MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 27


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Pasca satu bulan kami baikan, aku dan Kak Dave semakin kompak.


Apapun masalah yang ada di depan, kami hadapi bersama.


Kak Daniel dan Gaby sebenarnya sudah curiga dengan hubunganku dan Kak Dave.


Bahkan mereka berdua berulang kali mencoba "memisahkan" kami dengan segala cara.


Akan tetapi, upaya mereka gagal karena tidak ada bukti yang akurat untuk menjatuhkan kami berdua.


Meskipun Ibu dan Ayah ada di pihak mereka, Kak Daniel dan Gaby tidak bisa mengendalikan kami.


Aku dan Kak Dave bebas mengekspresikan perasaan kami.


Sebagai kakak dan adek, hubungan yang harmonis adalah sesuatu yang lumrah terjadi.


Kasih sayang kakak dan adek yang kami bangun juga masih dalam tahap wajar.


Jadi, mereka tidak akan memiliki celah untuk memporak-porandakan hubungan kami lagi.


"Kak Dave?" Tanya ku saat menemaninya latihan di lapangan.


"Iya Lily, ada apa?" Jawab Kak Dave sambil tersenyum dan menatap mataku.


"Aku jadi ingat waktu dulu masih jadi "fans gelap" kakak. Kak Dave tidak pernah melihat ku sama sekali. Selalu saja melewati ku." Ucap ku sedih.


"Maaf ya dek, aku dulu jahat sama kamu." Jawab Kak Dave.


"Iya, gak papa Kak." Ucap ku sambil tersenyum.


"Aku dulu sebenernya tahu kalau kamu itu penggemar ku." Ucap Kak Dave yang membuat ku terkejut.


"Masa? kok bisa?" Tanya ku penasaran.


"Teman ku pernah bilang, dia pernah melihat seorang gadis berambut biru yang selalu setia melihatku saat latihan bola." Jawab Kak Dave.


"Haha, ternyata aku ketahuan." Ucap ku.


Setelah istirahat selama lima belas menit, Kak Dave kembali ke lapangan untuk meneruskan latihan.


"Aku lanjut latihan lagi, ya?" Ucap Kak Dave.


"Oke. Semangat ya, Kak?" Jawab ku.


"Oke." Ucap Kak Dave sambil berlari ke tengah lapangan dan memulai kembali latihan.


___________________________


Beberapa menit kemudian...


Latihan bolanya selesai juga...


Kak Dave berpamitan dengan teman-temannya.


"Dave, loe udah putus sama Gaby ya?" Tanya seorang teman satu tim Kak Dave bernama Ferdy.


"Kami masih jalan kok, Fer." Jawab Kak Dave santai.


"Tapi, gue jarang lihat loe sama dia." Ucap Ferdy.


"Gue dan Gaby, punya kesibukan masing-masing. Jadi, kita jarang jalan bareng." Jawab Kak Dave.


"Gue seneng lihat loe akur sama adek loe. Meski kalian bukan saudara kandung, tapi tetap solid." Ucap Ferdy.


"Bisa aja loe, udah ya? adek gue udah nunggu lama tuh. Gue pulang dulu." Jawab Kak Dave.

__ADS_1


Ferdy mengangguk.


Kak Dave tersenyum dari kejauhan.


Senyumnya terlihat sangat manis.


Tidak ku duga orang yang selama ini hanya bisa ku lihat dari kejauhan, kini semakin mendekat dan benar-benar nyata menjadi milikku.


Kak Dave, kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semoga kan.


Tuhan memang baik, Dia mendengarkan doa ku selama ini.


Atas kehendakNya, kami bisa bersama meski dengan banyak rintangan yang harus di lalui.


"Kamu manis kalau tersenyum, Kak!!" Ucap ku saat Kak Dave sudah berada tepat di depan mataku.


Kak Dave tersenyum, " Kamu sekarang sudah pintar menggoda ya?"


Kak Dave membelai wajahku, tiba-tiba jantungku berdegup kencang tak beraturan.


Kak Dave terus saja memandangku tanpa memikirkan kalau aku sangat gugup.


Sial ?!!!


"Maaf Kak Dave, kita pulang ya? hari sudah semakin senja." Ucapku sambil tetap berdiri mematung dengan debaran jantung yang tidak bisa ku kendalikan.


"Baiklah." Jawab Kak Dave.


Dia menggenggam tanganku.


"Dek, kamu sakit?" Tanya Kak Dave.


"Tidak, kenapa?" Jawabku masih dengan kegugupan yang melanda.


"Tanganmu berkeringat, wajahmu juga?" Ucap Kak Dave yang membuatku hanya bisa tertawa di dalam hati.


Aku mengumpat pada diriku sendiri tentang reaksi tubuhku yang berlebihan saat berhadapan dengan orang yang ku cintai.


"Kamu gugup?" Tanya Kak Dave.


"Mana ada? ayolah Kak kita pulang." Jawab ku sambil menarik tangan Kak Dave.


