MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 30


__ADS_3

"Gak tau lah, pusing aku."


Berkali-kali melihat ponsel, tidak ada pesan masuk sama sekali. Sudah seminggu lebih Kak Dave mengacuhkanku.


Argghh...


Gerah rasanya dengan sikap yang cuek dan judes itu. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga bersikap demikian.


Ibu juga sama, beliau sekarang lebih protektif.


Berangkat sekolah di antar Ibu dan pulangnya harus bareng Kak Daniel.


Hanya itu saja yang sehari-hari aku lakukan.


Sangat , bukan sangat lagi..


Tapi ..


Benar-benar membosankan !!!!!


"Lily, kamu di kamar, Nak?"


Suara Ibu sudah mulai menggema kembali.


Beliau mengajakku pergi bersamanya.


"Ibu tunggu di bawah, cepat lah. Dave juga ikut."


"Iya , Bu."


Hahaha, mengapa telinga ku begitu peka dengan nama Kak Dave, sehingga tanpa perlu di suruh langsung "let's go".


* * *


Mobil Ibu..


Aku duduk di belakang, Kak Dave duduk di depan bersama Ibu. Mereka terlihat tegang sekali.


"Ibu, kita mau kemana?"


Aku bingung dan bertanya pada Ibu kemana beliau akan mengajak kami berdua pergi.


Beberapa menit kemudian, tibalah kami di sebuah Cafe.


Sepertinya, aku tahu tempat ini.


Oh tidak , ini tempat yang pernah aku datangi bersama Kak Dave juga Kak Daniel.


Sial?!!!


Mengapa Ibu tahu tempat ini?


Apa mungkin ini ide Kak Dave?


Kami akhirnya duduk di tempat yang sudah di pesan Ibu.


Di atas meja sudah tersedia banyak hidangan, salah satunya ayam goreng dan gurame asam pedas kesukaanku.


"Ibu mengajak kalian kesini untuk bertemu dengan orang yang spesial."


Otakku berfikir dengan keras, siapa orang spesial itu?


"Daniel, Gaby?!! kami di sini."


Ibu memanggil Gaby? Kak Daniel?


Apa mungkin???


Astaga???


Aku kena jebakan Batman.

__ADS_1


Kak Dave yang sudah mengetahui ide Ibu ini, hanya diam dan bermain game di ponselnya.


Harapan untuk berbicara dengan Kak Dave telah sirna, padahal ini adalah kesempatan emas.


Aku malas sekali bertemu mereka berdua.


Kak Daniel sok akrab, padahal aku sama sekali tidak menyukainya. Aku juga sudah jujur, tapi sepertinya kepalanya terbuat dari batu sehingga begitu keras kepala.


Begitu juga Gaby, dia langsung duduk di sebelah Kak Dave.


Kak Dave yang tahu ada Gaby di sampingnya, langsung memasukkan ponsel ke saku celananya, seolah-olah Gaby adalah orang yang penting.


Ibu memandangku dan memberikan kode agar mau berbicara dengan Kak Daniel.


Tidak ada pilihan lain, selain menuruti perkataan Ibuku.


"Kak Daniel suka makan apa? nanti aku ambilkan."


Raut wajah Ibu menjadi cerah ceria saat mendengar ku mau berbicara pada Kak Daniel.


Seperti tidak mau kalah, Kak Dave juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih.


Dia mengambilkan salah satu hidangan dan menyuapi Gaby dengan sangat mesra.


Aku membalas apa yang Kak Dave lakukan.


"Kak Daniel , mau aku suapi?"


Tidak kalah mesra dengan Kak Dave, aku menyuapi Kak Daniel dengan penuh perasaan.


Begitu lah, hari ini kami berdua beradu kemesraan di depan Ibu.


Padahal untuk aku sendiri, sebenarnya cemburu jika Kak Dave terlalu dekat dengan Gaby.


Hingga di saat terakhir, aku sudah tidak sanggup menahannya.


"Maaf semua, aku ke toilet dulu."


Dengan amarah yang terpendam, aku berjalan menuju toilet.


"Hey cermin, kenapa ada wajahku di situ. Mengapa wajah itu begitu menyedihkan? Lihatlah, matanya mulai berair. Apa yang terjadi dengan wajah itu."


