Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 47


__ADS_3

Pagi ini Abi sudah bersiap untuk pulang, karena banyak hal yang harus ia selesaikan, yaitu mengurus perceraiannya di pengadilan agama. Ia ingin meresmikan surat nikahnya dengan Sha.


"Kopinya, Mas," ucap Sha menaruh secangkir kopi diatas meja.


"Terimakasih, Sayang," jawab pria itu dengan senyum manis.


"Duduk sini, Dek." Abi meminta sang istri untuk duduk disampingnya.


"Aku mau pulang kerumah Mama, kamu mau ikut?" tanya Abi sembari menggengam tangan Sha.


"Besok saja ya, Mas. Soalnya hari ini aku ada jadwal periksa kandungan," jawab Sha jujur.


"Hah! Kamu serius? Kok nggak bilang-bilang sama aku?" tanya Pria itu tak terima.


"Habisnya kamu nggak nanya sih. Lagian aku sudah terbiasa pergi sendiri selama ini."


Abi menatap tak percaya, ternyata wanita itu terbiasa sendiri sehingga tak membutuhkan kehadirannya untuk mendampinginya.


"Apakah kamu tidak mengharapkan kehadiranku disisimu?" tanyanya penasaran.


"Awal-awalnya aku memang merasa sedih, Namun seiring berjalannya waktu, maka aku sudah terbiasa kesendirian itu. Bahkan aku tidak pernah terpikir jika kamu berniat untuk membina hubungan serius denganku. Karena jika melihat bagaimana sikap kamu ke aku, maka membuat aku tak percaya diri," ungkap gadis itu mencurahkan isi hatinya.


Kembali hati lelaki itu bagaikan disentil. Banyak sekali kesalahan yang ia perbuat pada wanita yang telah banyak berkorban untuk dirinya.


"Dek, maafkan aku." Abi hanya bisa berucap itu dengan tatapan penuh penyesalan.


"Sudahlah, Mas, kita tidak perlu mengingat hal itu lagi. Sekarang kita pikirkan bagaimana kedepannya hubungan kita," jawab Sha berusaha untuk tak lagi membahasnya.


"Ya, mulai sekarang aku akan membiasakan dirimu dengan kehadiranku. Akan aku buat kamu tak bisa hidup tanpaku," ucapnya yang membuat Sha tersenyum gemas.


"Oke, kita lihat saja nanti. Kamu atau aku yang ketergantungan," tantang Sha mulai berani memancing.


"Oke, who's afraid?" Abi mencolek hidung mancung wanita itu dengan gemas.


"Mas nggak mau sarapan dulu?" tanya Sha yang berjalan mengantarkan suaminya hingga teras rumah.


"Nggak, Sayang, nanti saja. Nanti kamu ingatkan aku bila aku lupa ya. Aku tidak mau melewatkan kesempatan itu. Aku ingin melihat perkembangan anakku. Oke, Sayang, Papa pergi dulu ya, sampai ketemu nanti." Abi mengecup perut buncit sang istri berulang kali. Dan tak lupa meninggalkan jejak sayang di kening Sha.


Saat Abi baru tiba di kediaman orangtuanya, ia mendengar suara ribut-ribut di rumah itu. Rasanya sudah tak asing lagi dengan suara itu.

__ADS_1


"Mama! Papa!" teriak Diana pada pasangan baya itu.


"Diana! Ada apalagi kamu datang kerumah ini?" tanya Mama menatap marah.


"Untuk apa aku datang kesini? Hng! Seharusnya aku yang bertanya, sungguh kalian sangat hebat, kalian sudah mencurangi aku dengan cara menyuruh Mas Abi menikah lagi dengan asisten pribadinya itu!" teriak wanita itu begitu kesal.


"Oh, jadi kamu sudah tahu. Ya baguslah!" sambung Papa dengan santai. "Dari awal kami sudah firasat bahwa kamu bukanlah wanita yang baik untuk Abi, maka dari itu kami mencarikan Abi istri yang layak untuknya!"


"Apa kalian bilang? Aku tidak layak? Kalau begitu aku bisa melaporkan kalian ke polisi karena telah berani melakukan kecurangan!"


