
Mobil ayah Haris berhenti di depan gerbang rumahnya, dia merasa rindu dengan isteri dan anaknya. Tetapi rasa amarah itu, membuat ayah Haris gengsi. Ia mengurungkan niat untuk masuk ke halaman rumahnya sendiri.
"Apa aku harus masuk? hati ini belum terima jika anak-anakku memiliki hubungan semacam itu, apa aku egois ya Tuhan?" Ayah Haris bimbang, dia belum mampu menerima kenyataan jika kedua anaknya saling mencintai.
Saat merasa gelisah, ketukan di kaca jendela mobilnya membuat ayah Haris terkejut. Sontak dia membuka kaca jendela itu, tak di sangka yang mengetuk adalah sang isteri sendiri, ibu Nawang.
"Ayah? apa kabar?" Ibu Nawang menatap wajah sang suami dengan tatapan sendu.
"Aku baik, sudahlah...aku hanya terjebak berhenti di depan rumah ini, tolong ibu minggir," Ayah Haris menutupi rasa malunya dengan menghindari isterinya sendiri. Namun ibu Nawang tetap berada di samping mobil itu tanpa bergerak sedikitpun.
"Mbak Ambar akan sedih melihatmu seperti ini," Ibu Nawang mencoba menahan kepergian sang suami.
"Jangan ibu sebut nama dia, besok kita ke pengadilan. Kita urus perceraian," Ayah Haris benar-benar yakin dengan keputusannya.
"Oh jadi ini yang ayah mau? perpisahan? ibu tidak akan berpisah, ibu akan tetap mempertahankan hubungan ini," Ibu Nawang tetap keras kepala ingin bersama Ayah Haris.
"Jika ibu ingin kita bersama, jauhkan Dave dengan Lily segera," pinta ayah Haris tegas.
"Lebih baik ayah masuk ke dalam, kita bicarakan hal ini di dalam saja," ajak ibu Nawang.
Awalnya ayah Haris enggan menuruti ucapan sang isteri, tetapi karena apa yang di katakan ibu Nawang benar, dia bersedia masuk dan berbicara.
Keduanya kini masuk ke halaman rumah mereka dan segera memarkir mobil masing-masing di sana. Mereka turun dari mobil secara bersamaan, tapi alangkah terkejutnya mereka saat melihat Lily terbaring lemah di depan pintu utama.
"Astaga! Lily!" Ayah Haris berlari ke arah pintu utama dan langsung menggendong tubuh mungilnya menuju ruang keluarga. Ayah Haris terlihat sangat cemas.
"Ibu? kenapa anak kita?" Raut wajah ayah Haris sangat terlihat jika dia takut kehilangan Lily.
Ibu Nawang mengambil minyak kayu putih di kotak obat, mengoleskan di jarinya kemudian meletakkan jari itu di hidung sang putri.
Untuk beberapa saat tubuh Lily menggeliat, dia mengigau,"Maafin gue, ini bukan kemauan gue!" Lily masih berada di alam bawah sadarnya.
__ADS_1
"Lily, ini ayah nak, bangunlah! maafkan ayah," Saat mendengar suara ayah Haris, justru Lily kembali tak sadarkan diri.
"Ibu, anak kita kenapa?" tanya ayah Haris.
"Dia terlalu rindu dengan ayah," jawab ibu Nawang pelan.
"Astaga! apa yang telah aku lakukan, hingga membuat anakku terluka," Ayah Haris menyesal, tidak seharusnya dia kabur.
Ayah Haris mengendong tubuh Lily, ia berlari menuju halaman rumahnya, ia segera membuka pintu mobilnya dan memasukan Lily ke dalam mobilnya. Ibu Nawang yang sedari tadi mengekor langkah sang suami, kemudian ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Lily berada di pangkuan sang ibu di jok mobil belakang.
Ayah segera menyalakan mesin mobilnya, ia akan membawa Lily pergi ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, ayah Haris mengutarakan isi hatinya selama ini.
