Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 51


__ADS_3

Setelah menjalani mandi wajib, pasangan itu tak lupa mengambil wudhu untuk melaksanakan ibadah dua rakaat.


"Ke masjid dulu ya, Dek," pamitnya pada Sha yang telah menggunakan mukena.


"Iya, hati-hati." Sha menyalami tangan Pria itu dengan takzim.


Setelah sholat subuh, Sha keluar kamar untuk ikut menyediakan sarapan. Namun Mama Nia tak mengizinkan wanita hamil itu.


"Sudah Sha, kamu duduk saja. Kamu itu tidak boleh lelah menjelang hari persalinan," ucap Mama menyuruh anak menantunya untuk duduk tenang.


"Nggak pa-pa, Ma, aku sudah biasa mengerjakan hal seperti ini."


"Tidak, Mama bilang!" ujar Mama tak ingin dibantah. "Udah kamu pergi jalan pagi saja sama Abi," ucap Mama memberi solusi.


"Assalamualaikum... Ada apa ini?" tanya Abi menghampiri istri dan Mama di dapur.


"Wa'alaikumsalam... Ini istri kamu ingin bantuin Mama dan Bibik masak, sana kamu bawa Sha jalan pagi keliling kompleks," titah Mama pada sang anak.


"Ayo, Dek, kita cari udara segar," ucap Abi sembari menarik tangan Sha untuk kembali ke kamar sebelum mereka keluar.


"Mas, pelan-pelan. Ih!" rutu wanita itu yang merasa kurang nyaman bila dibawa berjalan.


"Kenapa, Dek, Masih sakit?" tanyanya dengan bisikan.


"Masih perih, Mas. Aku malas untuk jalan," ujarnya sedikit meringis.


"Benarkah? Ya ampun, maaf banget ya, Sayang." Abi merangkul sembari mengusap mahkota sang istri dengan penuh kasih sayang.


Pasangan itu hanya berdiam dikamar, karena Sha merasa kurang nyaman. Tak banyak yang mereka lakukan, Sha kembali merebah, sementara itu Abi kembali berkutat dengan MacBook dan berkas-berkas yang ada diatas mejanya.


"Mas?" panggil Sha pada sang suami yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Ya, Sayang, ada apa?" Abi menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menghampiri wanita hamil itu.


"Mas, temani aku disini," ucapnya dengan manja.


Abi tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang tetiba manja. "Kok manja banget sekarang, hmm?" tanyanya segera duduk.


"Nggak boleh manja sama kamu? Habisnya cuek banget dari tadi. Laki-laki mah gitu, kalau udah dapet maunya pasti bawaannya cuek," ucap wanita itu yang membuat Abi terkekeh.


"Hahaha... Masya Allah, Dek, kenapa pikiran kamu begitu? Aku tu sengaja sedikit menjarak, karena nggak mau khilaf, kan kamu bilang lagi nggak nyaman," jelas Pria itu sembari ikut berbaring dan mendekap tubuh wanita kesayangannya itu.


"Tuh kan bener. Kamu dekat sama aku karena ada maunya saja," balas Sha yang membuat Abi bingung harus bagaimana menjelaskannya.


"Bukan begitu maksud aku, Sayang, tapi kamu kan tahu sendiri, kita baru menunaikan malam pertama. Dan tentu saja membuat aku candu, jika kita rapat seperti ini terus, bagaimana jika aku tak bisa menahannya," jelas Abi berharap wanita hamil itu mengerti.


Sha hanya diam, memang benar apa yang dikatakan Pria dewasa itu. Tentu saja dua kali melakukan belum cukup membuat hasrat lelaki itu puas. Ah, tapi nggak pa-pa sesekali membuatnya sakit kepala. Sha hanya tersenyum manis sembari menguatkan pelukannya.

__ADS_1


"Sayang, jangan gini dong meluknya," ucap Abi yang merasa ada sesuatu sudah menantang.


"Biarin, lagian cap mau banget," jawabnya tak ambil pusing.


Abi mulai merusuh ditubuhnya. "Dek, masih nggak nyaman ya?" tanyanya dengan berbisik.


"Iya, Mas. Nggak pengen dulu, pengennya dipeluk gini aja," jawab Sha yang membuat kepala Pria itu semakin nyut-nyutan.


"Abi! Sha! Ayo sarapan dulu," seru Mama dari luar.


"Alhamdulillah... Akhirnya," ucap Abi bersyukur.


"Iya, Mama!" jawab Sha yang segera duduk.


"Ayo Dek, kita sarapan dulu." Abi membantu sang istri untuk berdiri dan merangkulnya keluar kamar.


Keluarga itu sarapan bersama, minus karena tak ada Papa. Pria baya itu masih berada diluar kota mengurus beberapa cabang perusahaan.


Selesai makan Abi sudah bersiap dengan berpakaian rapi untuk ke pengadilan agama. Hari ini adalah sidang putusan, yaitu dia dan Diana akan resmi bercerai. Ia ingin segera mengurus akta nikah resmi dengan Sha.


"Kamu beneran nggak mau ikut ke pengadilan, Dek?" tanya Abi pada sang istri yang masih sibuk mengancingkan jasnya.


"Nggak, Mas. Ini urusan kamu dan Diana. Aku nggak mau menjadi bahan omongan bagi orang-orang. Kamu kan tahu sendiri bagaimana Diana. Kalau dia bicara yang bukan-bukan di depan umum gimana?" ucapnya yang sudah paham betul karakter mantan istri pertama suaminya itu.


"Yaudah, kamu disini saja dulu ya, nanti sore kita pulang kerumah ibu."


"Baiklah kalau begitu."


