Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 52


__ADS_3

"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, Mas. Apakah aku berdosa bila bahagia?" tanya Sha menatap sendu, takut dirinyalah yang menjadi hancurnya rumah tangga Abi.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah, Sayang, semua yang terjadi bukanlah kesalahan kamu, bukan kamu penyebabnya, sama sekali bukan," ucap Abi mengecup puncak kepala sang istri.


Sha menatap mata teduh Pria itu, lalu mengecup pipinya dengan lembut sehingga membuat Abi tersenyum bahagia, baru kali ini ia mendapat kecupan hangat darinya.


"Apakah kamu bahagia menjadi istriku?" tanya Abi sembari membelai pipi mulus wanita itu.


"Masih lima puluh," jawab Sha tersenyum malu.


"Kenapa begitu, Sayang?" tanya Abi tak paham.


"Ya, karena untuk kedepannya kan aku belum tahu, apakah aku akan tetap bahagia bersamamu? Atau hanya untuk saat ini saja."


"Jangan bicara seperti itu, Dek, aku akan membuatmu bahagia untuk selamanya." Janji Pria itu dengan tulus.


Sha kembali tersenyum menatap wajah tampan sang suami dengan mimik wajah sedikit sendu.


"Aku juga akan berusaha untuk menjadi istri yang baik dan akan selalu menyenangkan hati kamu. Bila suatu saat nanti tingkahku ada yang kurang berkenan dihatimu, maka jangan diam saja, Mas, tegurlah aku dengan lembut agar aku tahu dimana letak kesalahanku," pintanya dengan penuh harap.


"Tentu, Sayang, aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik. Semoga rumah tangga kita bahagia untuk selamanya."


"Aamiin..." Sha mengaminkan Do'a sang suami.


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Abi membantu wanita hamil itu untuk segera duduk.


"Kemana, Mas? Nanti saja agak sorean dikit pulang kerumah ibu," ujar Sha yang memang sedang mager.


"Iya, tapi sekarang aku ingin membawa kamu ke sesuatu tempat."


"Kemana, Mas?" tanya Sha penasaran.


"Adalah, ini kejutan," jawab Abi yang semakin membuat Sha penasaran.


"Kejutan apaan sih, Mas? Kok mendadak begini?" wanita itu masih berceloteh.

__ADS_1


"Namanya juga kejutan, Dek, ya tentu saja mendadak." Abi segera merangkul bahu Sha untuk membawanya berjalan keluar dari kamar.


Wanita itu tak ingin membantah, ia mengikuti langkah sang suami yang menggiringnya hingga masuk kedalam mobil.


"Mas, kita sebenarnya mau kemana sih?" tanya Sha masih saja tak sabar.


"Sabar, Sayang, nanti kamu akan tahu sendiri," jawab Abi masih fokus mengemudi.


Sha melihat mobil yang dikendarai suaminya memasuki sebuah kompleks perumahan yang cukup elite. Banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, namun percuma saja karena Abi sedang enggan menjawab pertanyaannya.


Mobil itu memasuki perkarangan rumah yang tampak begitu mewah. Terlihat dari model dan desainnya. Sha masih tercengang melihat pemandangan itu. Rumah siapakah ini?


"Ayo turun, Dek." Abi membukakan pintu untuknya.


"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Sha tak paham.


"Ayo kita masuk dulu." Abi menggandeng tangan Sha untuk membawanya masuk.


Pasangan itu masuk kedalam rumah mewah yang tampak begitu apik dipandang mata. Sha mengamati sekeliling ruangan itu. Semua sudah lengkap dengan perabotannya. Rumah siapa ini? Hatinya semakin bertanya-tanya.


"Apa maksud kamu, Mas? Ini rumah siapa? Tentu saja semua orang akan suka bila melihat rumah begini bagus dan sangat mewah. Sangat minimalis. Tidak terlalu besar dan kecil. Aku suka banget dengan modelnya," jawab Sha yang hanya memberi tanggapan.


"Alhamdulillah jika kamu suka. Mulai sekarang rumah ini menjadi milik kamu, ini hadiah dari aku. Terimakasih sudah menjadi istri yang begitu baik dan sangat penuh kasih sayang. Baik itu kepada kedua orangtuaku, maupun kepada ibu dan adikmu. Dan terimakasih juga karena kamu sudah mau berkorban mengandung buah hati kita."


