
"Dave, kamu harus sering-sering bawa Gaby ke rumah. Ibu ingin kenal lebih dekat."
Kak Dave yang sedari tadi menahan kesal, hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia menganggap perkataan Ibu hanya basa-basi. Tapi karena ada aku di mobil, jadi Kak Dave berakting.
"Baik Bu, nanti kita masak bareng di rumah. Ibu akan tahu kualitas "calon mantu Ibu" ini jika memasak."
Mata Kak Dave melotot kearah ku, seperti menegaskan kalau Gaby yang terbaik dalam hal memasak.
"Benarkah? Lily, kamu harus contoh calon kakak ipar mu ini. Kamu harus belajar masak darinya, Dave saja bisa masak kok. Kamu mah kebanyakan belajar."
Seketika tawa Kak Dave pecah, sedangkan Gaby hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari Ibuku.
"Siapa bilang aku tidak bisa memasak? aku bisa kok."
Mulut ku mengerucut mendengar ejekan Ibu.
Kak Dave yang sedari tadi hanya tertawa, membuatku semakin kesal, aku tidak sabar untuk membungkam mulutnya.
"Kak Gaby calon kakak iparku, besok kamu sibuk gak? aku mau belajar masak dari mu."
"Uhukk, .. uhhukk."
Suara batuk Kak Dave, menyiratkan ketidaksetujuan, tapi aku meminta perlindungan dari Ibu.
Ibu mengizinkan Gaby main ke rumah besok sepulang sekolah.
"Hahahaha, rasakan. Siapa suruh jadi kakak nyebelin."
Tawa ku dalam hati, Kak Dave memicingkan matanya ke arahku.
Aku menatap lurus ke depan, sambil sesekali tersenyum karena reaksi Kak Dave yang begitu menggemaskan karena tidak berdaya menolak permintaan Ibu.
Pujian demi pujian Ibu lontarkan kepada Gaby.
Gaby pun menjadi besar kepala.
"Dari tadi cuma bahas Gaby dan Dave saja. Ibu ingin tahu seberapa jauh hubunganmu dengan Daniel?"
Hal yang membuat ku muak akhirnya terdengar, padahal aku sudah susah payah tidak membahas bahkan menyebut namanya.
"Ouwhh, itu.. ya itu, Ehm gini... ya."
Aku jadi kelabakan mendengar pertanyaan Ibu.
Sembari menyusun kata yang tepat, aku melibatkan Kak Dave.
Kak Dave yang tidak mau bekerja sama, malah semakin membuatku terpojok.
"Jiah, cuma denger namanya saja udah gugup. Apa lagi dekat dengan nya. Pasti dia mati kutu, terpesona dengan ketampanan Daniel."
Ibu senyum-senyum sendiri mendengar perkataan Kak Dave.
"Wah Dave memang kakak yang baik. Mendukung hubungan Lily dan Daniel."
Si Gaby ikutan nyeletuk, menambah panas otak dan hati ini.
Suaaabarr...
Lily...
suabaar...
Sebentar lagi sampai rumah kok ?!!
* * *
Kak Dave mengantar Gaby sampai rumahnya karena sejalan dengan rumah kami.
Gaby sok akrab dengan Ibuku.
Dia berpamitan sambil mencium tangannya.
Saat Gaby akan membuka pintu mobil, Kak Dave sudah sigap membukakan pintu untuk Gaby.
Cihh..
Seperti princess saja Kak Dave memperlakukan Gaby.
Setelah melihat pemandangan yang bikin mual, Kak Dave masuk ke dalam mobil dan meneruskan perjalanan ke rumah.
__ADS_1
"Napa kamu? cemburu?"
Kak Dave memandangku yang sedari tadi terlihat kesal.
Aku memalingkan wajah ke arah jendela.
Ibu sedang sibuk dengan ponselnya, jadi Kak Dave bebas menggodaku.
"Dave, anterin Ibu ke butik dulu ya? ada konsumen yang komplain, karyawan Ibu tidak bisa mengatasinya."
Kak Dave mengangguk.
Beberapa menit kemudian...
Kak Dave memberhentikan mobilnya di depan "Nawang Butik".
Beliau terlihat terburu-buru keluar dari mobil.
"Kalian di sini saja. Jangan keluar dari mobil sebelum Ibu kembali." Perintah Ibu.
Kami mengangguk.
Setelah itu, Ibu masuk ke dalam butiknya.
"Mana Bos kalian? gue udah bayar mahal pesan baju di butik ini, bahkan sebelum bajunya jadi. Gue cash loe bayarnya, gak nyicil. Tapi kenyataannya apa? sudah 3 minggu menunggu, masih belum jadi. Loe semua bisa pada kerja gak sih?"
Konsumen itu memaki 4 orang karyawan Ibu ku yang berdiri berjejer dengan kepala menunduk.
Para karyawan merasa ketakutan.
Saat melihat Ibu datang, konsumen itu menghampiri Ibuku.
"Jadi situ Bos nya?"
Sambil melotot, konsumen itu memaki Ibuku.
Ibuku tetap tenang sambil menjelaskan dan bernegosiasi dengan konsumen itu.
Konsumen itu membuat keributan dengan mengancam melapor ke polisi karena merasa di tipu.
