MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 34


__ADS_3

Huft.. lelah ya pura-pura bahagia itu?


Menjadi orang sok tegar dan kuat.


Padahal hati rapuh dan tersayat.


Seminggu sudah Kak Dave pergi tanpa pesan.


Tidak ada yang tahu dimana Kak Dave.


Apa perlu pergi, untuk menjauhi ku?


Begitu benci kah dia padaku?


Nomor ponsel nya tidak aktif, teman-temannya pun tidak tahu dia dimana.


Aku beranikan diri bertanya pada Ibu, karena terakhir ku lihat dia pergi bersamanya.


Setelah Kak Dave tiba-tiba menghilang, Ibu ku lebih sering tinggal di rumah.


Beliau sekarang sedang memasak makan malam.


Aku turun ke bawah untuk menyantap makan malam yang sudah Ibu siapkan.


"Ibu." Ucap ku sambil menatap punggung Ibu yang masih memakai celemek dan sedang menggoreng ikan.


"Ya, ada apa Nak?" Jawab Ibu yang masih sibuk dengan masakannya.


"Maaf Ibu, aku ingin bicara." Ucap ku.


"Iya, sebentar. Ibu tiriskan dulu ikannya." Jawab Ibu ku.


Setelah selesai dengan acara memasaknya, ibu mencuci kedua tangan nya dan melepaskan celemek kemudian duduk bersamaku.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Ibu ku.


"Kak Dave dimana?"


Ibu kemudian memalingkan wajahnya , beliau beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil ikan yang tadi sudah di goreng.


"Untuk apa kamu menanyakan kakak mu?" Ucap Ibu.


Ibuku mengambilkan piring untuk ku.


Kemudian mengisi piring itu dengan nasi, ikan, krupuk dan sambal terasi.


"Makan dulu, setelah itu masuk kamar. Besok kamu sekolah." Ucap Ibu yang seakan tidak menyukai jika aku bertanya tentang Kak Dave.


"Aku akan makan jika Ibu menjawab pertanyaan ku." Ucap ku.


"Kakakmu baik-baik saja, dia hanya sedang fokus untuk karier sepakbola nya. Dia mendapat kesempatan pergi ke Eropa untuk menjadi pemain bola profesional." Jawab Ibu ku.


"Apa itu benar? mengapa dia tidak pamit kepada ku dulu?" Tanya ku penasaran.


"Dia bilang, tidak ingin membuat kamu sedih. Toh kalian juga besok bisa bertemu lagi." Ucap Ibu.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Ibu menyuruh ku untuk segera tidur.


Tapi aku mengatakan ingin bicara dengan Kak Dave lewat sambungan telefon.


Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.


"Besok pagi saja, Dave kecapekan kalau jam segini. Kamu tidak akan membuat kakak mu terbebani bukan?" Ucap Ibu ku.


Aku menuruti kata Ibu.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai besok. Soal Kak Daniel, aku tidak ingin menyakitinya terlalu dalam. Tolong katakan padanya untuk berhenti mendekatiku." Ucap ku.


"Tidak usah terlalu memikirkan itu , Ibu tidak terlalu mempermasalahkannya. Fokus dengan sekolah mu saja, kamu harus mencontoh kakakmu." Jawab Ibu.


"Baik Ibu. Aku naik ke atas dulu ya, Bu?'" Ucapku.


"Oke. Good night sayang." Jawab Ibu.


"Good night too." Ucap ku.


* * *


Di kamar...


"Apa yang aku rindukan, Tuhan? dia bahkan pergi tanpa pesan. Untuk apa perasaan ini tetap ada meski dia tidak menginginkan aku berada di sisinya. Tapi entah mengapa, aku masih saja mau menunggu. Sial?!!! cinta yang ku miliki untuk nya sudah mendarah daging. Terlalu berat untuk melupakan."


Aku memutuskan untuk menarik selimut ku.


Berharap malam ini akan segera berakhir dan besok bisa segera berbicara dengan Kak Dave.


* * *


"Dave, besok adikmu akan menelfonmu. Kamu harus bilang kalau kamu sedang sekolah sepakbola. Jangan sampai dia tahu kalau kamu pindah sekolah." Ucap Ibu yang sedang berbicara dengan Kak Dave di sambungan telefon.


"Baik, terima kasih Ibu, sudah mengizinkan ku untuk mencintai nya, meski harus pergi dari sisinya." Jawab Kak Dave lirih.


