MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 49


__ADS_3

Di asrama, Dave merasa khawatir dengan kondisi Lily, sampai-sampai dia melamun. Kelvin yang sedari tadi duduk di sampingnya, merasa di acuhkan.


"Dave? loe sehat?" tanya Kelvin yang heran dengan sikap Dave yang tidak biasa.


Dave masih diam, pandangannya kosong, ia terlihat sedang bingung.


"Woy!" Kelvin menepuk pundak sang sahabat cukup keras, membuat Dave terkejut.


"Astaga! apa yang loe lakuin? sakit Vin, gila loe!" ucap Dave sambil mengusap pundaknya yang sakit.


"Habis loe diam saja, ada apa? cerita ayo cerita," Kelvin siap menjadi pendengar setianya.


"Adek gue sakit, gue khawatir sama dia," jelas Dave dengan wajah sendu.


"Ada kedua orangtuamu, kau tidak perlu risau," Kelvin menepuk pundak Dave dengan pelan kali ini, dia sangat memahami perasaan sang sahabat.


"Mereka sedang ada masalah, aku takut sekali Lily sakit parah," Pikiran Dave terlalu jauh, dia sangat menyayangi sang adik.


"Dave, loe harus doain adik loe, jangan buat prasangka jelek loe menjadi beban untuk Lily," saran Kelvin, kali ini dia sangat bijak.


Dave menghela nafas, ia mengajak sahabatnya untuk kembali berlatih. Tetapi Kelvin tidak mau, dia sudah lelah. Dave mengatakan jika dia akan berlatih sendiri saja.


"Dave! semangatlah! gue pergi dulu," pamit Kelvin, sang sahabat pergi meninggalkan Dave sendiri di lapangan sepakbola.


"Iya, makasih ya sob!" ucap Dave sembari bermain si kulit bundar.


Saat dia sedang memulai latihannya, seorang pelatih datang, dia ingin bicara dengan Dave.


"Dave, kemarilah! bapak punya kabar baik untukmu," Seorang pelatih mengajak Dave duduk di atas rumput pinggir lapangan.


"Ada apa pak?" Kini Dave telah duduk si samping sang pelatih.


"Ada beasiswa sekolah sepakbola keluar negeri, kau ikut ya? bapak sudah merekomendasikanmu," ucap pak pelatih.


"Tapi saya bilang dulu dengan ayah dan ibu," pinta Dave karena dia masih bimbang.


"Tidak masalah, kamu bilang dulu, nanti kalau sudah ada keputusan, lapor kepada bapak, mengerti?" ucap pak pelatih.


"Baik pak," jawab Dave.


Pak pelatih kemudian meninggalkan Dave sendiri di lapangan itu. Dave kembali murung, di saat dirinya mendapatkan kesempatan emas, justru Lily sedang sakit, apalagi hubungan dengan sang ayah juga masih belum membaik.


"Huft! banyak cobaan, semoga gue bisa melewatinya dengan baik," Dave berbaring di lapangan hijau itu sembari menatap langit yang cerah berwarna biru.


Ia memejamkan matanya, ia berharap semua masalah segera usai.


...* * *...

__ADS_1


Di rumah sakit...


Ayah Haris masih berada di samping Lily saat dokter dan suster keluar dari ruang rawat inap. Dokter mengatakan jika sang ayah sangat mencintai putrinya. Ia menambahkan jika Lily hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Untuk selanjutnya, Lily boleh pulang. Dokter memberikan resep obat agar Lily cepat sembuh.


"Apa aku boleh masuk dok?" tanya ibu Nawang.


"Boleh, hari ini putri ibu bisa segera pulang, jangan lupa ingatkan dia untuk makan dengan teratur dan jangan memikirkan banyak hal," saran sang dokter.


"Baik dok, apa boleh saya masuk ke dalam?" tanya ibu Nawang.


"Boleh," jawab sang dokter kemudian berlalu bersama suster.


Saat berada di dalam ruangan rawat inap, ibu Nawang berdiri di belakang ayah Haris.


"Ayah," panggil sang isteri.


"Oh ibu," jawab ayah Haris sembari menoleh ke belakang.


"Bagaimana keadaan Lily?" tanya ibu Nawang.


