja Diana juga belum jujur pada kedua orangtuanya, Pa."


"Yasudah, jika benar istrimu mengidap penyakit berbahaya, segeralah obati, bila perlu bawa dia berobat keluar negeri agar segera sembuh," balas Papa memberi solusi.


"Baik, Pa. Nanti akan aku konfirmasi dulu pada Diana," jawab Abi.


Abi pamit pulang pada kedua orangtuanya sebelum magrib. Setelah Abi pulang, Sha keluar dari kamar. Wanita itu ikut bergabung dengan Mama yang sedang sibuk di dapur.


"Eh, kamu sudah bangun, Nak? Kamu sudah lapar? Bentar ya, beberapa menit lagi sup ayamnya mateng," ujar Mama pada anak menantunya.


Sha hanya mengangguk dan tersenyum. Ia ikut membantu menata hidangan diatas meja makan. Setelah tertata dengan baik. Keluarga itu segera melaksanakan ibadah tiga rakaat. Setelahnya mereka lanjut makan malam bersama.


Saat sedang makan malam. Terdengar suara bel rumah itu berbunyi. Mama meminta Bibik untuk melihat siapa tamu yang datang.


"Siapa, Mbak?" tanya Mama.


"Den Abi dan Non Diana, Buk," jawab Art memberitahu.


"Apa! Terus...?" Tanya Mama menatap Papa dan Sha.


Sha yang sudah tahu apa yang dimaksud oleh Mama, maka ia segera berdiri untuk masuk kamar. Namum sang Papa mencegah.


"Tidak perlu, Sha, ayo duduklah," ujar Papa melarang.


"Tapi, Pa?" tanya Mama tampak cemas.


"Tidak perlu, Ma. Sha dan Diana itu sama-sama mempunyai kedudukan. Mereka sama-sama istri Abi. Jadi mulai sekarang tidak perlu menyembunyikannya," ujar papa yang membuat Mama tidak mengerti sama sekali.


"Maksud Papa? Apakah Papa ingin memberitahunya sekarang?"


"Tidak sekarang, tapi nanti ada masanya. Untuk saat ini kita masih punya alasan banyak kenapa Sha ada disini," jelas Papa.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2