Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 6


__ADS_3

"Bagaimana, Sha? Apakah kamu nyaman bekerja di kantor?" tanya Pak Ikhsan sembari duduk disamping istrinya.


"Alhamdulillah saya nyaman, Pak," jawab Sha, sebenarnya sedikit tidak nyaman dengan sikap Abi yang arogan. Tapi ia tidak mungkin harus mengatakan hal itu.


"Syukurlah, jika ada keluhan dan masalah, kamu bisa hubungi Bapak," jelas Pria baya itu.


"Baik, Pak," jawab Sha mengangguk paham.


Cukup lama mereka ngobrol, kini waktu magrib telah tiba. Mereka segera melaksanakan ibadah bersama di mushola yang ada di kediaman itu. Papa Ikhsan menjadi imam. Abian berada di belakang Papa, dan Mama Nia dan Sha dibelakang mereka. Keluarga itu sholat dengan ksyuk.


Selesai sholat, mereka melanjutkan acara makan malam bersama, Mama dan Papa terlihat begitu semangat untuk membawa Sha ngobrol, lain halnya Abi yang hanya diam dan berfokus pada makanan di piringnya.


"Diana mana, Bi? Kok sekarang dia jarang sekali datang kesini?" tanya Papa menatap Putranya.


"Diana lagi keluar kota,Pa," jawab Abi datar.


"Keluar kota? Ada hal apa?" tanya Mama penasaran dengan kegiatan menantu satu-satunya itu.


"Nggak ada kegiatan apa-apa, Ma, cuma reunian," jawab Abi jujur sekali.


"Reunian? Kamu memberi izin pada istrimu?" tanya Mama tidak mengerti.


"Biarlah, Ma, aku percaya Diana tidak akan berbuat macam-macam. Aku sangat tahu siapa dia."


"Abian, ini bukan masalah percaya atau tidaknya. Tapi apakah pantas seorang wanita yang telah bersuami meninggalkan suaminya hingga berhari-hari? Kamu itu harus bersikap tegas Abi!" potong Papa tak sesuai dengan jalan pemikiran putranya. "Ingat, Bi. Cinta boleh, tapi harus menggunakan akal sehat."


"Sudahlah, Pa. Aku hanya tidak ingin mengekang istriku. Dia itu suntuk dirumah, aku juga tidak ingin egois," jawab Abi masih membela sang istri.


Papa dan Mama saling pandang dengan ekspresi wajah tak mengerti dengan pemikiran putranya. Pasangan itu hanya bisa menghela nafas dalam.

__ADS_1


Sha hanya sebagai pendengar, tak ingin menanggapi apapun, bahkan jika bisa ia ingin segera pergi, agar tak mendengarkan topik pembahasan keluarga itu.


Selesai makan, Sha pamit pada Pak Ikhsan dan Bu Rania. Ia tak bisa meninggalkan ibu terlalu lama dirumah, sebab sepulang kantor ia belum pulang kerumahnya, walaupun sudah mengirim pesan dan meminta izin pada sang ibu, namun tetap saja pikirannya tak tenang bila terlalu lama.


"Bu, Pak, aku pamit pulang dulu, terimakasih sudah mengundang aku makan malam disini," pamit Sha sembari menyalami dengan takzim.


"Sama-sama, Nak. Ibu dan Bapak sangat senang dengan kehadiran kamu dirumah ini, kamu sering-sering main kesini ya," ucap Bu Nia sembari memeluk gadis itu.


"Ah, baiklah, Bu. Insya Allah nanti kalau ada waktu luang aku main lagi kesini," ucap Sha.


"Baiklah, Nak. Hati-hati. Atau motor kamu tinggal disini saja, biar diantar sama Abi pulang," balas Pak Ikhsan perhatian sekali.


"Ah, tidak perlu, Pak. Aku naik motor saja," tolak Sha dengan sopan.


Sharena segera beranjak meninggalkan kediaman Wibowo itu. Setibanya di rumah ia segera menghampiri sang ibu yang sedang istirahat di kamarnya.


"Assalamualaikum, maaf ya, Bu, aku pulang terlambat," ucap gadis itu menyalami tangan ibu.


"Alhamdulillah, Pak Ikhsan dan Bu Rania baik banget, Bu, kadang suka nggak enakan dengan sikap mereka yang begitu sangat perhatian. Beda banget dengan anaknya yang menjadi atasan aku di kantor," jelas Sha bercerita pada sang Ibu.