Sha tak kuasa menahan haru, air matanya menetes seketika. Ia tak tahu harus bicara apa lagi. Ternyata inilah jawaban setiap Do'a-do'anya selama ini. Kesedihan yang dulu ia rasakan, kini sudah tergantikan oleh kebahagiaan yang tak terkira.


"Mas, kenapa kamu baik sekali? Aku takut bila suatu saat aku tak bisa selalu menjadi seperti yang kamu inginkan, jangan terlalu memanjakan aku seperti ini, Mas. Aku takut akan membuatmu kecewa," lirihnya sembari masuk kedalam pelukan Pria itu.


"Jangan bicara seperti itu, Dek, dalam rumah tangga pasti akan ada permasalahan dan kekecewaan, namun kita pasti bisa menyikapi itu semua. Percayalah, ini adalah awal kebahagiaan kita. Tetaplah setia bersamaku untuk selamanya hingga kita menua bersama."


Abi membalas pelukan istrinya dan mengusap dengan lembut. Berulang kali ia mengecup puncak kepalanya dan juga wajah cantik itu tak luput kecupannya.


Sha hanya mengangguk pelan sembari merenggangkan pelukannya, sesaat tatapan mereka bertemu. Abi yang tak tahan menatap bibir ranum itu segera melu mat dengan penuh gairah.


Sha yang sedang diliputi kebahagiaan, maka ia membalas segala sentuhan sang suami dengan penuh gairah, sehingga siang itu untuk pertama kalinya mereka melakukannya di kediaman baru mereka.

__ADS_1


Sha tertidur dengan nyaman dalam pelukan Abi. Rasanya begitu sulit membuka mata, pergulatan mereka membuatnya enggan untuk bergerak.


"Sayang, kita mandi yuk. Udah hampir magrib, Dek," ujar Abi masih membelai wajah cantik sang istri.


"Hmm, jam berapa sekarang, Mas?" tanyanya dengan suara serak.


"Jam lima lewat, Dek."


"Iya udah sore. Kamu mandi duluan, Mas," titahnya masih nyaman di bawah selimut tebal itu.


"Barengan aja, Dek, nanti kelamaan selak magrib," jawab Abi sembari meraih tubuh polos Sha untuk segera membantunya duduk.


"Nggak mau, nanti kamu ngerusuh, Mas," rengek wanita itu


"Hehe... Nggak, Sayang, aku janji. Kita hanya mandi saja," ujar Abi terkekeh kecil.


"Beneran ya, Mas. Awas kalau bohong!" Ancamnya dengan serius.


"Hahaha... Iya, Dek. Aku serius. Ayo berdiri. Duh kasihan banget kamu, pasti berat banget ya, Sayang?" ucapnya sembari mengusap perut buncit Sha.


"Iya, Kaki aku sekarang sering keram," jawab Sha yang tampak susah untuk berdiri membawa perut besarnya.


"Sabar ya Sayang, sebentar lagi anak kita akan lahir, nanti kamu bisa nyaman kembali."


Sha hanya mengangguk sembari melangkah masuk kedalam kamar mandi. Pasangan itu mandi bersama, tak ada drama yang terjadi, Abi menepati janjinya untuk tak membuat rusuh, ia berusaha untuk menahan gejolak tubuhnya yang merespon dengan baik saat melihat tubuh mulus wanita itu terpampang nyata dihadapannya.


Hanya dua puluh menit pasangan itu menyudahi mandi mereka. Sha sudah mengenakan pakaian yang telah di sediakan oleh Abi saat ia membeli rumah itu. Semua kebutuhan Sha sudah disediakan dikediaman itu.


"Sudah, Dek?" tanya Abi yang baru saja selesai mengenakan pakaian dan merapikan rambutnya di depan kaca hias.


"Ya, ayo kita jalan sekarang," sambut Sha yang segera melingkarkan kedua tangannya hingga membelenggu pinggang Abi.


"Manja banget sih istri aku ini." Abi mengusap mahkota sang istri yang telah tertutup hijab.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2