
Flash back : On
"Ambar, kamu sudah setuju menikah dengan Felix?" Tanya seorang pemuda kepada seorang gadis di sebuah taman di pinggir danau.
"Iya Haris. Maafkan aku. Kita sudah delapan tahun bersama tetapi restu kedua orang tuaku tidak kunjung kita dapat." Jawab gadis itu dengan tangis sendu.
"Sudahlah Ambar, jangan kamu tumpahkan airmata itu. Jika memang ini sudah menjadi takdir kita, terimalah perjodohan itu. Aku tidak akan menjadi penghalang." Ucap pemuda tadi.
Tangis sang gadis semakin menjadi.
Mereka saling berpelukan.
Pemuda itu berusaha menenangkan sang gadis agar berhenti menangis.
"Berjanjilah Haris, kamu akan bahagia. Carilah gadis yang lebih baik dariku sesegera mungkin." Ucap gadis itu.
"Tidak ada gadis seperti itu di dunia ini selain Ambar Nastiti." Jawab pemuda itu.
"Haris, apa kamu mau menungguku?" Tanya sang gadis.
"Pasti, kelak kita pasti akan bersama di kehidupan selanjutnya." Jawab sang pemuda.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidak saling bertemu dan berhubungan lagi.
Taman ini menjadi saksi bisu tentang kisah cinta mereka berdua.
Dari awal bertemu hingga berakhir dengan perpisahan.
* * *
Pernikahan Ambar dan Felix
Hari yang sangat membahagiakan sekejap menjadi sedih tatkala hari pernikahan sang gadis di gelar.
Suka cita keluarga mempelai, para tamu yang hadir, tidak membuat Ambar mampu merasakan kebahagiaan itu.
"Haris, sedang apa kamu? apa kamu baik-baik saja." Batin sang gadis yang kini telah memakai gaun pernikahan dan siap menuju gedung dimana acara pernikahan berlangsung.
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Nak?" Ucap Ibu sang gadis.
"Yakin Ibu." Jawab sang gadis.
Tamu undangan dan kedua mempelai menyambut pengantin perempuan yang baru datang dengan gaun dan riasan wajah yang cantik.
Prosesi pernikahan pun berlangsung dengan sangat lancar dan meriah.
Ada seorang tamu tidak di undang yang tiba-tiba datang. Dia hanya mampu melihat kedua mempelai dari kejauhan.
__ADS_1
Dialah Haris, mantan kekasih sang gadis.
"Ambar, kamu terlihat cantik memakai gaun berwarna putih itu. Kamu pantas bahagia, Felix adalah pilihan yang tepat untukmu." Gumam Haris.
* * *
Tiga tahun kemudian...
"Ambar kenapa Bu?" Tanya Haris kepada Ibunya Ambar yang tiba-tiba menelfonnya.
"Ambar dan suaminya kecelakaan Ris, dia terus memanggil namamu. Cepatlah datang ke Rumah Sakit Sejahtera." Ucap Ibunya Ambar.
Haris yang sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan, langsung tancap gas menuju Surabaya.
Di sepanjang perjalanan, Haris berdoa agar tidak terjadi apapun dengan Ambar dan suaminya.
Setelah satu setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Rumah Sakit Sejahtera.
Ibunya Ambar sudah menunggu Haris di parkiran mobil.
"Ibu, dimana Ambar dan suaminya? kenapa Ibu di sini?" Tanya Haris.
"Ada anggota keluarga yang lain yang menjaga. Aku ingin bertemu denganmu secara khusus dan juga ingin meminta maaf atas sikap Ibu di masa lalu." Ucap Ibu dengan tangis dan wajah sendu.
"Untuk hal itu, nanti saja kita bahas. Sekarang, aku ingin bertemu Ambar." Jawab Haris.
Kemudian Ibunya Ambar dan Haris pergi menuju ruang di mana Ambar di rawat.
Haris langsung masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ada Ambar yang tidak sadarkan diri dan tidak berhenti mengigau nama Haris di dampingi dengan seorang dokter.
Haris menangis melihat keadaan orang yang paling di cintainya terluka lumayan parah.
Haris kemudian menenangkan Ambar.
Setelah Ambar tenang dan kondisinya stabil, Haris bertanya tentang keadaan Ambar dan suaminya.
"Bagaimana keadaan Ambar dan suaminya?" Tanya Haris.