"Selama ini, ayah berada di pabrik, ayah masih belum terima jika Dave mencintai adiknya, meskipun mereka saudara tiri, bukan berarti mereka menjalin hubungan yang tidak seharusnya," Isi hati ayah yang kecewa dengan Dave dan Lily.
"Ayah, mereka masih anak-anak, usia mereka belum genap dua puluh tahun, biarkan mereka menjalani harinya seperti biasanya. Toh Dave dan Lily kini tidak satu sekolah lagi, jangan terlalu kaku. Jika mereka memang jodoh, kita mau bagaimana lagi?" ucap sang ibu menjelaskan.
"Ibu ada benarnya, tetapi ayah takut mereka salah pergaulan," Ayah Haris belum juga membuka hatinya untuk merestui hubungan Dave dan Lily.
"Baiklah, ayah akan coba menerima keadaan ini, yang penting Lily sembuh," Ayah Haris mulai membuka hatinya, meskipun di dalam hati masih sangat berat.
'Ibu berhasil Ly, Dave," batin sang ibu sembari tersenyum.
Setengah jam kemudian, mereka berdua sampai di rumah sakit yang terdekat dari rumah. Ayah mengendong Lily dan meminta bantuan kepada seorang suster, kemudian Lily di masukkan ke UGD.
Ayah Haris dan ibu Nawang menunggu di depan ruang UGD. Setelah lima belas menit kemudian, Lily keluar dari ruangan itu, ia segera di pindahkan ke ruang rawat inap.
Ibu dan ayah Lily mengekor langkah dokter yang bersama seorang suster menuju ruang rawat inap, sedangkan Lily berada di atas brankar.
Saat kedua orang tua Lily akan masuk ke dalam, suster mencegahnya, dia mengatakan jika hanya satu orang saja yang boleh masuk.
"Saya yang akan masuk," ucap ayah Haris yang langsung mengikuti langkah suster dan dokter.
__ADS_1
Dia luar ruangan, ibu Nawang menelepon Dave, cukup lama Dave menjawab telepon sang ibu, dua menit kemudian, panggilan itu di jawab oleh Dave.
"Maaf bu, Dave baru selesai latihan sepak bola, ada apa? tumben menelepon?" tanya Dave heran.
"Adikmu sakit Dave," ucap sang ibu memberikan kabar.
"Lily? ada apa dengan Lily? bukannya dia baik-baik saja kemarin?" Dave mulai khawatir.
"Tenanglah Dave, Lily baik-baik saja, dokter sedang memeriksanya," ucap ibu menenangkan anak laki-lakinya.
"Syukurlah kalau begitu, ibu sendirian di sana? apa perlu Dave menemani?" jawab Dave, nada suaranya sudah tidak panik lagi.
"Ada kejutan Dave," tukas ibu Nawang dengan senyuman manisnya.
"Apa itu bu?" tanya Dave penasaran.
"Ayahmu, ibu bersama ayah di rumah sakit, dia sepertinya sudah terpengaruh dengan kata-kata ibu. Kau dan Lily aman untuk sementara waktu," jelas sang ibu memberikan kabar gembira.
"Apakah itu benar ibu? syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Bagaimana ayah bisa tahu jika Lily sakit? apa dia pulang?" tanya Dave heran.
"Ceritanya panjang Dave, nanti ibu jelaskan. Kamu beristirahatlah, pasti Dave lelah bukan?" saran sang ibu.
"Hm, tidak ibu, aku ingin tahu kabar terbaru dari kondisi Lily," Dave masih merasa cemas dengan kondisi adiknya.
"Kamu tenanglah sayang, adikmu baik-baik saja," Ibu Nawang kembali mengulang ucapannya agar Dave merasa tenang.
"Baiklah, salam untuk ayah dan adik," Dave mengalah, dia patuh dengan ucapan ibunya.
"Iya, nanti ibu sampaikan," jawab ibu Nawang, sang ibu menutup panggilan itu.
Pandangannya tertuju kepada ayah Haris yang menunggu dengan setia Lily saat sang anak di periksa oleh dokter.
__ADS_1
"Semoga kebersamaan ini akan terjalin selamanya," ucap ibu Nawang, ia tersenyum bahagia.