
Abi kembali ke kantor dengan perasaan tak menentu. Sesaat tatapannya terbentur oleh sosok wanita yang tadi menangis karena ucapannya. Sha tampan begitu acuh tak menghiraukan kehadirannya.
Pasangan itu saling diam. Mereka fokus dengan pekerjaan masing-masing hingga jam pulang usai. Abi menghampiri Sha yang sedang berberes untuk pulang.
"Apakah dia rewel hari ini?" tanya Abi ingin tahu kabar buah hatinya yang ada dalam rahim wanita itu.
Sha hanya diam, masih enggan untuk berkomunikasi dengan Pria itu. Hatinya sudah terlalu sakit karena ucapannya. Sha masih fokus mengemas semua berkas yang ada diatas mejanya.
"Apakah kamu mendengar ucapanku?" tanya Abi masih ingin membawa sang istri berkomunikasi.
"Tidak perlu menanyakan apapun tentang bayi ini. Jika Bapak melihat saya masih disini, itu tandanya bayi ini baik-baik saja," jawab Sha menatap malas.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku berhak tahu kabar anakku," ujarnya tak mau kalah.
"Mulai sekarang tak usah berlagak baik dengan saya, karena saya tidak ingin dianggap wanita picik yang ingin mengambil keuntungan dari kebaikan Bapak. Jika Bapak ingin memberi perhatian dan kasih sayang pada bayi ini, maka tunggulah dia lahir kedunia ini!" tekan Sha menahan sesak di dadanya.
Abi terdiam tanpa bisa berucap apapun. Hatinya bagaikan disentil oleh ucapan sang istri. Apakah ucapannya tadi benar-benar telah melukai hatinya?
Selesai membereskan berkas-berkasnya, Sha segera beranjak meninggalkan ruangan itu dengan hati kesal. Ia pergi tanpa pamit pada sang atasan yang masih memperhatikan dirinya.
Abi hanya menghela nafas panjang, ia segera mengikuti wanita itu yang sedang kesal hatinya, setibanya di parkiran Abi segera mengambil kendaraannya.
"Ayo masuk!" seru Pria itu pada Sha yang ingin menghampiri kendaraan yang akan mengantarkannya pulang.
Sha masih tak menggubris ucapan Pria yang berstatus suaminya itu. Sudah tak ingin lagi banyak interaksi dengannya, ia lebih memilih diam.
"Sha, kamu dengar aku 'kan?" tanya Abi yang memegang tangan gadis itu untuk menahan langkahnya.
"Pak, lepaskan saya!" sentaknya dengan kesal.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu. Ayo masuk!" ujarnya menggiring Sha untuk segera masuk.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau!" balas wanita dengan tegas.
"Masuk Sha! jangan membuat kita menjadi tontonan semua orang," ujar Abi memaksa wanita itu mau tidak mau harus masuk.
Diperjalanan pasangan itu hanya saling diam. Setibanya dikediaman orangtuanya Abi ikut masuk kedalam. Pasangan itu disambut oleh Mama.
"Kalian sudah pulang?" tanya Mama menghampiri pasangan itu.
Sha menyalami tangan Mama, segera berlalu masuk kedalam kamarnya. Rasanya malas sekali untuk menatap wajah Pria yang berada disampingnya.
"Sha kenapa, Abi?" tanya Mama sangat tahu bahwa mood anak menantunya sedang buruk.
"Nggak pa-pa, Ma, mungkin lagi capek," jawab Abi jelas berbohong dengan sang Mama.
"Kamu tidak menyakiti dia 'kan?" tanya Mama curiga.
"Ah, nggak kok."
Kata-kata mama telah menampar dirinya sendiri. Dirinya yang telah menyakiti perasaan ibu dari anaknya itu, bahkan dia telah tega menuduh hal buruk sehingga wanita itu menjadi benci padanya.
