
Marvin tersipu malu saat ibu Nawang membahas Lily. Di dalam hati Marvin masih ada cinta untuk gadis itu, ia menjadi salah tingkah.
"Oh, bukan itu ibu. Hanya saja, sudahlah!" ucap Marvin.
"Jika kamu ingin bertemu Lily, mari ibu antar, dia ada di dalam mobil," jelas ibu Nawang.
"Tidak ibu, terima kasih," ucap Marvin malu-malu.
"Ya sudah jika tidak mau, simpan kartu nama ibu, jika kamu butuh bantuan ibu, telepon saja," ucap ibu Nawang sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
"Oke, terimakasih bu," jawaban Marvin.
"Ibu hampir lupa, ini resep dari dokter mau ibu tebus, ini daftar obatnya," ucap ibu Nawang.
"Ini obat untuk ibu?" tanya Marvin penasaran.
"Untuk Lily," jawab ibu Nawang singkat.
"Lily sakit apa bu?" tanya Marvin lagi.
"Hanya capek saja, oh ya maaf Vin, ibu terburu-buru, bisa cepat gak ngasih obatnya," jawab ibu Nawang.
"Oke, maaf ya bu," jawab Marvin.
Remaja itu mengambilkan obat sesuai resep dokter dan menyerahkannya kepada ibu Nawang.
Ibu Nawang pamit, Marvin mempersilakan. Ibu Nawang kembali masuk ke dalam mobilnya, ia meminta sang suami untuk segera mengemudikan mobil menuju asrama Dave.
"Lama sekali?" tegur ayah Haris.
"Iya, ibu lama sekali," jawab Lily.
"Tadi, ada temanmu, si Marvin. Dia jaga apotik sekarang," jelas ibu Nawang.
"Bukannya dia ada di luar negeri?" tanya Lily.
"Iya, tetapi dia lebih nyaman menjadi orang biasa," jelas sang ibu.
"Oh begitu, dia mengatakan apa saja pada ibu?" tanya Lily masih penasaran.
"Dia bilang titip salam buat kamu," jawab ibu Nawang.
"Haha, dia masih seperti bocah bu," celetuk Lily.
"Bukannya kamu bocah juga?" jawab ayah Haris.
"Haha, iya, seperti anak SD ya kirim salam," ucap Lily.
__ADS_1
Ibu mengatakan memberikan kartu nama ibu kepada Marvin. Saat di perjalanan, ayah Haris mendapatkan telepon dari pihak asrama jika hari ini tidak boleh ada kunjungan karena ada seleksi khusus pemain yang akan di kirim ke luar negeri, sang kepala sekolah juga memberi kabar jika Dave masuk rekomendasi pemain sepakbola berpotensi yang akan di kirim ke luar negeri.
Ayah sangat senang, dia langsung menelepon Dave.
"Dave? kau akan di kirim ke luar negeri, impianmu akan terwujud," ucap sang ayah.
"Iya, tapi aku masih ragu yah," ucap Dave.
"Ada apa denganmu?" tanya ayah Haris.
"Bagaimana sekolahku?" tukas Dave.
"Nanti ayah akan urus, kau segera ikut seleksi itu, dapat rekomendasi langsung dari kepala sekolah, akan mempermudah kau mencapai mimpimu," jelas ayah Haris.
"Iya yah, oh ya...katanya Lily sakit? apa dia baik-baik saja?" tanya Dave.
"Iya, dia baik, harusnya kami akan menemuimu di asrama, tetapi karena ada acara seleksi ini, kami akan pulang, maaf ya Dave?" ucap ayah Haris.
"Bukan masalah besar yah, besok bisa datang lagi," jelas Dave.
"Oke baiklah, jaga kesehatan ya?" ucap ayah Dave.
"Oke, ayah juga," jawab Dave.
Sambungan telepon itu akhirnya di matikan, ada raut sedih di wajah Lily saat tahu mereka tidak jadi ke asrama Dave, tetapi ia coba untuk menyembunyikannya.
'Tak apalah, besok bisa bertemu,' batin Lily.
Lily menjadi lebih pendiam, dia merasa ada yang dari dalam dirinya.
