MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 45


__ADS_3

Menahan rindu kepada Kak Dave selama kurang lebih dua minggu ini membuatku tersiksa.


Bagaimana tidak, aku hanya mampu mendengar suaranya saja tanpa bisa menatap wajahnya yang tampan itu.


Huft...


Ibu sungguh tega kepadaku, semua akses untukku bisa berhubungan dengan Kak Dave di batasi. Tidak ada celah untukku menembusnya. Ibu sudah mempersiapkan segalanya.


Sore ini aku merasa sangat bosan, semua tugas sekolah sudah ku selesaikan. Belajar juga sudah. Aku telah sampai di fase boring akut.


"Kenapa acara televisi tidak ada yang bagus ya?" gerutuku sambil mengganti channel televisi berulang-ulang.


"Matikan saja televisinya, ikut Ibu pergi sebentar." Ajak Ibuku.


"Ibu ingin mengajakku kemana?" Tanyaku penasaran.


"Ikut saja, nanti kamu pasti kembali semangat." Jawab Ibu.


"Gak mau, aku di rumah saja lah Bu. Nanti kayak waktu itu, Ibu ajak aku ke rumah Tante Jenny yang rempong akut itu, males lah. Bukannya jadi lebih fresh pikiranku karena seharian belajar, yang ada makin pusing ini kepala karena dengerin dia ghibah mulu." Gerutuku.


"Hahaha, maaf Lily. Itu kan karena dia mau curhat sebenarnya, Ibu lihat kamu juga senggang waktu itu. Ya Ibu ajak kamu buat nemenin Ibu. Kalau untuk yang satu ini, Ibu yakin 100% kamu pasti gak akan bisa nolak." Jawab Ibuku.


"Mau kemana emang?" Tanyaku makin penasaran.


"Kita akan pergi ke asrama Dave." Jawab Ibuku.


Seketika itu juga wajahku berubah menjadi cerah ceria. Ini yang aku inginkan dari kemarin.


"Kalau Ibu bilang dari tadi aku gak perlu menggerutu dari tadi. Ayo kita berangkat." Ucapku.


"Yaudah kalau kamu pede pakai piyama kesana." Jawab Ibuku.


"Hehe.. bentar Bu, aku ganti baju dulu. Ibu tunggu di mobil, nanti aku menyusul." Ucapku.


Ibuku mengangguk.


Beberapa menit kemudian...


"Setengah jam adalah waktu yang sebentar ya Lily?" Sindir Ibuku.


"Hehehe.. maaf Ibu, tadi aku mandi dulu." Jawabku sambil masuk ke dalam mobil Ibuku.


"Kalau cewek lagi kasmaran ya gitu, pengennya memberikan kesan yang baik dari segi penampilan." Ucap Ibuku.


"Kayak Ibu belum pernah muda saja, ayo Bu kita berangkat sekarang." Jawabku.


Akhirnya kami berangkat menuju asrama Kak Dave mengendarai mobil Ibuku.


Jarak dari rumahku menuju asrama Kak Dave lumayan jauh karena letaknya di pinggiran kota.


"Masih lama kah Ibu?" Tanyaku yang sudah tidak sabar ingin bertemu Kak Dave.


"Sebentar lagi, asrama Dave memang letaknya di pinggiran kota, tapi disana cukup lengkap fasilitasnya." Jawab Ibuku.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya kami sampai di asrama Kak Dave.


"Ayo masuk , kita temui Dave di ruang tunggu murid. Nanti Dave akan menunggu kita di sana" Jelas Ibuku.


Waduh, kenapa jantungku tiba-tiba berdetak tidak karuan?


Aku malah jadi grogi, parah deh.


Keringat dingin pula, bagaimana ini?

__ADS_1


"Lily, kamu baik-baik saja? kamu nervous ya?" Tanya Ibuku menggodaku.


"Mana ada nervous, aku cuman kepanasan saja." Jawabku beralasan.


