
"Sha!" panggil seseorang membuat kedua pasangan itu menoleh Seketika.
"Ibu, Aldo!" Sha terperanjat saat melihat kehadiran sang Ibu dan adiknya.
"Kamu disini?" tanya Ibu sembari menatap penampilan putrinya yang tampak berbeda. "Sha, kamu?" ibu menunjuk perut gadis itu yang sudah tampak membuncit.
Sha dan Abi terpaku. Ini benar-benar diluar ekspektasi mereka, akhirnya ibu mengetahui sebelum waktunya tiba. Pasangan itu bingung harus bicara apa, seolah bibir mereka mendadak bisu.
"Apa ini, Sha?!" tanya Ibu yang menatap tak mengerti, netra wanita baya itu sudah berkaca-kaca, dan tentu saja dia sangat syok melihat kenyataan yang ada.
"Jawab, Sha!" bentak ibu sembari mengguncang bahu Sha.
"Kak Sha, kenapa diam saja? Jawab Kak!" seru Aldo yang juga ingin mendengar penjelasan sang Kakak.
"Bu, maafkan aku, ya, aku sedang hamil, tapi aku..." Ucapan Sha terhenti saat melihat ibu sudah memegang dadanya dengan menahan sakit. Bibirnya terlihat sudah membiru, wajah memucat.
"Ibu!" Mereka serentak memanggil dan menghampiri wanita baya itu. Aldo segera menahan tubuh ibu yang hampir jatuh.
"Ibu, ibu kenapa? Ibu..." Sha histeris dan segera memeluk tubuh ibu yang sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ayo kita bawa ibu ke RS sekarang!" ujar Abi segera membantu Aldo untuk membawa ibu masuk kedalam mobil.
Abi melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sementara Sha masih menangis sesenggukan disamping tubuh ibu yang berada dalam pelukan Aldo.
Aldo menatap sang kakak dengan raut wajah yang tak dapat diartikan. Ingin marah, namun tak sampai hati, dan dia juga belum mendengar penjelasan Sha yang sebenarnya. Aldo mencoba untuk lebih fokus pada ibu.
Setibanya di RS, Abi segera memanggil tim medis untuk membantu membawa Ibu masuk kedalam ruangan IGD.
"Dok, tolong Ibu mertua saya, Dok," ucap Abi pada mereka yang bersiap membawa brankar untuk membantu. Sesaat Aldo terpaku saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Abi.
"Ibu mertua?" batin Pria remaja itu menatap tak percaya pada atasan sang Kakak. Apakah Abi telah memperkosa kakaknya hingga hamil? Apakah karena itu mereka menyembunyikan Sha?
"Harap tenang ya, Pak, Bu," ujar Dokter yang akan segera mengambil tindakan, karena keadaan ibu kritis maka Dokter segera memasukkan kedalam ruang ICU.
"Ibu... Hiks." Sha merosot di pintu ruangan dengan tangisan yang belum surut.
"Sha, ayo bangunlah, kita duduk disana," ujar Abi membantu istrinya untuk berdiri dan membawa duduk di kursi tunggu.
Aldo hanya diam terduduk sembari menatap seksama pada pasangan itu. Ia mencoba untuk tenang meskipun hatinya ingin sekali rasanya memberi pelajaran pada lelaki yang sedang bersama dengan sang kakak.
__ADS_1
Sha yang menyadari adiknya sedang marah dan kecewa, ia segera mendekat dan duduk sisinya. Tak tahu harus bicara apa padanya, apakah ia harus jujur dengan segalanya.
"Al, Kakak minta maaf," lirihnya dengan suara tercekat.
Aldo menatap wajah kakaknya yang tampak begitu sedih. Ia ingin sekali memarahi, namun tak tega. "Jelaskan semuanya Kak Sha, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Kakak menyembunyikan dari aku dan ibu?" tanya Al mencoba untuk memasok rasa sabar dalam hatinya. Sadar sekali sang Kakak tidak akan pernah melakukan hal seperti ini bila tak ada alasan yang mungkin penuh pertimbangan. Sudah pasti yang utama adalah tentang kesehatan ibu.
Sha menghela nafas dalam, tak ada jalan lain selain jujur. Ia harus menjelaskan semuanya pada Al apa sebenarnya yang terjadi. Dengan berat Sha mencurahkan semuanya pada sang adik.
"Dek, Kakak tahu kamu dan Ibu sangat kecewa dengan apa yang telah Kakak lakukan, tapi kakak mohon ngertiin posisi kakak saat ini, sungguh kakak tidak mampu untuk menolak. Mereka sudah begitu baik dengan keluarga kita," ujar Sha memohon pengertian sang adik.
Aldo mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, hatinya terasa begitu perih mengingat begitu besar pengorbanan kakaknya demi membalas kebaikan orang yang telah menyelamatkan nyawa sang ibu.
Perlahan tangan Al meraih tangan Sha, ia menggenggam dengan erat. "Kak, maafkan aku yang telah salah berpikir tentang Kakak," ujar Al menatap sedih.
Seketika Sha memeluk Al, tangisnya kembali pecah dalam dekapannya. Hatinya sedikit lega karena sang adik dapat memahaminya. Namun tak dapat dipungkiri ia masih diliputi rasa takut dengan keadaan ibu saat ini.
Bersambung....
NB. Hai, mampir yuk di karya baru author yang berjudul "Pakpol itu Cinta Pertamaku. klik profil author ya
__ADS_1