Ibu menoleh ke arah sang puteri yang sedari tadi hanya diam.
"Ly? kamu baik-baik saja kan?" tanya sang ibu.
"Baik ibu, memangnya aku kenapa?" ucap Lily yang merasa dirinya baik-baik saja.
Ayah Haris melihat dari spion tengah mobil jika sang puteri murung. Ia mencoba menghiburnya.
"Lily, setelah ini kita pergi ke kebun bunga Lily, kamu mau?" tanya ayah Haris.
"Tidak perlu ayah," jawab Lily pasrah.
Di sepanjang perjalanan, berjejer penjual permen kapas dengan berbagai bentuk. Ayah Haris berinisiatif untuk membeli salah satunya. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di samping sang penjual.
"Ayah? kita berhenti di sini?" tanya Lily heran.
"Kamu tunggu di sini, ayah akan membeli sesuatu yang kamu suka," jawab ayah Haris.
__ADS_1
Ayah Haris turun dari mobil, ia terlihat menghampiri seorang penjual permen kapas. Beberapa menit kemudian, ayah Haris masuk ke dalam mobil, ia memberikan permen kapas itu kepada Lily.
Lily sangat terharu, sang ayah tiri mengetahui salah satu makanan kesukaannya waktu kecil.
"Ayah terimakasih," ucap Lily saat permen kapas sudah ia terima.
Ibu Nawang bahagia karena hubungan antara ayah dan anak semakin membaik.
"Darimana ayah tahu kalau aku suka permen kapas?" tanya Lily heran.
"Dulu waktu ayah masih pendekatan dengan ibumu, ibumu memberikan list tentang apa yang Lily suka dan tidak," jawab ayah Haris.
"Ayah maaf! aku dan kak Dave telah mengecewakan ayah," Lily menangis, ia merasa menjadi anak yang tidak tahu diri.
"Jodoh itu Tuhan yang mengaturnya, lebih baik kalian fokus dengan pendidikan masing-masing dan jaga hubungan kakak adik kalian," Ayah Haris mencoba mengerti kesulitan anak gadisnya itu.
"Sudah ya? jangan melow lagi, ibu sudah lapar ini! makan yuk," pinta sang ibu.
Ayah setuju dengan permintaan isterinya, ayah Haris segara mengendarai mobilnya. Ia membawa isteri dan anaknya ke sebuah restoran yang masih alami, tempatnya berada di tengah persawahan.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana karena jaraknya lumayan dekat dari penjual permen kapas di pinggir jalan tadi.
Setelah memarkirkan mobilnya, ayah bersama anak dan isterinya turun dari mobil. Mereka takjub dengan konsep restoran yang sangat unik.
Ayah masuk ke dalam restoran itu dan ia memesan makanan yang khas di sana kepada seorang pelayan. Beberapa menit kemudian, sang pelayan menyajikan hidangan unik itu.
Ketiga orang itu duduk lesehan, angin sepoi-sepoi mulai terasa. Semakin membuat nyaman suasana.
"Lily makan yang banyak, biar cepat sembuh," pinta sang ayah.
"Jika nasinya kurang, bisa memesan lagi," celetuk sang ibu.
"Kalian yang terbaik, ayah dan ibu," ucap Lily.
"Iya, sama-sama, ayo di santap, nanti dingin lho makanannya," jawab ayah Haris.
Mereka bertiga menikmati makanan itu dengan mengobrol dan tertawa bersama. Tidak ada raut sungkan dari ayah Haris dan Lily. Mereka kini menjadi anak dan ayah yang kompak.
Ibu Nawang tidak ingin menyia-nyiakan momen kebersamaan yang jarang terjadi ini. Ia mengambil selfi saat mereka bertiga menyantap salah satu makanan.
"Besok di cetak fotonya bu, buat kenang-kenangan," pinta ayah Haris.
"Iya, ibu juga memiliki pemikiran yang sama," jawab ibu Nawang.
__ADS_1
Lily mengirim pesan kepada Dave tentang kebahagiaannya kembali berdamai dengan sang ayah. Beberapa detik kemudian, pesan itu di balas oleh Dave.
'Iya, syukurlah!,' Isi balasan pesan dari Dave.