Lama Abi termenung dalam keseorangan. Ia bingung harus berbuat apa saat ini. Siapa yang harus ia percaya, namun hati kecilnya tak bisa dibohongi bahwa dirinya memang belum sepenuhnya percaya pada Diana begitu saja. Semoga saja sahabatnya itu bisa menguak atas apa yang ia curigai saat ini.
Abi ngobrol sebentar pada Mama, setelah itu ia kembali pamit untuk pulang. Sebenarnya ia ingin menemui Sha untuk mengatakan sesuatu, namun hatinya terlalu keras akan hal itu.
Setelah makan malam Sha tak banyak bicara dengan kedua mertuanya, entah kenapa dia hanya ingin waktu sendiri. Rasanya lebih nyaman untuk menepi sesaat dari dunia nyata yang akan membuat hari-harinya kelak mungkin tak berwarna.
Pagi ini Sha mempersiapkan segala keperluan untuk kontrak kerja sama dengan perusahaan yang dimiliki oleh Burhanuddin. Semua berkas telah ia persiapkan hanya menunggu ACC dari kedua belah pihak untuk menorehkan tinta tanda tangan bentuk persetujuan.
"Sudah dipersiapkan semuanya?" tanya Abi yang telah berdiri disamping mejanya.
"Sudah," jawab gadis itu singkat.
__ADS_1
Pasangan itu beranjak meninggalkan kantor untuk menuju sebuah tempat yang telah di tentukan untuk pertemuan kedua kalinya dengan Burhan.
Ditengah perjalanan Abi menerima telpon dari seseorang. Seketika ia menginjak pedal rem dengan secara mendadak. Sha yang tak mempunyai pegangan sehingga membuatnya limbung kedepan dan keningnya membentur dasbor mobil membuat wanita itu meringis menahan sakit.
"Awh...," ringis wanita itu
"Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Abi segera mematikan sambungan ponselnya. Ia segera menatap Sha sedang meraba dahinya yang terasa nyeri.
"Sha, kamu tidak apa-apa?" tanya Abi terlihat panik. Tangan ikut mengusap dahi sang istri. "Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini," ucap Abi merasa bersalah karena membuat dahi wanita itu sedikit memar.
"Tidak apa-apa, Pak, saya baik-baik saja," ujar Sha menjauhkan wajahnya dari jangkauan Pria itu.
"Aku akan membelikan kamu salap memar," ucap Abi kembali menjalankan mobilnya.
Abi menepikan kendaraannya di sebuah apotek untuk membeli obat memar, ia segera mengolesi dahi ibu dari anaknya itu. Tak peduli seberapa kerasnya wanita itu menolak untuk tak mau ia sentuh, namun tak membuat Abi gentar hingga perasaannya menjadi lega setelah berhasil mengobati.
Selesai mengobati, Abi kembali mengemasi peralatan pengobatan itu, setelahnya ia menarik safety belt dan segera melingkarkan di tubuh wanita itu. "Lain kali biasakan untuk menggunakannya agar kejadian seperti ini tak lagi terulang," ajar Abi memperingati, karena Sha memang jarang sekali menggunakan sabuk pengaman itu.
Sha tak menyahut hanya membiarkan Pria itu melakukan pekerjaannya yang sedang memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Kembali jantungnya tak tenang saat tubuh mereka begitu dekat.
Setelah memastikan Sha duduk dengan nyaman, Abi kembali melajukan kendaraannya untuk menemui seseorang. Sha merasa heran kenapa Abi mendatangi kantor polisi. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Ayo turun," ucapnya pada sang istri yang masih menatapnya penuh tanda tanya.
"Ki-kita kenapa kesini, Pak?" tanya Sha tak tahan untuk tak mencari tahu.
"Nanti akan aku ceritakan, sekarang ayo kita masuk dulu, karena ada seseorang yang telah menunggu," jelasnya yang semakin membuat wanita itu penasaran.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1