"Ohya? Emang kenapa sikap Bos kamu itu? Galak ya?" tanya Ibu beruntun.


"Hmm, sedikit, Bu, tapi aku maklum kok. Karena nggak ada Bos yang tak galak. Tapi jujur, kedua orangtuanya baik benget."


"Iya, tidak perlu dipikirkan. Ibu yakin, marahnya seseorang pasti karena ada kesalahan yang kita buat. Pokoknya teruslah belajar agar kinerja kamu semakin baik, jadi nggak kena marah lagi," nasehat Ibu membesarkan hati putrinya.


"Insya Allah, Bu, aku akan berusaha untuk belajar lebih baik lagi. Ya udah, aku mandi dulu ya. Oya, Al mana, Bu?" tanya gadis itu tak melihat kehadiran sang adik.


"Keluar, katanya ada kerja kelompok di rumah temannya."

__ADS_1


Sha hanya mengangguk paham, dan segera menuju kamarnya untuk bersih-bersih, dan melaksanakan ibadah isya. Setelah itu ia segera merebahkan diri istirahat, rasanya hari ini begitu lelah, apalagi menghadapi atasannya yang begitu dingin dan suka marah-marah tak jelas.


Pagi-pagi sekali Sha sudah rapi, selesai menyediakan sarapan untuk keluarga kecilnya, ia segera pamit pada sang Ibu, karena Sha tak ingin melakukan kesalahan lagi dengan datang terlambat. Rasanya mulut Bosnya itu terlalu pedas untuk pegawai baru seperti dirinya.


Setibanya di kantor, gadis itu segera menuju ruangannya, namun matanya menatap aneh saat petugas mengemasi barang-barangnya.


"Loh, Pak, ini mau dibawa kemana barang-barang saya?" tanya Sha pada petugas kebersihan itu.


"Maaf, Mbak, kami diminta oleh Pak Abian untuk memindahkan barang-barang ibu di meja luar, karena kata Pak Abi, meja sekertaris dipisah dari ruangan beliau," jelas pegawai itu apa adanya sesuai perintah yang mereka laksanakan.


"Loh, kok..."


"Kenapa? Apakah kamu keberatan?" tanya Pria itu berdiri dihadapannya bersama istrinya, terlihat Diana mengukir senyum kemenangan.


"Bu-bukan, Pak. Tapi kenapa Bapak tidak beritahu saya terlebih dahulu," jawab Sha.


"Buat apa saya harus memberitahumu, ini kantor saya, jadi saya berhak atas apa yang saya perintahkan!" tekan Pria itu. Ia segera menggandeng istrinya masuk kedalam ruangannya.


"Ya, saya tahu Bapak memang berhak atas apa yang ada di kantor ini, tapi sebagai pemimpin yang beradab dan berakhlak, seharusnya Bapak mengkonfirmasi pada saya, karena bagaimana juga, apapun barang-barang saya yang ada di meja itu adalah bersifat pribadi, jadi tak perlu orang lain yang harus mengemasinya!" balas Sha tak ingin kalah pada Pria itu yang berlaku sesukanya.


Abi menghentikan langkahnya, dan memutar tubuh menghadap pada wanita yang menurutnya cukup bijak dan berani dalam menginterupsi seorang Bos besar. Perlahan kaki Pria itu melangkah menghampiri dimana Sha berdiri.


"Hebat sekali kamu ya, baru beberapa hari bekerja di kantor ini, tapi sudah berani membantah ucapan saya! Apakah nanti sikap kamu akan lebih parah dari ini? Dasar tidak tahu malu!" ujar Pria itu menyakiti hati. Namun, Sha sudah mulai terbiasa menghadapi ucapan Pria angkuh itu. Ia akan tetap menyuarakan bila dirinya tak melakukan kesalahan apapun.


"Ya, saya tidak akan tinggal diam jika perilaku Bapak sudah menyalahi aturan," balasnya menatap tajam.


"Apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Abi mulai kesal.


"Aku akan menghubungi Pak Ikhsan, aku akan memberitahu prihal diubahnya tata ruang sekertaris," jawab Sha yang membuat mata Abi dan Diana membulat sempurna.

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2