MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 25


__ADS_3

Di kelas...


Sakit perutku hanyalah alasan untuk menghindar.


Aku bersembunyi di dalam kelas dari hiruk pikuknya acara bazar amal.


Aku melipat tanganku di atas meja dan menindih kan kepalaku di atasnya.


Aku mulai merenungkan apa yang terjadi di dalam hidupku.


Dari awal, seharusnya aku jujur kepada Ibu bahwa Kak Dave adalah cinta pertamaku.


Dari awal, seharusnya aku tahu kalau aku dan Kak Dave tidak bisa bersatu.


Dari awal, seharusnya aku sadar bahwa kehidupan yang aku jalani tidak semulus yang ku harapkan.


Aku merenungkan kisah cinta "palsu" yang aku buat sendiri bersama Kak Dave.


Kami saling mencintai, namun banyak orang yang terlibat dan tersakiti di dalamnya.


Kak Daniel adalah orang yang sangat baik.


Banyak gadis-gadis cantik dan cerdas yang mengincarnya dan dia memilih aku menjadi orang yang spesial di hatinya.


Tapi apa yang aku lakukan?


Mengkhianatinya dengan kesadaran penuh.


Bahagia di atas segala kebohongan yang terencana.


Ibu, orang yang sangat aku sayangi memintaku untuk tetap bersama Kak Daniel.


Sedangkan hatiku tidak menginginkannya.


Ayah Haris yang notabene adalah Ayah dari Kak Dave juga menyukai Kak Daniel dan berharap kami berdua bersama.


Namun, Kak Dave adalah penyelamatku.


Dia adalah cinta pertamaku.


Tidak ada laki-laki lain yang aku inginkan selain Kak Dave.


Aku sudah mencintainya lebih dari tiga tahun lamanya.


Mencintai dalam diam dan hanya menjadi orang di balik layar yang berharap cinta yang tidak pasti.


Di saat cinta pertamaku datang padaku, situasinya menjadi sangat rumit.


Tanpa ku duga, dia adalah kakakku.


Kami harus menjalani peran kakak dan adek yang di dalamnya terjalin kisah cinta penuh pengorbanan.


Haruskah aku mengakhiri semua "permainan" ini?


"Lily? kamu kenapa?"


Suara yang sangat familiar dan suara yang paling ingin aku dengar.


"Kak Dave.!!"


Aku mendongak, kemudian aku memeluk tubuhnya.


Kak Dave terkejut.


"Lily? kamu kenapa?" Tanya Kak Dave lirih.

__ADS_1


"Aku lelah Kak, aku ingin mengakhiri semua ini." Jawabku sambil menangis sesenggukan.


"Apa maksudmu?" Tanya Kak sambil menatap mataku yang mulai bercucuran air mata.


"Aku ingin kita berpisah saja." Jawabku yang membuat Kak Dave terkejut.


"Apa? tidak bisa. Aku sangat menyayangimu Lily, bagaimana bisa kita berpisah?" Ucap Kak Dave.


"Ibu memintaku untuk bersama Kak Daniel. Aku tidak kuasa untuk menolaknya." Jawab ku masih menangis sesenggukan.


"Hapus dulu air mata mu. Kita bicarakan dulu, cari solusi yang terbaik." Ucap Kak Dave sembari melepas pelukanku.


Dia menghapus air mataku kemudian Kak Dave duduk di sampingku, dia menyenderkan kepalanya di bahuku dan memegang tanganku.


"Kamu tahu tidak? apa yang sangat membuatku bahagia?" Tanya Kak Dave.


"Aku tidak tahu." Jawabku polos.


"Dari kecil aku tidak memiliki seorang Ibu. Aku sangat merindukan kasih sayangnya. Saat Ayah mengatakan ingin menikah lagi, aku sangat bahagia. Sosok Ibu yang samar-samar di memori otakku, kini telah terlihat jelas dan nyata.


Ibu Nawang telah melengkapi kekosongan hati ayah. Ibu Nawang telah membuat keluargaku menjadi utuh kembali. Ayah pernah bilang padaku, dia tidak akan pernah menikah lagi jika aku tidak menginginkannya meski Ayah juga butuh seorang pendamping untuk menemaninya di saat masa tuanya kelak. Aku juga ingin sekali mencintai orang selain dirimu agar aku dan kamu tidak perlu menyiksa diri seperti sekarang ini. Aku juga ingin bebas menjalani hubungan tanpa harus takut ketahuan Ibu, Ayah ataupun yang lainnya. Tapi, hati ku memiliki keyakinan jika kita memang ditakdirkan untuk bersama." Ucap Kak Dave.


