Menantu Yang Disembunyikan

Menantu Yang Disembunyikan
Bab 32


__ADS_3

Abi hanya diam mendengar pertanyaan Sha yang mengena dihati dan jantungnya. Ia kembali menjalani kendaraan roda empat itu.


"Bapak dengar apa yang saya bicarakan, bukan?" tanya Sha menatap malas.


"Dengar," jawab Abi singkat.


"Kalau dengar, turunkan saya sekarang, Pak!" tegas Sha kesal.


"Tidak! Aku tidak akan menurunkan kamu. Terserah kamu mau bicara apa saja," ujarnya acuh.


Sha berdecak kesal, ia hanya diam, tak ingin menanggapi lagi. Sadar sekali pria itu tidak akan pernah goyah dengan pendiriannya. Dengan hati dongkol Sha mencoba untuk acuh dan memejamkan mata untuk meredakan amarahnya pada ayah dari anaknya.


Abi menuju sebuah tempat wisata yang ada di luar kota Medan itu. Setelah sampai ia menoleh kesamping, terlihat wanita cantik itu sudah terlelap membawa kekesalannya.


Abi tak tega mengganggu tidur lena istri keduanya itu, dengan sabar ia menunggu dan menemani hingga Sha kembali menemui kesadarannya. Wanita itu mengerjap, tatapannya bertubrukan dengan sang suami yang tersenyum manis menyambut kesadarannya.


Tak habis pikir kenapa pria itu sekarang berlagak sok manis seperti itu. Apakah ada udang di balik bakwan? Ah, entahlah, otaknya masih terlalu tumpul memikirkan sikap pria itu yang berubah seketika.


"Sudah bangun, masih ingin tidur? Atau kita tidur di hotel saja?" tanya Abi masih dengan senyuman yang manis.


Seketika tubuh wanita itu membatu. Ingin rasanya ia menyumpal mulut Abi yang seenaknya jidatnya ingin mengajaknya tidur di hotel.


"Jadi ini alasannya kenapa dia bersikap manis seperti ini? Jangan mimpi kamu tuan aneh," ujar Sha dalam hati.


Gadis itu menyorot tajam. Tak terlihat nyali pria itu ciut sedikitpun. Abi tampak acuh seakan tak ada masalah apapun yang membuat Sha semakin jengkel.


"Ayo turun," titahnya dengan nada lembut.

__ADS_1


Sha hanya ikut, tak ada salahnya melonggarkan syaraf otak yang selama ini sudah terlalu tegang dalam menghadapi sikap pria itu. Abaikan saja sikapnya yang mendadak aneh.


Sha keluar dari mobil, lalu berjalan mendahului Abi, tak ingin menunggu langkah suaminya yang sedang berusaha mensejajarkan dengannya.


Brugh!


Seseorang menabraknya hingga membuat tubuhnya limbung dan hampir saja jatuh kebelakang. Abi dengan sigap menahan tubuhnya yang hilang keseimbangan.


"Aduh, sorry sorry," ujar pria itu merasa sangat bersalah.


"Lain kali gunakan matamu! jangan mentang-mentang kamu seorang aparat sehingga seenaknya saja berjalan tanpa memikirkan orang lain!" seru Abi menatap berang dengan rahang mengeras. Hatinya sangat marah karena ia begitu takut akan terjadi hal buruk pada istri dan calon anaknya.


"Ah, sekali lagi saya minta maaf, Mbak tidak apa-apa 'kan?" tanya pria yang terlihat menggunakan seragam coklat itu.


"Ah, tidak apa-apa, Mas, saya baik-baik saja, jangan..."


"Mas Erlan!" panggil Sha menatap tak percaya.


"Kamu, Sha 'kah?" balasannya menatap ragu.


"I-iya, Mas," jawab Sha begitu gugup. Sungguh tak menyangka ia akan kembali lagi bertemu dengan pria yang pertama ada dalam hatinya. Pria yang selalu mengisi hari-harinya saat mereka berada di satu kampus yang sama.


Sha yang teramat mencintai, namun ia tak pernah berani untuk mengutarakan perasaannya. Sejak Erlan telah menyelesaikan pendidikannya, mereka berpisah hingga hari ini takdir kembali mempertemukan.


Terlihat tubuh wanita itu sedikit bergetar saat tatapan mereka kembali bertemu sejak mereka berpisah kurang lebih enam tahun yang lalu.


"I-iya Mas," jawab Sha masih grogi.

__ADS_1


"Masya Allah, akhirnya kita bisa bertemu kembali ya," ucap pria yang bernama Erlan itu dengan senyum bahagia.


"Iya, Mas Erlan apa kabar?" tanya Sha begitu ramah.


"Alhamdulillah aku sehat. Kamu sendiri?" tanya pak pol sembari menatap dirinya dari bawah hingga atas.


"Kamu sedang hamil?" tanya Erlan menatap perutnya yang sudah mulai membuncit, lalu tatapannya beralih pada lelaki yang ada disampingnya.


"Ah, i-iya," jawab Sha tak bisa berbohong.


"Oh, selamat ya," ucap Erlan turut bahagia.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu, kamu beneran tidak apa-apa 'kan?"


"Iya, aku tidak apa-apa, Mas."


Erlan pamit pada wanita cantik yang dulu pernah begitu akrab dengannya. Namun ada sesuatu yang membuat hatinya merasa entah saat mengetahui bahwa wanita itu telah menikah dan sedang mengandung.


"Mas Erlan!" Panggil Sha menghentikan langkahnya.


"Ya?" jawab Erlan memutar tubuhnya kembali menghadap padanya.


"Boleh aku minta kontak kamu?" ujar Sha membuat tatapan Abi menajam seketika.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2