MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 14


__ADS_3

Akhirnya sampai juga di sekolah.


Lily turun dari motor Dave tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Loe masih marah dek?" tanya Dave memulai pembicaraan.


Lily sengaja tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Dave.


Karena merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan Dave, Lily mulai melangkahkan kakinya ke depan untuk menuju kelas. Tiba-tiba Dave memegang pundaknya dengan kedua tangannya. Jarak yang begitu dekat membuat jantung gadis itu berdegup kencang. Lily bisa merasakan hembusan nafas nya, begitu hangat dan teratur.Sorot matanya yang tajam, menatapnya lekat. Hampir saja gadis itu tersihir dengan mata indah dan juga wajah tampan Dave.


"Sekarang tatap mata gue?" pinta Dave.


"Gak mau, lepasin gue!" ucap Lily kesal.


"Gak akan, loe jawab dulu pertanyaan gue! apa loe beneran suka sama gue?" tanya Dave.


'iya, gue suka banget sama loe.' batin Lily.


Karena Lily diam dan tidak merespon, Dave melepaskan adiknya.


"Nanti sepulang sekolah temuin gue di lapangan!" pinta Dave.


"Gue sibuk," jawab sang adik ketus.


"Dateng aja, gue tunggu," ucap Dave sambil berlalu meninggalkan Lily.


'Huft, kali ini loe aman Ly! bisa jantungan kalau lama-lama deket kak Dave.' gumam Lily.


Pukul 07.00


"Mengapa pelajaran pertama harus matematika?" gerutu Lily.


"Karena Pak Heru adalah guru favorit loe, Hahaha," canda Nita.


"Dasar! bukan itu. Menurut gue matematika itu rumit, mirip kisah cinta gue," jawab Lily keceplosan.


"Loe kenapa?" tanya Nita.


"Gak papa, gue ngasal aja ngomongnya," jawab Lily.


"Gak mungkin! tadi gue denger loe ngeluh soal kisah cinta, emang loe punya?" ledek Nita.


"Nah itu, loe juga tahu. Gue gak punya kisah cinta, udah ya? gak usah di bahas lagi," jawabku.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Loe jujur aja sama gue, loe punya pacar baru kan?" tanya Nita.


"Mana ada? orang tua gue gak kasih izin buat gue pacaran. Kita masih SMA, masa depan masih panjang. Gak usah pacar-pacaran. Fokus sekolah aja, biar bisa meraih cita-cita," ujar Lily sok bijak.


"Bener juga sih apa yang loe bilang, Ibu loe itu super ketat ngawasin loe. Apa lagi kalau menyangkut pendidikan, ibu loe itu tegas. Gak segan-segan buat kasih hukuman kalau sekolah loe gak beres. Kali ini gue percaya sama loe," jawab Nita.


"Lha itu, loe paham kan? sekarang mending kita fokus belajar. Kalau gak kita bakal kena hukuman, tuh yang mau kasih hukuman udah muncul," ucap Lily sembari menatap wajah Pak Heru yang baru saja masuk ke dalam kelas.


... * * *...


Hari ini sangat melelahkan. Banyak tugas yang sudah menanti. Bagi murid lain, beban di sekolah begitu saja hilang saat bell tanda pulang sekolah berbunyi. Tapi tidak untuk Lily, dia harus menemui orang yang tidak ingin ia temui. Beban yang begitu berat baginya.


Perlahan Lily melangkah pergi dari kelasnya, Nita dan Wulan mengajaknya untuk pulang bersama, tapi gadis itu menolak. Lily beralasan masih punya sedikit urusan. Mereka berdua mengerti, kemudian gadis itu pulang terlebih dahulu.


Lapangan bola ...


'Persekian detik yang lalu, gue gak mau ketemu sama Kak Dave. Persekian detik kemudian, langkah kaki gue udah nyampe di sini aja. Mulut gue bisa aja bohong, tapi hati gue gak,' gumam Lily.


Dari arah para pemain bola yang sedang melakukan pemanasan, munculah Dave. Dia melambaikan tangan pada adiknya sembari tersenyum. Tidak ada hasrat Lily membalas senyuman itu, Dave kemudian menghampiri sang adik.


