Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 15


__ADS_3

Tak ingin menunggu lama, keesokan harinya Abi dan Sha segera berkonsultasi tentang inseminasi yang di tangani oleh Dokter senior, yaitu teman Papa ikhsan, Dokter Yandra. Tentu saja membuat sang Dokter mempertanyakan akan hal itu.


Papa Ikhsan dan Mama Rania menjelaskan tentang yang sebenarnya, ternyata disambut baik oleh Dr Yandra, entah kenapa Pria baya itu juga tak menyukai akhlak istri pertama dari putra sahabatnya itu.


"Ya, semoga prosesnya berjalan baik, dan segera berhasil. Dari pemeriksaan, semuanya bagus, baik dari Abi maupun Sha, dan semoga berhasil, karena Sha dalam masa subur," jelas Dr Yandra.


"Tapi, Dok, maaf sebelumnya, apakah saya boleh di tangani oleh Dokter perempuan?" tanya Sha berterus-terang. Ia sangat malu bila proses itu di lakukan oleh dokter laki-laki.


"Ya, tentu saja, Nak, saya sangat mengerti. Dalam hal ini, Om akan meminta Dokter perempuan untuk melakukan prosesnya. Dia adalah keponakan Oom sendiri, namanya Dr.Khanza. Dia yang akan menangani, kamu tidak perlu cemas," Om Yandra.


Sha mengangguk paham dan sedikit lega. Kembali ia menguatkan hati dan mentalnya, ia harus siap, semoga prosesnya berjalan lancar, agar ia segera lepas dari pernikahan status ini.


Setelah bersepakat, lusa akan di laksanakan prosesnya. Menunggu waktu itu tiba, hatinya sangat cemas dan was-was. Selalu berdo'a agar diberikan kekuatan oleh Allah.


Sepulang dari RS, Abi kembali ke kantor, sementara Sha juga melakukan hal yang sama, ia tak bisa mengabaikan tanggung jawab begitu besar saat di kantor. Ia tak ingin merasa diatas angin, mentang-mentang akan memberikan garis keturunan keluarga Wibowo, tak membuat dirinya berbangga diri harus mengabaikan tugasnya di kantor.


"Kamu yakin ingin kembali ke kantor, Sha?" tanya Mama tidak setuju.


"Iya, Ma, lagipula tak ada larangan juga untuk aku beraktivitas 'kan, jadi biarkan aku menyelesaikan tugasku di kantor, Ma," Sha meyakinkan sang Mama.


"Ya, sudah, tapi kamu juga tidak boleh terlalu capek, harus jaga kesehatan ya," sambung Papa.


"Baik, Pa. Kalau begitu aku ke kantor dulu ya." Sha menyalami kedua mertuanya.


"Kantor dulu, Pa, Ma," ucap Abi menyambar tangan kedua orangtuanya.


"Ya, hati-hati."


Pasangan halal itu berangkat dengan mobil yang sama. Tak ada obrolan, setelah menikah semakin membuat hubungan mereka semakin kaku. Entah apa penyebabnya, sepertinya mereka saling membentengi hati masing-masing agar tak masuk dalam perasaan.


Setibanya di kantor, Sha mendahului atasannya yang kini sudah menjadi suaminya.


"Sha!" panggil seseorang yang juga baru selesai memarkirkan kendaraannya di basement.


"Pak Hazel!" balasnya mengukir senyum pada lelaki yang menjabat sebagai direktur keuangan dia perusahaan itu.


"Darimana?" tanya Hazel mensejajarkan langkahnya


"Ah, itu, tadi ada meeting diluar, Pak," jawab Sha berbohong demi kebaikan.


"Oh, sama Pak Abi?"


"Iya."

__ADS_1


"Mana Pak Abi?" tanyanya.


"Tadi ada di belakang," jawab Sha segera menoleh, ternyata Pria itu sudah berada di belakangnya.


"Ada apa, Pak Hazel?" sambung Abi juga berjalan di samping Sha, sehingga wanita itu di apit oleh kedua petinggi perusahaan itu.


"Oh, ada rupanya. Hehe..." Seloroh Pria itu menanggapi.


Sha mempercepat langkahnya untuk masuk kedalam lift, sedikit tidak nyaman di perhatikan oleh dua lelaki itu.


Di dalam ruangan tak ada percakapan, mereka fokus dengan pekerjaan masing-masing. Adapun bicara hanya seperlunya saja.


"Aku pulang dulu, nanti kamu minta dijemput saja sama supir," ucap Abi yang sepertinya sedang buru-buru.


"Baiklah," jawab Sha singkat.


Pria itu segera meninggalkan ruangannya. Hari ini ia ada janji dengan Diana untuk makan di luar. Sha tak merasa keberatan sedikitpun bila harus pulang naik taksi ataupun jemputan.