"Jangan membuat Ibu menjadi orang yang paling jahat dan sadis. Ibu hanya ingin kalian tahu, Ibu peduli dengan masa depan kalian. Ayahmu juga tidak keberatan dengan apa yang Ibu lakukan. Ayahmu menyerahkan masalah anak-anak kepada ibu. Jadi, Dave harus mengerti niat baik Ibu." Ucap Ibu.


"Baik Bu, tolong jangan biarkan dia mendapat pria yang salah." Jawab Kak Dave.


"Itu urusan nanti, setelah pendidikan kalian selesai. Baru kita pikirkan lagi." Ucap Ibu.


" Dave istirahat dulu, besok jadwal Dave padat."Jawab Kak Dave.


"Oke, jaga kesehatan Dave. Makan yang teratur, istirahat yang cukup." Ucap Ibu menasehati Kak Dave.


"Belum pernah aku mendapat perhatian yang sebesar inI, Ibu yang terbaik." Jawab Kak Dave.


"Iya, aku memang Ibumu. Sudah tugas Ibu mengingatkan." Ucap Ibu.


"Oke, bye Ibu. Good night." Ucap Kak Dave.


"Night too." Jawab Ibu.


Kemudian beliau menutup sambungan telefonnya.

__ADS_1


"Jika saja Dave bukan kakak mu Ly, Ibu akan sangat bahagia memiliki calon menantu seperti dia." Gumam Ibu dalam hati.


Setelah mencuci piring dan merapikan meja makan, Ibu memutuskan untuk istirahat.


* * *


Keesokan paginya..


Ibu benar-benar menepati janjinya.


Dia menelfon Kak Dave untuk ku.


"Kak Dave, apa kabar?" Tanya ku.


"Aku baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?" Jawab Kak Dave dengan suara yang ceria.


"Ehm, Kak Dave sedang sekolah bola kah?" Tanya ku penasaran.


"Iya, sebelumnya aku minta maaf padamu karena membuatmu kesal. Untuk selanjutnya, fokus saja dengan sekolah dan cita-citamu." Jawab Kak Dave.


"Soal kita bagaimana?" Ucap ku bisik-bisik karena takut ketahuan Ibu.


"Fokus pada sekolah mu saja. Aku tutup telefonnya dulu. Jaga diri baik-baik." Jawab Kak Dave.


"Pasti. Kak Dave juga." Ucap ku.


"Sudah selesai telefonnya?" Tanya Ibu yang mengagetkanku.


Aku menyerahkan ponsel kepada Ibu.


"Kamu percayakan dengan Ibu? dia sedang fokus untuk kariernya. Kamu seharusnya mendukung jika kakakmu ingin meraih cita-citanya." Ucap Ibu.


"Iya, aku akan selalu mendukung Kak Dave. Sudah jam 06.45, Bu. Ayo kita berangkat, nanti aku telat." Jawab ku.


"Bukannya Daniel mau kesini? antar kamu berangkat sekolah?" Tanya Ibu heran.


"Tidak, aku sudah mengirim pesan WA padanya. Hari ini aku berangkat sekolah bersama Ibu saja." Jawab ku.


"Oke, kalau begitu. Kita segera berangkat."


* * *


Di dalam mobil...


"Ibu, sepulang sekolah, aku ingin ke makam Ayah. Aku rindu padanya." Ucapku.


"Ya nanti kita menjenguk Ayahmu." Jawab Ibu sambil fokus menyetir.


"Ibu, sebelum Kak Dave pergi, kami sempat bertengkar dan tidak berbicara satu sama lain. Saat aku tadi mendengar suaranya, aku sangat bahagia." Ucap ku pada Ibu ku dengan wajah yang berseri-seri.


"Hmmm, begitu kah?" Jawab Ibu.


"Iya, terima kasih telah mengizinkan ku bicara dengannya." Ucap ku lirih.


Ibu melihat raut wajah ku yang berubah jadi sendu.

__ADS_1


"Dave, Dave. Anak itu , memang harus jauh dari Lily untuk sementara waktu. Baru seminggu saja sudah membuat anak Ibu menjadi galau? apa lagi berbulan-bulan? bahkan bertahun-tahun? Untuk selanjutnya pikirkan nanti saja. Yang terpenting pendidikan kalian harus lancar tanpa kendala." Gumam Ibu dalam hati.


__ADS_2