Aku yang sedari tadi ada di mobil bersama Kak Dave, tiba-tiba mendengar ada keributan di dalam butik.
Karena khawatir, aku dan Kak Dave keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
Aku dan Kak Dave langsung berdiri di depan Ibu dan melindunginya.
Kami membantu ibu memberikan penjelasan dan mencari solusi, akan tetapi konsumen itu tidak perduli dengan negosiasi yang kami lakukan.
Di tengah keributan yang terjadi, tiba-tiba datanglah seorang pria yang gagah juga tampan. Sepertinya dia anggota keluarga konsumen tadi.
"Bibi, sudahlah. Tidak usah di perpanjang." Ucap pria itu lembut sambil menghampiri konsumen itu.
"Kak Arga? Arga Febriansyah?"
Pria yang gagah dan tampan itu menoleh ke arahku.
"Kamu Lily kan? yang waktu SMP dulu gak mau sama aku itu? yang cuma pegang buku diary kemana-kemana? benar gak?"
Sial?!!!
Mengapa aku harus bertemu dia di sini.
Tapi penampilannya yang sekarang jauh berbeda.
Dia semakin menawan dengan stelan jas hitamnya.
Dia adalah Arga Febriansyah, tetanggaku di rumah yang lama.
Waktu itu aku masih SMP kelas 2, dia baru pindah ke Jakarta karena Ayahnya yang seorang Direktur di sebuah perusahaan harus di pindah tugaskan dari Medan ke Jakarta.
Saat itu, dia adalah seorang mahasiswa tingkat akhir.
Kak Arga selalu saja mengikuti ku.
Dia bahkan mengungkapkan perasaannya padaku.
Kata andalannya adalah :
Lily gadis manisku.
Lily kesayanganku.
__ADS_1
Lily ku yang menggemaskan.
Dan rayuan tidak bermutu lainnya.
Bagaimana bisa, baru kenal langsung bilang suka?
Hal yang tidak mungkin.
Setelah itu, dia terus saja menggangguku.
Mengirim bunga, coklat, atau apapun yang di berikan seorang pria kepada gadis yang di sukainya.
Selama tiga tahun, Kak Arga tiada henti mengejarku.
Ibu juga pernah bercanda padaku, beliau meminta ku menerima cintanya.
Tapi karena hanya Kak Dave yang ku suka, cinta Kak Arga lagi-lagi aku tolak.
Apalagi waktu itu aku masih bocil.
Setelah Ibuku dan Om Haris menikah, kami tidak pernah bertemu lagi.
Waktu pernikahan Ibuku, Kak Arga juga tidak datang.
Ibu mengatakan kalau Kak Arga dan keluarganya kembali ke Medan.
Tidak di sangka, takdir mempertemukan kami kembali.
"Woy, ngeliatnya biasa aja?!"
Kak Dave terlihat sangat kesal saat Kak Arga menatapku.
"Oh iya, maaf. Lily terlalu manis untuk tidak di pandang."
Oh My God?!!!
Rayuannya itu , masih maut saja. Aku kira setelah sekian lama tidak bertemu, dia semakin cool dan tidak berani merayuku.
Ternyata aku salah, dia masih Kak Arga yang dulu.
"Saya sebagai keponakan bibi ini, meminta maaf atas keributan yang terjadi. So..."
Belum selesai bicara, bibi Kak Arga malah nyolot.
"Arga, loe itu terlalu baik. Dan panggil aku tante, tante Helsy. Masak iya, masih muda di bilang bibi. Kampungan banget."
Kata-kata tante Helsy memecah suasana yang sedari tadi tegang dan kacau.
Semua orang tidak tahan untuk tidak tersenyum karenanya.
Wanita dengan paras yang masih muda itu ternyata seorang bibi atau tantenya Kak Arga.
Setelah negoisasi yang panjang, tante Helsy setuju untuk menerima ganti rugi berupa uang dan tidak jadi melaporkan Ibuku ke polisi.
Merasa urusannya sudah selesai, tante Helsy mengajak Kak Arga pulang.
Tapi dia masih ingin tinggal, tante Helsy mengatakan akan menunggunya di mobil.
Kak Arga mengangguk.
Kak Arga kemudian menghampiri ku, dia tidak melepas pandangan matanya padaku.
Kak Dave yang menyadarinya, tiba-tiba berdiri di depanku.
"Awas ada buaya yang ingin menerkammu, aku akan melindungimu dari buaya tengil itu."
Aku menahan tawa.
Kak Dave, Kak Dave.
Meski dia cuek dan judes akhir-akhir ini, tapi kalau ada pria yang menatap ku, dia akan seperti ini.
Jadi bodyguard dadakan.
Kak Arga kemudian berbicara dengan Ibu, ternyata mereka masih saja akrab.
"Kalau Lily belum punya pacar, aku mau sama dia."
Hahahaha, kurang ajar. Kak Daniel saja lah orang yang selalu mengikuti ku, jangan Kak Arga.
Pria yang tidak kenal menyerah itu akan selalu berada di sisiku setiap saat.
__ADS_1
Hal yang sangat tidak aku inginkan.
Ibu hanya tersenyum menanggapi perkataan Kak Arga.