"Loe ngapain suruh gue kesini?" tanya Lily ketus.


"Gue tahu kalau loe pasti datang," jawab Dave senang.


"Gue pinjam tas loe bentar," pinta Dave.


Tanpa rasa curiga, Lily memberikan tas miliknya secara suka rela. Dave terlihat mengambil sebuah buku milik adiknya itu.


'Astaga! Dia mengambil buku diary ku!' batin Lily.


"Ngapain loe ambil buku diary gue?" tanya gadis itu.


"Nanti juga loe bakal tahu!" jawab Dave sembari mengambil korek gas yang sudah disiapkan olehnya.


"Loe ngapain pakai korek segala? loe mau bakar buku diary gue?" ucap Lily mulai emosi.


"Bener banget dugaan loe," jawab Dave sambil memegang ujung buku diary itu dan membiarkan ujung yang lain mendekat dengan korek gas.


"Bakar aja, gue gak perduli!" jawab Lily acuh.


"Apakah itu benar? coba loe tatap mata gue dan bilang loe gak suka sama gue!" tukas Dave.


Lily malas menanggapi Dave yang semakin gila itu. Dave menyalakan korek gasnya, perlahan api mulai membakar ujung buku diary itu. Kemudian api semakin membesar dan akhirnya buku diary itu hancur lebur di lalap api.

__ADS_1


"Kalau mau nangis, nangis aja. Gak usah di tahan," ucap Dave.


"Siapa juga yang nangis?" jawab Lily sambil menyeka air matanya.


"Gue gak sejahat itu dik, buku diary yang gue bakar itu palsu, yang asli ini," ucap Dave sambil menyerahkan buku diary asli yang di simpan di balik kaos bolanya.


"Tega loe kak!" jawab Lily kesal.


"Gue cuma mau bukti cinta loe sama gue, buku diary itu adalah hal sangat penting buat loe. Kalau sesuatu terjadi pada buku diary itu, loe pasti akan bereaksi. Ternyata gue benar, loe benar- benar cinta sama gue," ucap Dave terharu.


"Loe ngomong apa? gue gak ngerti," jawab Lily berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Mau jujur atau gak, yang penting gue udah tahu yang sebenarnya. Ambil buku loe dik, gue kembalikan. Maaf kalau gue keterlaluan," ucap Dave.


"Simpan aja buat loe. Gue udah gak butuh! dasar loe gak punya hati!"


Kemudian Lily pergi meninggalkan Dave begitu saja dengan hati yang terluka.


"Adik gue memang pintar menyembunyikan perasaannya. Suatu saat nanti, gue bakal buat loe mengakui perasaan loe yang sebenarnya sama gue," ucap Dave sambil membawa buku diary sang adik.


Dave kembali ke barisan tim nya dan meneruskan pemanasan.


"Dave, adek loe cantik juga, kelas berapa dia?" tanya Zayn, teman satu tim Dave.


"Baru kelas X, dia udah ada yang punya," jawab Dave ketus.


"Anak sini atau sekolah lain? Bisalah gue bersaing," celetuk Zayn.


"Anak sini aja, saingan loe berat. Jangan harap bisa deketin adek gue!" jawab Dave tegas.


"Apa yang loe maksud itu Daniel?" tanya Zayn.


"Bukan, Daniel bukan pacar nya. Dia cuman ngaku-ngaku aja," jawab Dave.


"Gue pernah lihat mereka di Toko Aksesoris, waktu itu gue lagi beli figura titipan emak gue. Mereka deket banget," jelas Zayn.


"Loe gak salah lihatkan?" tanya Dave.


"Gaklah, mata gue masih sehat," jawab Zayn.


'Kurang ajar, Daniel udah selangkah lebih maju dari gue, awas loe Dan,' gumam Dave.


"Woy! napa loe diem? kita mulai latihannya," ucap Zayn.

__ADS_1


"Oke," jawab Dave sambil berlari ke tengah lapangan dan langsung menempati posisi stiker.


__ADS_2