"Iya baik-baik saja bu, setelah ia siuman, kita bawa Lily pulang, kasihan dia," Ayah Haris membelai rambut sang putri yang terbaring lemah itu.


Beberapa menit kemudian, mata Lily terbuka. Dia terkejut saat ada ayah tirinya.


"Ayah?" Lily langsung bangkit dari brankar dan langsung memeluk tubuh ayahnya.


"Iya, ayah memahaminya, jangan menangis sayang," Ayah Haris mengusap punggung sang putri lembut.


Lily masih menangis, membuat ayah Haris merasa bersalah.


"Ayah akan mengendong Lily sampai ke mobil, sebagai ucapan maaf karena ayah terlalu berpikir berlebihan tentang hubungan kalian, maafkan aku," Kini justru sang ayah yang menangis.


Ruangan itu di penuhi oleh rasa haru yang menyayat.


Ayah Haris kemudian mengendong tubuh Lily menuju mobil yang ia parkir. "Ayah, aku malu! semua orang melihat kita," ucap Lily memperingatkan.


"Kamu anakku, sudahlah," Ayah Haris tidak memperdulikan tatapan semua orang yang melihatnya mengendong sang putri yang sudah remaja itu.


Setelah sampai di tempat parkir, ayah Haris membuka pintu mobil, ia menempatkan Lily di jok belakang bersama sang isteri.


"Kita ke asrama Dave, ayah ingin meminta maaf padanya.


Ibu Nawang dan Lily saling bertatapan, mereka heran dengan perubahan sikap ayah Haris.


"Wah! itu ide yang bagus ayah," ucap ibu Nawang.


Sang putri hanya diam, dia merasakan bahagia tak terkira.

__ADS_1


"Terimakasih ayah," ucap Lily dengan senyum merekah.


"Maaf yah, ibu lupa jika harus menebus obat yang di resepkan oleh dokter tadi," tukas ibu Nawang.


"Nanti kita bisa turun di apotik yang dekat dengan asramanya Dave, lebih baik kita segera berangkat," ajak ayah Haris.


Anak dan ibu itu menggangguk, mereka setuju dengan ucapan ayah Haris.


Perlahan mobil ayah Haris melaju meninggalkan rumah sakit itu.


Di dalam mobil...


"Ayah ingin mengajak kalian semua liburan ke Surabaya," celetuk ayah Haris.


"Hore! liburan, aku mau ayah," Lily terlihat sangat bersemangat dan bahagia sampai lupa jika sedang sakit.


"Nahkan, giliran liburan aja bahagia," ucap ibu Nawang.


"Kan aku ingin sekali pergi ke tanah kelahiran ayah, apalagi liburan, aku pasti bersemangat dan cepat sembuh," Lily sangat bahagia.


Lily memeluk tubuh sang ibu, ia sekarang lega, masalah di keluarganya perlahan mulai terselenggaranya.


"Syukur deh kalau kalian bahagia, kalau Dave tahu pasti dia juga senang," ucap ayah Haris.


Di dalam mobil ayah Haris, suasana hangat mulai tercipta, hubungan ayah dan anak, serta suami dan isteri kembali membaik.


"Ayah, itu ada apotik, ibu turun sebentar," pamit ibu Nawang.


"Oke ibu, hati-hati," jawab ayah Haris.


Ibu Nawang turun dari mobil dan berjalan perlahan menuju apotik yang berada di sisi kanan jalan raya.


Saat dia memberikan resep kepada apoteker, alangkah terkejutnya ibu Nawang saat mengetahui jika apoteker tersebut adalah Marvin.


"Ibu Nawang?" ucap ibu Nawang.


"Marvin?" jawab sang apoteker.


"Kamu apa kabar nak? lama tidak berjumpa, bagaimana kabar kakakmu? apa dia sudah kembali dari Australia?" Ibu Nawang sangat akrab dengan Marvin karena remaja yang seumuran dengan Lily itu adalah sahabat Lily waktu masih tinggal di rumah yang lama. Marvin berasal dari keluarga yang berada, tetapi dia lebih ingin hidup mandiri.


"Dimana Lily?" tanya Marvin sangat antusias.


"Cie, ibu bertanya panjang lebar, yang ditanyain Lily," goda ibu Nawang.


"Ah ibu," Wajah Marvin bersemu merah, dia merasa malu saat membahas gadis yang pernah singgah di hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2