"Lap dulu keringat kamu itu, udah ketahuan nervous sampai keluar keringat dingin gitu masih saja berbohong." Ucap Ibu sambil memberikanku sapu tangan.


Reaksi tubuh sama bibir emang gak sinkron, kan jadi tengsin karena ketahuan bohong sama Ibu.


Kemudian aku mengelap keringat dingin yang memenuhi wajahku.


Ibu hanya tersenyum melihat reaksiku sesaat sebelum bertemu Kak Dave.


"Mau berdiri di sini saja, atau masuk kedalam?" Tanyaku.


"Masuk lah Bu." Jawabku.


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Aku sudah siap bertemu dengannya, separuh jiwaku, Kak Dave.


Di ruang tunggu...


Aku menatap lurus ke depan, ada sosok yang ku rindukan sedang duduk di sebuah bangku panjang. Di depannya ada minuman dan cemilan, dia sedang menikmati cemilan saat kami menghampirinya.


Dia tidak menyadari kedatangan kami karena telinganya tertutup headset dan mata indahnya terlihat sedang terpejam.


Dia seperti sedang menikmati alunan musik favoritnya yang berasal dari ponsel yang di genggamnya.


Kemudian Ibu menepuk pelan pundak sosok itu, tapi masih saja dia tidak peka.


Saat namanya ku sebut, dia baru menyadari keberadaan kami.


"Lily??? apa benar kamu Lily?" Tanya Kak Dave yang terkejut saat melihatku.


"Buka headsetmu, mari kita bicara." Jawabku.


Ibuku yang merasa jadi nyamuk diantara aku dan Kak Dave kemudian menegur Kak Dave.


"Ehmm Ehmm, iya deh yang lagi kangen-kangenan. Ibu jadi tidak terlihat." Sindir Ibuku.


"Maaf Ibu, aku terlalu senang dan bersemangat saat melihat Lily ada di sini. Ibu tidak marahkan?" Ucap Kak Dave.


"Tidak, untuk apa juga Ibu marah. Ini memang rencana Ibu mempertemukan kalian berdua. Kalian ngobrol aja dulu. Ibu mau ke ruang guru, ada keperluan sebentar." Jawab Ibu.


"Siap, Bu." Ucap Kak Dave.


"Jaga adikmu Dave, jangan bikin dia mewek karena terlalu merindukanmu." Goda Ibuku.


"Apa sih Ibu ini, membuatku malu saja." Jawabku.


Kemudian Ibuku pergi ke ruang guru dan meninggalkan kami berdua di ruang tunggu.


Suasananya tiba-tiba menjadi sangat canggung dan kaku. Mungkin efek dari jarang bertemu juga kali ya.


"Apa kabar?"


Kami mengatakan hal yang sama secara bersamaan.


"Aku baik, kamu?"


Sekali lagi kami mengatakan hal yang sama secara bersamaan.


Sial?!!!


Aku benar-benar nervous.

__ADS_1


Di depan Kak Dave aku tidak bisa berkutik, padahal sudah ku siapkan banyak pertanyaan untuk Kak Dave Sebelumnya.


Rasa canggung ini membuatku lupa segalanya.


"Kamu dulu saja yang bicara." Ucap Kak Dave.


"Ya, Ehm.. apa Kak Dave betah tinggal di asrama ini?" Tanyaku.


"Gak betah, betahnya kalau ada kamu di sini." Jawab Kak Dave mulai menggodaku.


"Yang seriuslah jawabnya, masak ngarang gitu jawabannya." Gerutuku.


"Siapa juga yang ngarang, cinta ini tidak pernah ada kata karangan, semuanya real just for you, honey." Jawab Kak Dave.


"Hahaha, si tengil mulai beraksi." Ucapku.


"Aku mah bukan tengil, Daniel tuh yang tengil. Btw bicara soal Daniel, gimana hubunganmu sama dia." Jawab Kak Dave.