Wanita itu pulang ke kediaman keluarga Wibowo. Baru dua hari berpisah dari ibu dan adiknya, tapi sudah membuat rindunya menggunung.


Sha memasuki hunian itu dengan mengucapkan salam, dan disambut dengan senyum hangat oleh Mama.


"Baru pulang, Nak? Kamu pulang diantar suamimu, kan?" tanya Mama menghampiri Sha yang sedang membuka sepatunya.


"Loh, kemana dia?" tanya Mama heran.


"Tidak tahu, Ma, Pak Abi tak bicara apapun."


"Yasudah, sekarang kamu bersih-bersih habis itu Mama buatkan jus mangga buat kamu," ujar Mama begitu perhatian.


"Ah, tidak usah repot-repot, Ma. Aku bisa buat sendiri," ucap Sha merasa tidak enak.


"Tidak repot sama sekali, sudah, sana kamu mandi. Nanti kita minum jus bareng sambil cobain puding coklat buatan Mama, pasti kamu suka," ucap Mama masih merayu.


"Hmm, baiklah Mamaku yang baik, hehe..." Gadis itu terkekeh kecil sembari berjalan masuk kedalam kamarnya.


Mama Nia tersenyum lega melihat gadis itu akhirnya bisa tertawa kecil meskipun masih dipaksakan.


Selesai mandi, Sha menunaikan ibadah ashar, setelahnya menemui Mama yang sedang sibuk di dapur. Tampak wanita baya itu bersemangat membuat jus mangga kesukaannya.


"Lagi buat apa,Ma?" tanya Sha ikut bergabung


"Eh, kamu sudah selesai? Udah kamu duduk sana, bentar lagi beres," ujar Mama tak membiarkan gadis itu ikut membantunya.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, Ma. Aku bisa kok bantuin Mama," Sha membantu memotong puding coklat yang ada sudah tersedia diatas meja.


Ibu mertua dan menantu itu menghabiskan waktu sore duduk santai di taman belakang sembari ngobrol. Terlihat begitu akrab dan senyum hangat selalu tersinggung di bibir mereka masing-masing.


Mama tampak begitu bahagia, andai Diana bisa seperti Sha, ah, sepertinya masih jauh panggang dari api. Hampir enam tahun mereka menikah, namun Diana tak pernah duduk bersama dengan Mama mertuanya, bahkan datang untuk bertamu saja sangat jarang sekali. Setiap kali Mama masuk RS Diana tak pernah datang menjenguk.


Pagi ini seperti sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Dokter Khanza, Sha akan menjalani metode inseminasi. Sha di temani keluarga suaminya, meskipun saat proses itu dilakukan hanya Mama dan Sha yang masuk kedalam ruangan itu.


"Ibu Sharena," ujar Dr Khanza menyalami pasiennya. Ini pertama kali mereka bertemu, karena jadwal mereka kemaren yang mengatur Dr Yandra.


"Ah, benar, dengan Dokter Khanza 'kan?" sambut Sha dengan ramah.


"Benar, mana suaminya?" tanya dokter.


"Saya, Dok," jawab Abi ikut menyalami Dokter cantik itu.


"Oh, baiklah, bisa kita mulai sekarang prosesnya? Apakah Pak Abi ingin ikut mendampingi?"


"Ah, tidak, Dok!" jawab Sha begitu cepat.


"Benar, saya cukup menunggu di luar saja. Mungkin Mama saya yang ikut mendampingi," jelas Abi.


"Oh, baiklah. Mari."


Sha dan Mama Nia masuk kedalam ruangan praktek, sementara Abi dan Papa menunggu diluar. Proses demi proses dijalani hingga memakan waktu dua jam lamanya. Akhirnya selesai juga.


"Sudah, selesai Bu, kalau ada keluhan yang dirasa cukup berat, Ibu Sha bisa hubungi saya, dan dianjurkan untuk istirahat dalam dua hari," Dr Khanza.


"Baiklah, kapan kami bisa mengetahui hasilnya, Dok?" tanya Abi yang tak sabaran.


"Dua minggu kedepan kita sudah bisa melihat hasilnya."


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu, Dok. Sekali lagi terimakasih banyak. Jangan lupa sampaikan salam saya pada Dr Yandra," ucap Papa ikhsan sebelum pamit meninggalkan ruangan Dr Obgyn itu.


"Sama-sama, Pak, akan saya sampaikan. Sekali lagi, Ibu Sha jangan sungkan untuk bertanya jika ada keluhan, anggap saja saya saudara sendiri," ujar Dr Khanza pada Sha.


"Baiklah, kalau begitu jangan panggil Ibu, panggil nama saja, Mbak," balas Sha tersenyum ramah mengakrabkan diri.


"Hihi, baiklah. Kalau begitu kita bisa jadi teman," ucap Khanza menyambut dengan senang hati.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2