
"Sudah sudah, jangan menangis lagi ya. Ibu sudah memaafkan suamimu. Ayo sekarang kamu istirahat. Besok kamu ingin menemuinya 'kan?" ucap Ibu sembari menghapus air mata putrinya yang masih berderai.
Sha mengangguk patuh. "Tapi ibu benar telah memaafkan dia 'kan?" Sha memastikan sekali lagi.
"Iya, Sayang, ibu sudah memaafkan Abi. Tapi jangan sekali-kali menyakiti kamu, maka tiada maaf baginya," tekan ibu dengan tegas.
Sha mengangguk paham, dan merasa lebih lega. Berharap apa yang telah diucapkan oleh Pria itu memang benar. Sha segera masuk kedalam kamar untuk segera tidur agar pagi cepat menjelang.
Pagi-pagi sekali Sha sudah bangun lebih awal, tak lupa melaksanakan ibadah subuh dua rakaat. Uraian Do'a ia langitkan pada sang Khaliq, memohon agar dipermudah segala urusan sang suami.
"Sha!" panggil ibu sembari mengetuk pintu.
"Ya, Bu, sebentar." Sha segera menyudahi aktivitasnya yang sedang berdandan tipis, entah kenapa jantungnya berdegup tak tenang saat ingin menemui sang suami.
"Jangan lama-lama, mertuamu sudah menunggu," ucap Ibu memberi tahu.
Sha segera keluar untuk berangkat bersama dengan kedua orangtua suaminya menuju kantor polisi. Saat mobil sudah sampai, kembali jantung gadis itu bertalu-talu. Tak tahu kenapa rasanya begitu nervous. Bukankah selama ini mereka sudah sering bertemu?
Dengan di dampingi oleh pengacara, keluarga Wibowo itu datang menemui putranya. Sha duduk dengan sedikit gelisah saat menunggu sang suami datang.
"Ma, Pa." Abi menyalami kedua orangtuanya. Ia belum menyadari kehadiran Sha yang duduk agak di pojok.
"Pak Abi," seru Sha yang membuat pria itu terkesiap.
"Sha! Kamu?" Tatapannya beralih kepada kedua orangtuanya.
"Maafkan Mama, karena Mama tidak sanggup untuk berbohong, Nak," ujar Mama dengan wajah sedih.
__ADS_1
Abi menghampiri wanita itu yang berdiri dengan perasaan gugup. Seketika tatapan mereka bertemu.
"Maafkan aku," ucap Abi menatap dengan dalam.
"Kenapa Bapak menyembunyikan dari saya?" tanya Sha dengan gugup, keringat dingin keluar dari dahinya.
"Bisakah mulai sekarang mengubah panggilanmu padaku? Karena aku ini suamimu, tapi kenapa panggilanmu masih begitu formal?"
"A-aku mau panggil apa?" tanya Sha bingung.
"Senyaman kamu saja."
"Apa?" gadis itu tidak tahu harus memanggil apa.
"Mas."
Abi membawa Sha kembali duduk. Sementara papa dan mama sedang berbincang dengan Kuasa hukum mereka. Mereka sengaja memberi kesempatan untuk pasangan itu bicara berdua.
"Apakah tadi malam kamu menungguku?" tanya Abi dengan lembut.
"Tidak," jawab Sha jelas berbohong. Padahal entah jam berapa ia baru bisa menemui kantuk.
"Kenapa? Apakah kamu tidak mengharapkan kehadiranku?"
"Bu-bukan begitu. Tapi aku..."
"Terlalu malu untuk mengakuinya?" sambung Abi tersenyum pada wanita hamil itu.
__ADS_1
"Ish, kenapa percaya diri sekali," ujar gadis itu memalingkan muka.
"Tentu saja aku percaya diri bahwa kamu sangat mengkhawatirkan aku, karena jika tidak, kamu tak akan mungkin datang sepagi ini untuk menemui aku."
Seketika wajah Sha merona. Tak bisa membohongi perasaan sendiri bahwa apa yang dikatakan pria itu memang benar adanya. Sha hanya terdiam tak ingin menanggapi lagi.
"Mas, kapan pulang? Apakah kamu masih lama disini?" tanya Sha pada akhirnya. Tentu saja membuat perasaan Abi semakin bahagia mendengar pertanyaan itu.
"Sabar ya, Sayang, semoga hari ini masalahnya selesai. Tenanglah, setelah ini aku akan selalu mendampingimu sampai kapanpun."
Wajah Sha kembali merona saat mendengar panggilan sayang dari sang suami. Merasa sangat di cintai oleh pria itu.
"Bagaimana keadaan anak papa? Apakah dia rewel?" tanya Abi sembari mengusap perut buncit Sha.
"Dia baik-baik saja, tidak rewel sama sekali. Tapi aku lagi pengen makan berdua sama kamu, Mas," ucap Sha. Memang keinginan itu sudah lama sekali, namun ia memendam sendiri karena selama ini sikap Abi yang cuek tidak akan mungkin mau memenuhi keinginannya.
"Makan berdua?"
"Iya, kita beli nasi rames, tapi satu berdua. Apakah Mas Abi mau makan berdua denganku?" tanya Sha. Meskipun sangat malu mengutarakan keinginannya, namun demi permintaan sijabang bayi.
Abi tersenyum melihat wajah malu-malu ibu dari anaknya itu. "Jangankan untuk makan berdua, tidur berdua denganmu aku sangat mau," jawabnya membuat wajah Sha semakin merah merona.
"Mas! Apaan sih kamu, jangan mikir kesitu dulu. Selesaikan urusan kamu dulu," ujar Sha menatap garang.
"Hahaha... Baiklah, Sayang, secepatnya aku akan menyelesaikan masalah ini."
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