Ekspresi wajahku berubah menjadi kesal saat Kak Dave bertanya tentang Daniel. Tapi bagaimanapun juga Kak Dave harus tahu kebenarannya. Aku memberitahu padanya tentang hubungan Kak Daniel dan Gaby yang sudah memasuki tahap jadian.


"Gilak, yang bener aja." Ucap Kak Dave terkejut.


Dia tidak menyangka jika Gaby memiliki selera yang rendah. Padahal Kak Dave merasa sudah membuat standard Gaby lebih tinggi, tapi kini dia menurunkan standardnya menjadi kekasih Kak Daniel.


"Daniel itu playboy, lihat aja ntar gimana nasib tuh Gaby." Jawab Kak Dave.


"Gak boleh kayak gitu Kak Dave, apa kamu cemburu dia sama Gaby sekarang?" Tanyaku.


"Gak sama sekali. Untung si Gaby jatuh cinta sama Daniel jadi gak ada yang bisa mengganggu hubungan kita lagi." Jawab Kak Dave.


"Iya juga sih, Ibu juga sepertinya sudah kasih lampu ijo ke hubungan kita. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Aku merasa Ayah tidak menyukai hubungan kita." Ucapku.


Deg ?!!!


Kak Dave hampir melupakan itu, perdebatan antara dirinya dengan sang Ayah beberapa waktu itu memang menyiratkan ketidaksetujuannya terhadap hubungan kami. Kak Dave tidak ingin aku terlalu memikirkan hal ini, jadi dia tidak menceritakan tentang hubungannya dengan sang Ayah yang sedang bermasalah.


"Kok tiba-tiba diam?" Tanyaku.


"Oh itu, aku sedang memikirkan sesuatu saja. Tapi tidak masalah, hanya hal yang tidak terlalu penting." Jawab Kak Dave.


"Ya udah kalo gitu. Kak Dave jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Fokus sama kariermu saja. Kita buktikan kepada orang tua kita bahwa cinta yang kita miliki bukan menjadi penghalang untuk kita menggapai cita-cita." Ucap ku.


"Iya, kamu benar. Tangan kamu kenapa? basah semua. Wajah kamu juga, aku tahu pasti kamu grogi kan ketemu sama aku? sampai keringat dingin gitu? hayo ngaku." Jawab Kak Dave menggodaku.


"Gak, aku hanya kepanasan." Ucapku sekali lagi menjadikan kepanasan sebagai kambing hitam rasa nervousku.


"Ini ruangan ber-AC, mana mungkin bisa kepanasan? kalau ngeles tuh yang cerdas dikitlah." Jawab Kak Dave.


"Huhu.. aku di bilang gak cerdas, Kak Dave jahat." Ucapku manja.


"Gak gitu sayang, Kak Dave mu ini kan hanya bercanda. Kamu mau coba gak cemilanku? ini yang buat teman sekamarku, Kelvin si kocak." Jawab Kak Dave.


"Ini makanan apa? kok bentuknya aneh?" Tanyaku.


"Ini namanya kentang crispy, dia buatnya ngasal soalnya waktu itu pernah taruhan kalau aku bisa masukin 5 goal ke gawang lawan, dia mau masakin aku. Kalau orang marah terus masak kan gini gak karuan hasilnya, tapi gak papa lah. Aku menghargai usaha dia buat kripik kentang ini." Jawab Kak Dave.


"Kamu jahil banget Kak, mana alot lagi keripiknya. Ini mah bukan kripik namanya." Ucapku sambil mencicipi cemilan yang di buat teman Kak Dave itu.


Kami tertawa bersama-sama.


Ibu yang sedari tadi melihat kebersamaanku dengan Kak Dave hanya bisa senyum-senyum sendiri.


Dia tidak menyangka jika kami akan berakhir menjadi pasangan kekasih.

__ADS_1


"Semoga mas Haris mau memahami mereka dan segera memberikan restu." Gumam Ibuku.


__ADS_2