Aku menangis , tangisan yang dalam dan pedih.


Kak Dave tega sekali melakukannya padaku.


Aku nyesek, tahu gak sih??!!


Tok.. tok.. tok...


Aku terkejut mendengar suara ketukan pintu.


Segera saja, aku mencuci muka dan latihan senyum agar tidak ketahuan kalau aku habis menangis.


KLEK..


Aku membuka pintu toilet.


Betapa terkejutnya aku saat Kak Dave ada di depanku.


"Hapus air matamu itu. Ibu akan sedih jika kamu tidak menyukai rencananya."


Kak Dave menyodorkan sapu tangan ke arahku, tapi aku malas menerimanya.


"Tidak perlu, wajahku basah karena cuci muka. Bukan menangis."


Kak Dave tersenyum kecut, dia tidak percaya apa yang aku katakan karena sejak dari awal Kak Dave sudah mengikutiku.


"Besok kalau aku sudah lulus dan pergi dari sini, siapa yang akan menghapus air mata dan menjagamu jika kamu selalu saja menyimpan perasaan dan berbohong pada dirimu sendiri."


Dengan lembut, Kak Dave mengusap wajahku.

__ADS_1


Butiran air mata itu kembali muncul , semakin penuh dan jatuh di pipiku karena tidak tertahan lagi.


"Kak Dave, aku merindukanmu."


Aku memeluk Kak Dave erat, dia menepuk punggung ku lembut.


"Maaf kan aku jika sikapku telah membuatmu terluka. Hentikan tangisan itu, Ibu akan khawatir jika kita tidak juga kembali."


Mendengar kata-kata Kak Dave, air mata ku semakin deras mengalir.


Kak Dave terus menenangkanku dan membujuk ku agar berhenti menangis.


Setelah tenang, aku bersama Kak Dave kembali ke meja kami.


"Sini anak-anak Ibu, kita foto berlima untuk kenang-kenangan."


Baru saja sampai, sudah di sambut dengan permintaan Ibu yang harus kami penuhi.


Ibu memaksaku duduk dekat Kak Daniel dengan tangannya merangkul pundakku.


Kalau untuk Kak Dave, dia hanya pasrah. Gaby yang sedari awal sudah menempel Kak Dave terus, berpose menggandengnya dan menyenderkan kepalanya di pundak Kak Dave dengan senyum sok manis.


Aku yang terlalu terpaku dengan Gaby yang menyebalkan itu, akhirnya kena tegur Ibu.


"Lily, kamera sudah on lho. Kamu lihat apa ? senyumnya mana. Cepetan senyum biar anak Ibu tambah cantik."


Sudahlah terima saja jika hari ini jadi hari "ternyesek" buatku.


Kami berlima berfoto bak keluarga besar.


Aku tidak berhenti mengumpat di dalam hati.


"Lily, sudah lah jangan cemberut gitu. Gak baik di lihat sama Daniel."


Kak Daniel merasa menang, kali ini ada Ibu di pihaknya.


Setelah selesai makan, kami kemudian pulang.


"Gaby, kamu masih nunggu sopir?"


Ibu menegur Gaby yang celingukan mencari sopir pribadinya yang belum datang.


"Oh iya tante."


Tanpa basa basi Ibu mengajak Gaby masuk ke dalam mobil.


"Dave, kamu yang nyetir. Lily, kamu duduk di depan bersama Dave ya? Ibu ingin ngobrol sebentar sama Gaby."


Terima saja takdir ini Lily..


Terima saja..


Itulah kata-kata yang ada di benakku saat ini.


"Dan, gue duluan."


Kak Daniel mengangguk kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pulang.


"Gaby, kamu itu selain cantik, juga sangat lembut. Ibu beruntung memiliki calon mantu seperti kamu."


Ciiittttt...


Kak Dave mendadak mengerem mobilnya.


"Dave, hati-hati donk nyetirnya."


Aku mengetahui apa yang membuatnya terkejut.


Tanpa ku sadari Kak Dave mengetahui kalau aku menertawainya.


Kak Dave melirik ke arahku dan memberikan tatapan sinis.

__ADS_1


Aku menjulurkan lidahku.


Kak Dave terlihat makin kesal.


__ADS_2