"Kak Dave, kita harus membuat orang tua kita bahagia. Kita tidak boleh egois." Jawabku.


"Aku dan kamu adalah saudara tiri kan? kamu bukan adek kandungku. Jika aku mencintaimu apakah itu sebuah kesalahan?" Ucap Kak Dave keras kepala.


"Bukan itu maksudku. Aku tidak ingin menyakiti hati Ibu dan Ayah Haris." Jawabku lirih.


"Bagaimana dengan perasaanku? apakah kamu juga memikirkannya?" Tanya Dave dengan menegakkan kepalanya dan menatap mataku.


"Jangan menatapku seperti itu." Jawabku yang merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Kak Dave yang begitu tajam.


"Lihat mataku Lily, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan bicara dengan Ibu dan Ayah baik-baik." Ucap Kak Dave memohon.


"Lily, aku akan berusaha untuk meyakinkan Ayah dan Ibu jika kita layak bersama. Jika kamu ingin akhiri hubungan ini, akhiri saja. Tapi cinta dalam hatiku tetap untukmu." Ucap Kak Dave kemudian beranjak dari tempat duduknya perlahan melangkah pergi.


Aku melihat Kak Dave dari balik punggungnya.


Dia adalah sosok keras kepala yang pernah aku kenal.


Dia adalah satu-satu nya orang yang mau mengambil resiko tinggi untuk mempertahankan cintanya.


Tuhan,


Hamba hanya menginginkan Kak Dave seorang.


Jika kami bisa bersama di masa depan, ubahlah takdir kami.


Satukanlah kami kembali.


Aamiin ...


* * *


Di lapangan...


Kak Daniel masih ada di bazar amal.


Dia sedang berkoordinasi dengan timnya perihal acara bazar.


Setelah selesai, dia kemudian mengirim pesan WA padaku.


Bunyinya :


"Lily, kamu sakit perut beneran? kamu dimana?"

__ADS_1


________________


Di kelas...


Ponsel ku tiba-tiba berdering.


Aku mengambil ponsel di dalam tasku.


Aku membuka layar ponselku.


Ternyata pesan WA dari Kak Daniel.


Aku membalas pesannya.


Bunyinya :


"Iya, perut ku sakit. Aku sedang ada di kelas."


Aku berbohong kepada Kak Daniel agar dia tidak curiga padaku jika aku tadi menghindari Ibu.


Kak Daniel kemudian membalas.


"Oke, aku akan segera menuju kelasmu. Mau aku belikan obat sakit perut?"


Aku membalas, " Tidak perlu. Terima kasih."


Kemudian Kak Daniel tidak membalas pesanku lagi.


"Huft, aku lapar sekali. Ternyata di saat menyedihkan ini, aku lupa memikirkan perutku."


Aku beranjak dari tempat dudukku untuk menuju kantin.


Tiba-tiba Kak Daniel datang dengan nafas yang terengah-engah.


"Kak Daniel?" Ucap ku terkejut.


"Ternyata kamu masih di sini." Jawab Kak Daniel.


Dia menghampiriku.


Kak Daniel membawa sebuah kotak makan siang.


"Ini untuk makan siang mu dan ini adalah obat sakit perut." Ucap Kak Daniel sambil membuka kotak yang dia bawa.


"Maaf Kak, aku sudah kenyang." Jawabku.


"Makanlah, wajahmu pucat sekali. Matamu juga sembab, kamu menangis ya?" Ucap Kak Daniel.


"Tidak, aku tidak menangis dan tidak lapar." Jawab ku.


Mulut ku bisa saja berbohong, tapi perutku tidak.


Dia meronta-ronta untuk meminta jatah makan siang.


"Beneran kamu gak lapar? perut kamu bunyi tuh?" Ucap Kak Daniel yang mendengar suara keroncongan dari perutku.


"Baiklah." Jawabku sambil menahan malu.


Kak Daniel memintaku duduk, dia tidak mengizinkanku makan sendiri.


Dia ingin menyuapiku, aku menolaknya.


"Makan saja , buka mulut mu." Pinta Kak Daniel.


Dengan sangat terpaksa, aku menuruti keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2