"Oke, hati-hati. Semoga sukses." Sha mengantarkan Abi keluar rumah.


"Kamu yakin nggak ingin Mama temani ke pengadilan?" tanya Mama yang berpapasan dengan pasangan itu.


"Nggak, Ma, aku akan menyelesaikan urusan aku sendiri."


"Baiklah, semoga semuanya lancar."


"Aamiin... Berangkat dulu ya, Ma." Abi menyalami tangan sang Mama.


***


Abi mengucap syukur saat Hakim sudah mengetuk palu dan mengabulkan permintaannya, dan kini pasangan itu sudah resmi bercerai baik di agama dan hukum.


Sesaat tatapan mereka bertemu. Diana dan keluarganya menatap tajam padanya. Abi tak ambil pusing. Ia segera keluar dari gedung pengadilan agama dengan senyum mengembang.


"Abi!" panggil mantan Mama mertuanya.


Pria itu menghentikan langkahnya dan menghadap pada mereka yang datang menghampiri.

__ADS_1


"Ada apalagi?" tanya Abi datar.


"Sudah puas kamu sekarang! Hah? Bisa-bisanya kamu mengatakan bahwa pokok permasalahannya karena Diana selingkuh, padahal kamu sendiri yang melakukan hal itu!" ucap wanita baya yang dulu sangat dihormati oleh Abi.


"Hng! Aku selingkuh? Apakah Mama tidak salah? Coba Mama tanya, eh, tapi sepertinya Mama tidak perlu menanyakan pada Diana, karena aku yakin Mamalah sutradaranya, bukan? Selama tiga tahun dia mengkhianati aku! Dan dia sengaja meminum pil kontrasepsi, dan seandainya dia menjadi istri yang baik dan wanita terhormat, mungkin aku tidak akan pernah menikah dengan wanita lain. Tapi sudahlah, mungkin ini juga rencana Tuhan, yaitu memberiku ganti dengan wanita yang jauh lebih baik dari anak Mama."


Abi membungkam mulut mantan mertuanya itu dengan kata-kata sehingga diantara mereka tak ada yang bisa menyanggah kata-katanya.


"Apakah semudah itu kamu mencampakkan aku selama lima tahun kita menikah, apakah kamu tidak ada niat memberiku harta gono-gini?" tanya Diana yang memang tak terlepas dari materi.


"Hng! Kamu berharap harta dariku? Tentu saja akan aku beri. Kamu ambillah rumah itu. Aku rasa itu sudah cukup untuk mantan istri pengkhianat seperti dirimu. Jangan berharap lebih, karena itu hanya mimpi. Karena kita tidak ada ikatan apa-apa. Rugi bukan, karena tak memiliki anak dariku," ucap Abi tersenyum sinis.


Abi beranjak meninggalkan mereka yang masih menatap kesal padanya, ia tak ambil pusing lagi. Saat ini hatinya cukup bahagia karena ia hanya akan fokus pada Sha dan anak yang sebentar lagi akan lahir.


Lelaki itu pulang dengan raut wajah sumringah. Tentu saja Mama sangat senang mendengar bahwa kini sang anak sudah terlepas dari pernikahan yang tidak sehat itu.


"Mama sangat senang, Nak. Mulai sekarang kamu fokuslah hanya pada istri dan anakmu," ucap Mama tersenyum bahagia sembari mengusap pipi putranya.


"Tentu saja, Ma. Dia adalah prioritasku. Jadi Mama dan Papa jangan pernah memintaku untuk menikah lagi," seloroh Pria itu pada sang Mama.


"Ih, kamu tuh ya, mana mungkin Mama mau menyuruh kamu nikah lagi, karena Sha itu adalah menantu pilihan Mama dan Papa. Dan nyatanya sekarang kamu sudah jatuh cinta dengannya 'kan?" tanya Mama yang membuat Abi hanya tersenyum kikuk.


"Hehe... Mama bisa aja. Cinta banget malah," jawabnya dengan kekehan kecil.


"Yaudah, sana berikan hadiah yang sudah kamu sediakan untuknya," ucap Mama membuat Abi sedikit kaget.


"Loh, kok Mama tahu?"


"Ya tahu dong. Lagian nyimpen sertifikat rumah sembarangan," cibir Mama.


"Ah, kira-kira Sha suka nggak ya, Ma?" tanya Pria itu minta pendapat pada sang Mama.


"Insya Allah dia pasti suka."


Abi hanya mengangguk paham, ia harus mencoba terlebih dahulu, jikapun nanti Sha tidak suka, mungkin ada hal lain yang Sha sukai. Apapun itu ia akan wujudkan asalkan hati wanita itu senang dan bahagia.


"Assalamualaikum.... Sayang, aku pulang," serunya yang mendapati sang istri sedang tidur pulas.


"Yah, dia malah tidur." Abi ikut merebah disampingnya sembari membawa wanita itu masuk dalam dekapannya.


Sha yang merasa tidurnya terganggu maka segera membuka mata. "Mas Abi, kamu udah pulang?" gumamnya, dan memeluk dengan erat. "Bagaimana sidang kamu hari ini, Mas?"


"Alhamdulillah berjalan lancar, Sayang. Aku dan Diana sudah resmi bercerai," jawabnya sembari mengusap punggung Sha dengan lembut.


Sha hanya diam, tak tahu perasaannya saat ini. Apakah dia bahagia? Tapi yang jelas perpisahan itu bukanlah dia penyebabnya. Mungkin ini sudah menjadi takdir Allah untuk menyatukan mereka.


"Kenapa kamu diam saja, Dek? Apakah kamu tidak senang mendengarnya?" tanya Abi sedikit merenggangkan pelukannya.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2