"Hahaha, kamu memang pandai berbohong ya?" Ucap Kak Dave sambil mengikuti langkah ku.


"Diamlah,!!" Jawab ku dengan menahan malu yang teramat sangat.


____________________


Sesampainya di rumah...


"Akhirnya sampai juga di rumah." Ucap ku sambil merebahkan tubuhku di atas sofa ruang keluarga.


Kak Dave tersenyum melihatku.


"Kamu mandi dulu, baru rebahan."


"Malas lah Kak. Setiap hari kita berangkat dan pulang sekolah. Begitu membosankan. Hari ini biarkan aku bermalas-malasan." Jawab ku.


"Kita main game Dare or Truth aja. Gimana? mau tidak?" Tanya Kak Dave.


"Mau, mau !!!" Ucapku sambil beranjak dari sofa.


"Bukan sekarang, kamu mandi dulu." Jawab Kak Dave.


"Akh,... Kakak!!! aku mau main sekarang!!!" Ucapku merenggek.


"Badanku masih bau, nanti pesonaku hilang." Jawab Kak Dave sambil membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Hahaha, pesona apanya." Gumam ku dalam hati.


Kemudian aku berjalan menuju kamar atas.


"Mandi sajalah. Masak iya di dekat Kak Dave, badanku bau." Ucapku sambil mengendus aroma masam di tubuhku.


___________________


Ruang keluarga..


Setelah selesai mandi, kami duduk di sofa ruang keluarga untuk bermain game Dare Or Truth.


"Mulai dari siapa dulu?" Tanya Kak Dave.


"Aku juga boleh." Jawab ku bersemangat.


"Aturannya, kita bebas bertanya. Jika diantara kita berdua tidak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan, nanti mendapatkan hukuman." Ucap Kak Dave.


"Hukumannya apa Kak?" Tanya ku penasaran.


Kak Dave mengeluarkan sebuah mangkok berisi tepung.


"Hukumannya adalah mengoleskan tepung di wajah." Jelas Kak Dave.


"Oke. Hukumannya mudah. Ayo kita main." Jawab ku.


"Dare Or Turth?" Tanya Kak Dave.


"Truth." Jawabku.


"Sejak kapan kamu menyukai ku?" Tanya Kak Dave.


"Sejak Kak Dave menolong ku waktu aku kelas dua SMP."


"Wow, ternyata adek ku ini sudah lama mencintaiku ya? Memang pesonaku tidak akan pernah pudar di lekang oleh waktu. Apalagi kalau sudah mandi, makin berlipat ganda." Jawab Kak Dave menyombongkan diri.


"Cih...apa an sih Kak? gak jelas banget." Ucapku.


Kak Dave tersenyum melihat ku.


"Dare Or Truth?" Tanyaku pada Kak Dave.


"Turth aja deh." Jawab Kak Dave.


"Mengapa Kak Dave mau bersusah payah bersamaku meski cinta yang kita miliki belum pasti mendapatkan restu. Padahal masih ada Gaby yang lebih baik dariku?" Tanya ku.


"Oh, ternyata kamu meragukan ku ya? baiklah. Apa yang kamu pikirkan tentang Gaby itu salah besar. Dia hanyalah orang egois, dia memohon untuk bersamaku tetapi dia tidak pernah mengubah sikapnya. Sempat aku bilang padanya untuk mengakhiri hubungan ini, tetapi dia menolak. Aku mengatakan jika sudah ada orang yang mengisi hatiku selama ini. Dia tidak masalah, yang penting aku tetap di sisinya. Aku terus menjauhinya agar dia bosan, ternyata usahaku sia-sia. Dia terlalu terobsesi denganku bukan mencintaiku."


Aku terdiam, ternyata begitu sulit jadi "idola".


Wajah yang tampan dan prestasi yang cemerlang bukan jaminan orang menjadi bahagia.


"Terus, apa status hubungan Kak Dave dan Gaby?" Tanya ku.


"Kami HTS( Hubungan Tanpa Status)-an. Aku juga bingung apa yang dia inginkan, apa aku bilang saja kalau orang yang aku cintai itu kamu?" Ucap Kak Dave.


"Jangan Kak, nanti dia berbuat nekat." Jawab ku khawatir.


"Kamu bahagia jika takdir cinta kita seperti ini?" Tanya Kak Dave.


"Sangat bahagia." Jawab ku mantap.


Kami berdua saling menatap, Kak Dave memegang tanganku dan berkata, " Kamu cantik banget Dek, apalagi di tambah ini."


Kak Dave tiba-bisa mengoleskan tepung di seluruh wajahku.


" Kakak...!!!" Ucapku sambil mengejar Kak Dave yang tertawa puas.

__ADS_1


Kemudian dia berlari masuk ke kamarnya.


"Kurang ajar, sudah membuat wajahku seperti dakocan terus kabur. Awas kamu, nanti aku bales." Gumamku dalam hati.


__ADS_2