"Silahkan! Silahkan kau laporkan! Aku sangat senang sekali berurusan dengan wanita *** *** sepertimu. Asal kamu tahu Diana, aku sudah terlebih dahulu melaporkanmu. Ternyata kecurangan yang kamu lakukan sudah lebih lama dari aku, bahkan sebelum aku bertemu dengan Sha. Selama tiga tahun kamu bermain api dengan lelaki bangka itu. Sungguh memalukan!" Sanggah Abi yang sudah berada diantara mereka.


"Kamu?"


"Ya, aku! Kamu kaget karena melihat aku sudah bebas? Hng! Diana Diana! Aku tidaklah sebodoh yang kamu pikirkan. Ternyata orangtuaku tidak salah memilihkan aku jodoh yang jauh lebih baik akhlaknya darimu!" ucap Abi tersenyum sinis.


"Jangan gila kamu, Mas! Aku akan tuntut kamu di pengadilan!" sentak Diana.


"Silahkan! Aku aku tunggu kamu di pengadilan!" tantang Abi.


Diana menyorot dengan tajam. Ia segera berlalu dari hadapan Pria itu dengan hati sangat jengkel. Sementara itu Abi hanya menatap acuh.


"Sha tidak ikut, Ma, karena siang ini dia ada jadwal periksa kandungan. Nanti pulang dari RS aku bawa dia kesini," jelas Abi pada orangtuanya.


Setelah berbincang sebentar dengan kedua orangtuanya, Abi segera menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Setelah rapi, ia pamit kepada kedua orangtuanya untuk melangsungkan proses perceraiannya di pengadilan agama.


"Pamit dulu ya, Ma, Pa." Abi menyalami tangan Papa dan Mama.


"Semoga Allah berikan kemudahan segala urusan kamu," Do'a Mama pada sang Putra.


"Aamiin..." Pria itu segera beranjak.


Abi tersenyum puas karena urusannya berjalan lancar untuk hari ini. Ia menilik jam tangan waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Dan ponselnya berdering, ternyata panggilan dari sang istri.


"Assalamualaikum, Sayang."


"Wa'alaikumsalam. Mas, kamu masih sibuk?" tanya Sha dipengujung sambungan.


"Nggak, Dek, ini mau jalan. Ada apa, Sayang?"

__ADS_1


"Mas, kamu jangan makan diluar ya, soalnya aku sudah masak, kita makan bareng ya," ucap Sha.


" Baiklah, Sayang, mulai sekarang aku akan makan dirumah denganmu."


"Yaudah, aku tunggu ya."


"Oke, kamu mau beli sesuatu? Mumpung aku masih diluar."


"Nggak, Mas. Aku tunggu kamu pulang."


Abi tersenyum bahagia, ia segera melajukan kendaraannya dengan hati yang tak dapat ia gambarkan bagaimana perasaannya saat ini.


Setibanya dirumah sang istri, Pria itu berpapasan dengan ibu mertuanya.


"Assalamualaikum, Bu." Abi menyalami tangan Ibu dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam... Kamu baru pulang?"


"Iya, Bu."


"Yasudah, sana masuk, Sha sudah tak sabar nungguin kamu," ucap ibu tersenyum.


"Hehe... Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu. Ibu nggak sekalian ikut makan?" tawar pria itu merasa sungkan.


"Nanti saja, Ibu mau sholat ke masjid dulu," ucap wanita baya itu yang memang sudah bersiap ingin menjemput pahala, kebetulan masjid tidak jauh dari kediaman mereka.


Abi mengangguk sopan segera masuk untuk menemui sang istri. Pria itu sepertinya sedang mengalami puber kedua karena hatinya merasa jedag jedug saat ingin bertemu dengan wanita hamil itu.


"Sayang, aku pulang!" serunya berusaha bersikap seperti biasanya meskipun hatinya tak karuan saat menatap wajah cantik itu, namun ia tak ingin menunjukkan perasaan itu pada Sha. Sungguh jiwa gengsinya masih kental.


"Ah, Mas!" Sha segera berdiri menerima tangan Pria itu. Masih terasa kaku bila berhadapan dengan Pria yang telah bersarang dalam hatinya.


"Udah gitu aja?" tanya Abi saat Sha menyudahi ciuman tangannya.


"Terus?" tanya Sha tam mengerti apa mau Pria itu.


Abi mendekatkan wajahnya pada wajah Sha, lalu memberi kecupan hangat di keningnya. Kembali wajah wanita itu terasa demam.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2