"Keadaan sang suaminya sangat mengenaskan dia sudah ditemukan meninggal di tempat dan nyonya Ambar selamat karena terpental dari mobil yang mereka kendarai. Ohiya, kabar baiknya kandungan nyonya Ambar baik-baik saja. Ibu dan Bayinya sangat kuat dan sehat." Jawab sang dokter.
"Berapa bulan umur kandungan Ambar, Dok?" Tanya Haris.
"Sudah menginjak 4 bulan." Jawab Dokter.
"Kalau boleh saya tahu, anda siapanya Ambar?" Tanya Dokter.
"Saya mantan kekasihnya." Jawab Haris yang membuat sang dokter terkejut.
__ADS_1
"Apa? anda mantannya?" Tanya dokter yang terkejut dengan jawaban Haris.
"Iya." Jawab Haris.
"Kita bisa bicara di ruangan saya sebentar?" Tanya sang dokter.
Haris menggangguk.
* * *
Di luar ruangan...
"Bagaimana keadaan Ambar, dok?" Tanya Ibunya Ambar.
"Dia sudah tenang, tunggu beberapa jam lagi. Dia pasti akan siuman." Jawab sang dokter.
"Bagaimana jika pihak keluarga segera mengebumikan jenasah Felix tanpa kehadiran Ambar?" Tanya Ibunya Ambar.
"Tidak masalah, saya lebih menyarankan hal itu karena akan meminimalisir hal yang tidak di inginkan terjadi." Jawab sang dokter.
"Baiklah kalau begitu, biarkan Ambar di sini. Saya dan anggota keluarga yang lain akan mengurus kepulangan jenazah Felix." Ucap Ibunya Ambar.
"Haris, kamu masih mau di sini kan? apa kamu sedang sibuk?" Tanya Ibunya Ambar.
"Saya tidak sibuk, saya akan ikut menjaga Ambar." Jawab Haris.
Setelah kepergian Ibunya Ambar, dokter mengajak Haris ke ruangannya.
Ruangan dokter ...
"Tuan Haris, saya adalah dokter pribadi keluarga Ambar Nastiti. Setahu saya, Ambar sudah menikah dengan Felix. Tapi dia tidak bahagia." Ucap sang Dokter.
"Benarkah? bagaimana anda tahu?" Tanya Haris.
"Sudah setahun belakangan ini, Ambar sering mengeluh sakit. Setelah pemeriksaan yang saya lakukan, dia mengalami gangguan mental ringan dan Asma." Jelas sang dokter.
"Apa? dia sakit mental? apa penyebabnya dok?" Tanya Haris merasa sedih.
"Sang suami adalah pria yang baik, dia merasa bersalah karena selama tiga tahun ini belum mampu mencintai sang suami meski mereka akan segera memiliki momongan." Jelas sang dokter.
"Huft, apa yang sudah saya lakukan? saya mengira dengan kepergian saya, Ambar akan bahagia." Sesal Haris.
"Ada satu rahasia yang hanya saya yang tahu. Seminggu sebelum kejadian kecelakaan naas ini, Felix menemui saya, dia mengatakan ingin bertemu dengan orang yang bernama Haris Winanta. Dia bilang istrinya tidak bahagia bersamanya. Seperti sebuah firasat, dia menulis surat wasiat tentang masa depan keluarganya. Saya belum berani memberikan surat ini kepada pihak keluarga di karenakan hubungan mereka baik-baik saja. Saya tidak ingin membuat hubungan suami-istri itu menjadi semakin buruk." Jelas sang dokter.
"Dimana surat itu dokter? bolehkah saya membacanya?" Tanya Haris.
"Belum saatnya, kita lebih baik membuat Ambar sembuh dulu. Baru kita bahas surat ini. Hal ini sangat sensitif." Jawab sang dokter.
__ADS_1
"Baik, aku akan membantu dokter menyembuhkan Ambar apapun itu caranya." Ucap Haris.
"Kalian memang dua insan yang luar biasa. Meski Ambar telah membuatmu sakit hati, tapi kamu masih mau membantu menyembuhkanya. Begitu juga dengan Ambar, dia tidak egois. Tetap patuh kepada kedua orang tuanya meski tidak ada kebahagiaan yang dia rasakan saat bersama Felix." Gumam sang dokter di dalam hati.